<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826</id><updated>2012-01-26T18:58:38.646+09:00</updated><category term='Kesehatan'/><category term='Kisah Muslim'/><category term='Pantun'/><category term='Muslimah'/><category term='Aqidah'/><category term='Fiqih'/><category term='Akhlak'/><category term='Petuah'/><category term='Coretanku'/><category term='Fatwa'/><category term='Keluarga'/><category term='Mobile Phone'/><category term='Halal Haram'/><category term='Umum'/><category term='Aplikasi Hp'/><category term='Adab'/><category term='Jejak Peradaban Islam'/><category term='Sudut Hati'/><title type='text'>Blognya أم فاطمة</title><subtitle type='html'>بسم الله ... mencoba tegar dalam keterasingan di tengah derasnya fitnah zaman...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>52</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-5056631005337275760</id><published>2011-12-14T12:06:00.000+09:00</published><updated>2011-12-14T12:06:28.575+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mobile Phone'/><title type='text'>Cari Tahu Nomormu</title><content type='html'>Kamu nggak ingat no.hp mu? Lalu tiba-tiba ada sesuatu hal yang mengharuskan kamu untuk memberikan no. hp mu. Duh, gimana ya? Padahal pembungkus kartu perdananya dah hilang, trus nggak pernah juga disimpan di ponsel atau ditulis di catatan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haiii... jangan takut teman, kalau dah baca tulisan dibawah ini, insyaAllah kamu akan menemukan jalan yang terang untuk mendapatkan no.mu kembali...hehe, yukss baca.&lt;br /&gt;(note: solusi ini untuk pengguna Telkomsel, Indosat, XL, Axis, dan Tri)&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cari Tahu Nomormu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pengguna telepon seluler, apakah Anda ingat nomor sendiri.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita sangat perlu mengingat nomor telepon sendiri. Namun ada kalanya kita lupa akan akan itu. Apalagi saat nomor tersebut habis pulsa dan ingin isi ulang. Nah, kalau sudah begitu apa yang harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa cara yang bisa dilakukan jika Anda ingin tahu nomor telepon sendiri. Berikut adalah solusinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operator Telkomsel : Ketik *808# lalu tekan Ok/Yes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operator XL            : Ketik *123*22*1*1*# lalu tekan Ok/Yes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operator Indosat     : Ketik *777*8# lalu tekan Ok/Yes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operator Axis          : Ketik *2# lalu tekan Ok/Yes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operator Tri            : Ketik *998# lalu tekan Ok/Yes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada salahnya Anda simpan solusi tersebut. Memungkinkan jika suatu saat membutuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://www.modemberry.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=97:cari-tahu-nomormu&amp;amp;catid=3:news&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-5056631005337275760?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/5056631005337275760/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/12/cari-tahu-nomormu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/5056631005337275760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/5056631005337275760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/12/cari-tahu-nomormu.html' title='Cari Tahu Nomormu'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-4585166898038949221</id><published>2011-12-13T16:21:00.002+09:00</published><updated>2011-12-13T16:25:53.236+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mobile Phone'/><title type='text'>Seribu Pernak Pernik Ponsel Android</title><content type='html'>Bismillah, ini pertama kalinya aku menulis untuk sebuah kontes SEO bertemakan android tepatnya Kontes SEO yang Bertemakan Android Softmarket yang diselenggarakan oleh pemilik situs &lt;a href="http://www.android-softmarket.com/"&gt;http://www.android-softmarket.com/&lt;/a&gt;. Situs ini merupakan situs penyedia &lt;a href="http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/12/seribu-pernak-pernik-ponsel-android.html"&gt;Seribu Pernak Pernik Ponsel Android&lt;/a&gt;, baik itu aplikasi, themes, games, dll. yang berhubungan dengan android. Jadi, bagi kamu pecinta android, disarankan deh berkunjung ke situs ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Link kontes &lt;a href="http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/12/seribu-pernak-pernik-ponsel-android.html"&gt;Seribu Pernak Pernik Ponsel Android&lt;/a&gt; , tidak sengaja aku dapatkan ketika browsing tentang kelebihan android dibandingkan dengan Blackberry, dan pada akhirnya aku menemukan blog http://waloetzgoblogg.blogspot.com, yang mana pemiliknya sedang mengikuti kontes&lt;a href="http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/12/seribu-pernak-pernik-ponsel-android.html"&gt; Seribu Pernak Pernik Ponsel Android&lt;/a&gt;  juga. Karena aku seorang ibu rumah tangga pengguna android yang cukup menyayangi gadget android ini, maka tergerak pula hatiku untuk mengikuti kontes &lt;a href="http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/12/seribu-pernak-pernik-ponsel-android.html"&gt;Seribu Pernak Pernik Ponsel Android&lt;/a&gt;, harapannya sih bisa menang (ya iyalaaah… hehe), tapi kalaupun tak menang, tak jadi masalah, karena aku bisa menuliskan sesuatu tentang android, OS yang bikin aku jatuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.review1st.com/wp-content/uploads/2011/02/samsung-galaxy-mini-s5570.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="173" src="http://www.review1st.com/wp-content/uploads/2011/02/samsung-galaxy-mini-s5570.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Hp android pertamaku&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Ketika i-phone mulai memasuki pasar Indonesia, aku hanya bisa menghayal saja tentang gadget itu, karena harganya yang jelas-jelas kemahalan untuk ukuran kantong suamiku. Namun ketika android merebak, aku mulai penasaran dengan sistem operasi yang satu ini. Ketika itu yang aku tahu android adalah os pada handphone yang koneksi internetnya bisa dibilang super ngebut (Hsdpa 7,2 Mbps), touchscreen dengan tampilan yang ciamik. Belum lagi varian harganya ternyata ada yang level murah meriah. Sampai akhirnya tiba saatnya aku memiliki gadget itu, alhamdulillah suami memberi aku hadiah  sebuah hp android, samsung GT-S5570 a.k.a Galaxy Mini (sekarang aku dah ganti galaxy Young,&lt;a href="http://bergantihari.wordpress.com/2011/10/14/welcome-back-my-mini/"&gt; karena galaxy miniku akhirnya tak bisa lagi kupertahankan&lt;/a&gt;). Wuaah… ternyata android itu tidak seperti yang kubayangkan, yup tidak sesederhana yang kuimpikan, android memberi sejuta pesona di dalamnya, bahkan ketika kamu menjelajah setiap sudut hapemu. Jadi pengen lengket terus kayak prangko^^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQXVaaHy4o2_ri1HtiheeHCtD4WiQ6RQoU_bvkzb-xxxTgJKf_aIg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="296" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQXVaaHy4o2_ri1HtiheeHCtD4WiQ6RQoU_bvkzb-xxxTgJKf_aIg" width="170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pengganti Galaxy Miniku&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi ketika mencoba aplikasi-aplikasi di dalamnya. Apa yang engkau ragukan dari gadget androidmu? dengan banyaknya aplikasi gratis yang siap diunduh di market, nikmati setiap sensasi androidmu. Android memang tak punya bbm seperti di BB, tapi bagi ibu rumah tangga sepertiku, aku sudah cukup puas dengan keberadaan Whatsapp, G-Talk, ataupun YM dengan fasilitas voice messengernya yang membuatku bisa berbicara layaknya lagi menelpon dengan teman-temanku yang juga sedang aktif menggunakan YM mereka, baik via laptop/PC ataupun sesama user android yang sedang memanfaatkan aplikasi YM di hape mereka yang memiliki plug-in voice messenger. Mau tetap bisa chatting sama teman di BB? Tinggal undang aja mereka di WA, sapa di YM or gtalk juga boleh (kalau mereka mengaktifkan aplikasi-aplikasi tersebut di BB mereka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-FHskfie2tlc/Tubx_DYvoiI/AAAAAAAAAPQ/Jka8p-CUebE/s1600/shot_000010.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-FHskfie2tlc/Tubx_DYvoiI/AAAAAAAAAPQ/Jka8p-CUebE/s320/shot_000010.png" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Group percakapan di Whatsapp&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Iq4auBIqeXI/Tubx-17dhCI/AAAAAAAAAPI/ozF5TiXDXUk/s1600/shot_000012.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-Iq4auBIqeXI/Tubx-17dhCI/AAAAAAAAAPI/ozF5TiXDXUk/s320/shot_000012.png" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Aplikasi YM dg plug-in Voice Messenger&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seorang muslimah dan aku selalu senang jika hapeku bisa menuliskan karakter arab, dengan OS android yang sudah gingerbread, aku gembira sekali ketika menemukan aplikasi keyboard di market yang sudah support multilingual termasuk bahasa arab di dalamnya, sehingga aku dengan mudah mengetikkan bahasa arabnya untuk setiap istilah/kata yag berbahasa arab, seperti assalamu’alaikum, alhamdulillah dll. Bahkan aku pun bisa ber-Alay ria (berjiwa muda …teteup ^^) dengan memanfaatkan karakter emoojinya, juga support autotext walaupun masih beta. Nama aplikasi ini adalah Multiling Keyboard, buatan Honso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-TwZTRmBLzRU/Tub3IKNEQEI/AAAAAAAAAPg/KuSbeV9gu3w/s320/shot_000005.png" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="240" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Huruf arabnya tetap nyambung&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-m2BCkHwZkC4/Tub3IaYB3VI/AAAAAAAAAP0/eOdAg8f0b8E/s1600/shot_000009.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-m2BCkHwZkC4/Tub3IaYB3VI/AAAAAAAAAP0/eOdAg8f0b8E/s320/shot_000009.png" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-OoGTZwDWR8M/Tub3IL6At-I/AAAAAAAAAPo/QrfL_p0ci44/s1600/shot_000008.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-OoGTZwDWR8M/Tub3IL6At-I/AAAAAAAAAPo/QrfL_p0ci44/s320/shot_000008.png" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan android, Facebook-an juga makin menyenangkan, push e-mail dari g-mail makin lancar. Jejaring sosial di dunia maya menjadi lebih berwarna. User Interface-nya? Jangan diragukan, ish..ish..ish benar-benar memanjakan mata, kamu bebas mendisain homescreenmu sesuka hati, apa yang ingin kamu letakkan di atas, bawah, samping kanan-kiri, terserah kamu. Widgetnya juga cantiik, ditambah lagi efek transisinya ada beberapa pilihan…duh duh duh semakin ingin berlama-lama dengan hp ini, hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ILy6kjLq7CU/Tub5W2D4wNI/AAAAAAAAAQc/HHGInZKywxM/s1600/screenshot_000001.bmp" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-ILy6kjLq7CU/Tub5W2D4wNI/AAAAAAAAAQc/HHGInZKywxM/s320/screenshot_000001.bmp" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tampilan homscreen landscape dengan Go Launcher&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3oXG5AKCVZw/Tub5WeviHFI/AAAAAAAAAQQ/f3qTMfiwi10/s1600/shot_000001.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-3oXG5AKCVZw/Tub5WeviHFI/AAAAAAAAAQQ/f3qTMfiwi10/s320/shot_000001.png" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tampilan homescreen portrait&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-msmR3heh_5E/Tub5Wd0a1PI/AAAAAAAAAQE/j7gb_Z9yrO8/s1600/shot_000014.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-msmR3heh_5E/Tub5Wd0a1PI/AAAAAAAAAQE/j7gb_Z9yrO8/s320/shot_000014.png" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Facebook for Android&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Dan satu lagi hebatnya android, kamu bisa bikin warnet dadakan. Kok bisa? bisa doonk, android punya fasilitas hotspot wi-fi portable, tinggal kamu aktifin, bebas deh perangkat yang mendeteksi sinyal wi-fi dari androidmu untuk selancar ke dumay, asyik ga tuh? baik hati banget ya os ini (tergantung empunya siih…hehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xaZ1M10dRC8/Tub7b_QnciI/AAAAAAAAAQo/14yYCgAk3KQ/s1600/shot_000003.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-xaZ1M10dRC8/Tub7b_QnciI/AAAAAAAAAQo/14yYCgAk3KQ/s320/shot_000003.png" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak bisa cerita banyak lagi tentang hp android, terlalu banyak untuk diceritakan dan tanganku sudah nggak sanggup ngetik. Cuma bisa bilang, silahkan coba dan rasakan sensasinya. Jangan putus asa untuk ngetik di touch screen si andro, bisa karena biasa, tadinya aku juga sempat stress setiap ngetik selalu error dan kadang langsung ke-enter, tapi setelah berjalannya waktu, alhamdulillah mulai semakin lancar. Jadi jangan ragu jatuhkan pilihanmu ke android, os yang insyaAllah bisa dimiliki oleh kalangan mid-end, bukan hanya mereka dari kalangan high-end.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya teman… terimakasih dah berkenan mampir di blog aku, dan membaca postingan seribu pernak pernik ponsel android ini, walaupun nggak kutulis semua pernak-pernikya sejumlah seribu  (weksss… jari-jariku bisa keriting). Dan karena ini kontes  SEO pertama yang aku ikuti, jadi ikut dukung yaa biar aku menang (didoain menang…  alhamdulillah). Dan bagi kamu yang juga tertarik dengan kontes Seribu Pernak Pernik Ponsel Android, buruan kunjungi dan daftarkan blog kamu di sini :&lt;a href="http://www.android-softmarket.com/"&gt; http://www.android-softmarket.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-4585166898038949221?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/12/seribu-pernak-pernik-ponsel-android.html' title='Seribu Pernak Pernik Ponsel Android'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/4585166898038949221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/12/seribu-pernak-pernik-ponsel-android.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/4585166898038949221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/4585166898038949221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/12/seribu-pernak-pernik-ponsel-android.html' title='Seribu Pernak Pernik Ponsel Android'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-FHskfie2tlc/Tubx_DYvoiI/AAAAAAAAAPQ/Jka8p-CUebE/s72-c/shot_000010.png' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total><georss:featurename>Ternate, Indonesia</georss:featurename><georss:point>0.788068 127.37715600000001</georss:point><georss:box>-39.388133499999995 67.61153100000001 40.9642695 -172.857219</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-5517820736381793887</id><published>2011-10-30T09:03:00.000+09:00</published><updated>2011-10-30T09:03:43.239+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlak'/><title type='text'>Orang Cerdas Tidak Melewatkan Kesempatan Emas Di Bulan Dzulhijjah</title><content type='html'>Para pembaca…semoga Anda selalu dalam keadaan sehat, penuh iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk tingkat kejeniusan yang sangat tinggi adalah mengenal kesempatan-kesempatan emas, waktu-waktu berharga, keadaan-keadaan penting yang disebutkan di dalam syariat Islam berdasarkan Al Quran dan hadits shahih, dan tidak membiarkan kesempatan, waktu dan keadaan tersebut terbuang percuma tanpa diisi dengan amal shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk di dalamnya &lt;span style="color: red;"&gt;KESEMPATAN EMAS DI BULAN DZULHIJJAH!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Tiada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini”. yakni 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah, mereka (para shahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya)?”, beliau bersabda: “Dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya), kecuali seseorang yang berjuang dengan dirinya dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan apapun”. (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Tiada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan yang lebih ia cintai untuk beramal di dalamnya daripada 10 hari ini, maka perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya”. (HR. Ahmad dan di shahihkan oleh Al Mundziry dan Ahmad Syakir tetapi dilemahkan oleh Al Albani di dalam kitab Dha’ih At Targhib wa At Tarhib, 744)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Qatadah Al Anshari radhiyallahu ‘anhu berkata:&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Bahwa Rasulullah ditanya tentang puasa Hari Arafah: “Menghapuskan (dosa-dosa) setahun lalu dan setahun yang akan datang”. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Hadits-hadits di atas dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, seperti; Menunaikan haji dan umrah, berpuasa, berkurban, bertakbir, bertahmid dan bertasbih serta bertahlil, serta amal shalih lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa dianggap cerdas orang yang menggunakan kesempatan emas ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Karena mungkin ini adalah ibadah terakhir dan ini pertanda baik dari Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ ». فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba maka dia akan memakainya”, beliau ditanya: “Bagaimana Allah akan memakainya, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal shalaih sebelum meninggal”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab shahih Al Jami’, no. 304)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Karena mungkin kesempatan ini tidak akan kembali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Karena mungkin jika kesempatan ini kembali kita tidak dalam keadaan sehat dan mampu beramal shalih.&lt;br /&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ: ” اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ , شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلُكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda menasehatinya: “Gunakanlah dengan baik lima perkara sebelum datang lima (yang lain): MASA MUDAMU SEBELUM DATANG MASA TUAMU, SEHATMU SEBELUM DATANG SAKITMU, KAYAMU SEBELUM DATANG FAKIRMU, WAKTU LUANGMU SEBELUM DATANG WAKTU SIBUKMU DAN HIDUPMU SEBELUM DATANG MATIMU”. (HR. Al Hakim, Al Baihaqi dan di shahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 1077)&lt;br /&gt;وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Abdullah bin Umar senantiasa mengucapkan: “Jika kamu masuk waktu sore maka janganlah menunggu waktu pagi dan jika kamu masuk waktu pagi maka janganlah menunggu waktu sore, pergunakanlah kesehatanmu untuk sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu”. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Karena sifat malas adalah sifatnya munafik.&lt;br /&gt;{إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS. An Nisa: 142)&lt;br /&gt;{وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan”. (QS. At Taubah:54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari perhatikan perkataan yang sangat luar biasa ini …terutama bagi pemalas beribadah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syeikh Al Mufassir Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy rahimahullah:&lt;br /&gt;والكسل لا يكون إلا من فقد الرغبة من قلوبهم، فلولا أن قلوبهم فارغة من الرغبة إلى الله وإلى ما عنده، عادمة للإيمان، لم يصدر منهم الكسل تفسير السعدي (ص: 210)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Sikap malas tidak akan ada kecuali bagi siapa yang telah kehilangan keinginan (terhadap kebaikan) dari hati-hati mereka, maka kalau seandainya hati-hati mereka tidak terlepas dari keinginan kepada Allah dan (keinginan) kepada apa yang ada di sisi-Nya (yang disediakan-Nya berupa nikmat) dan hilangnya iman, maka tidak akan keluar dari mereka sikap malas”. (Lihat tafsir As Sa’diy, hal. 210)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa 27 Dzulhijjah 1432H&lt;br /&gt;Dammam, KSA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Ahmad Zainuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.Moslemsunnah.Wordpress.com , dipublish ulang oleh www.muslim.or.id  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber di &lt;a href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/orang-cerdas-tidak-melewatkan-kesempatan-emas-di-bulan-dzulhijjah.html"&gt;sini  &lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-5517820736381793887?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/5517820736381793887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/10/orang-cerdas-tidak-melewatkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/5517820736381793887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/5517820736381793887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/10/orang-cerdas-tidak-melewatkan.html' title='Orang Cerdas Tidak Melewatkan Kesempatan Emas Di Bulan Dzulhijjah'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-5226660823935596978</id><published>2011-10-25T17:26:00.000+09:00</published><updated>2011-10-25T17:26:03.366+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muslimah'/><title type='text'>Sungguh, Wanita Hitam itu Lebih Baik</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="data:image/jpg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wBDAAkGBwgHBgkIBwgKCgkLDRYPDQwMDRsUFRAWIB0iIiAdHx8kKDQsJCYxJx8fLT0tMTU3Ojo6Iys/RD84QzQ5Ojf/2wBDAQoKCg0MDRoPDxo3JR8lNzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzf/wAARCACUAK8DASIAAhEBAxEB/8QAHAABAAIDAQEBAAAAAAAAAAAAAAUGAwQHAQII/8QAOxAAAQQCAAQDBgMFBwUAAAAAAQACAwQFEQYSITETQVEHFCIyYXEVI4EzQnKRoRYkQ1JisdE0U2Nzwf/EABQBAQAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAD/xAAUEQEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA/9oADAMBAAIRAxEAPwDhqIiAiIgIvQNnSnDwrk3YoZKCLxof3hH1c39EEEi+nMcCRo7H0W5jsTdyMvh1K73n11oINFegE9lcqfs9yDmCS9KyBh9Nk/7K2YT2eYRrWvvmWbqPnk5GlByIRvLS5rXEN7kDoF5yn0X6Vpw8MYei6p4NNtZw09mt7H3XLc9whh8hkZX8MZKFrS4nwJX6DfsUHO0U/mOD83h4hNbpuMB/xYvjb/MKB0g8REQEREBERAREQNIvSV4gIi9A2QB5oNijXdPMNdgepXV/Z7afFfjrxuBiP7RpGwVV8FiqljHmU87XsbsgDuV0v2U0K5pSWJK5PxEbI6oLS/F4AOc+TE1C89fkWB9vh+i0CGpXi/0tGuqi+KsvHjXvayT8s/XqFzI5K1kL24+eQE6Y0ILzxXxXUa3wq0MbC3z0Fz+/xNPI925Og+UArFxLRvVSwzBz3P7ho2QoL8Hy9j4osfZdv/QgyXM1ZsEh0h0fIKPisyRyl7XkO9ViuVbVN/Jbgkhcewe3SxRuJPUoLdhuMcjS1CZjJAejo5OoIVqqcNcM8WjxYGmlaPVzWHoT9ly1pVg4eyktKyyRjy0t9EFoy/skkDmnF34iNdWzHW/soC77MuI6w5mQRzj/AMb9lX7ibIyXuF479OR3ixEeJynsqLFxDkxp0duZp+jkEG3hHPum8IYuzzf+s6UXep2KFl9a3E6KZnzMcOoXZOBeNci3Jw1bW54pCAXO6kKp+2qga3F7rDWnw7LOdpIQc/REQEREBF635gp2HDxZGm2ai/UoHxRu80ECt/C0pL1+KKMb+LqtaxWmrPLJoywj1XSPZDjKE9h81ixE2cEcrHHqguGH4cbVwU8rmDfh77fRW7gSpFW4VbKG6LgSVsZJsceJnhaADyEDX2UVwllq0nCHgtlb40TnMkbvqCg5p7Qbj5bskUYLnE6DR3Km+CsC+rQZLaiDJJB3cPiAWDH5PERcXSvyLQ9+tROI2Gn1Vk4gysYhLoH9QOjh6II7JZfE4tzx4bJZR3Mg2o+hxDPfis35pfdcbVPK5zR1c4/uhQOPotz9+5YuTlleo0Pk13O+wWlkWGLgSGWuHNqvyEoePrzaG/0QbXE9KvxNKx1TKtAiB0yYeZ+qquV4WvYvFsyUro3V3S+Htp81pRyvkdqN5aB57W/JesPoGlJKZYHEOLSexHYoINr+31UhWJY4EghYnyxs2BG3p9FsSyf3Sq8gczh1IQXjh/IEYy1XczxInxu5mnsqbXkaZHho0OboFYuHHF+OuOLtcsJ1/JVTGu5naGy956BBd+DyBl6giG3F47Kxe3+lEcdjLY/asHKfsVJ+zLhb3cMyFpnNKerWnyWL2gtq5m9LVuSANBAYP+EHAkV+n4RrVJAHBz4/8yrvEOJjpOElc/lk616IINERAUljLT4ZA4OO1Gr7jeWEa9UE5lrbbGudo7KLq2X07TJ67zG9rtggpI8uGydrAxhkeQNoO/8AA2ddnMYIrEgMrWgfdUXiJ83DPEcz68pbBYJLgD5qt8J5yxhMnGQ4tbvRHqFP+0SdluSvZHyyaJQQbbHi3WzvOyXb+6vs2Rjfg3FzNPDVza1IIrERHy66K515PesBK0EaDT180FMx+esY7KSzRHcU35czD+83f+6sFKz+Hx+732unwGTJIaD8hP7wPkQTtUicGOeRvmHFWLhriNlOpJisnA2xj5TvWvijJ7kIN/M8KnBltlknvVGf4q846gtPkfQrQ9zFvbIAGT6+EE9HfRWqi61jKUkleL8U4fmP50XzOj32+2lE3cZE+M5HBWPeKY2XRuP5sPXsR5j6/RBTZQ/xTG5pa4HRae4W/kWluPrFvZp/+LdlEF6wySdxZIP8QDv91tZPh/JwYhsj4fGrfNHNEdgt+vogwcPZVkFWzE89ZIyxrfUnsrv7N+BhA1uSy4DB3HOdAD9VSeHZ8Zh3us5Dnks8uoxG3mDPqpx3EPDt9us5kc3Oz/st01v9NIOn8T8f4bA0pKuOmjmuBumeH1G1zXI5E5OhXtWJQLninoPQr4dxlwniWlmA4d536/bWVXrPE1nK2WmWvBG0HYEbdIOm4mBs2JMlgl+h1aqpxVhxkID+G6BB3yOPdW3guzHNjzXefnB6KqZwvxmQmh2QGnbevdBz6xRs1nOE0D28vclvT+a1lY8vl7FiCSN7/geNa0q4gIO6Igzn5Qt3h5rXZFjXjYJUc0EgrPjbL6lyOVp1ylB1jMcI1sjghPDWcyUN5mvHRctyVi9v3O7M94hPKGnyXXMFx5ivcIql22fFe3l0W71/JUHj2jGLnv1V7XxSdCWoKxLZfK2MPO+QdFbuGbfiwOjcdBzda9VSz3Utw7ZMNxo5yB6IMOcgMN+Qa7lRyt/FdI8jJgByyDYKqJGiQgm8HxTlsHHJHj7TmMk1zscAQVKx5qpkZ/H/AOgyHnLEPgf/ABBU5egkdkFkyrLUJMssDHA9fFgO2n7+i8xHEF7FuAq2Xhh+aM9Wn9Co7GZaao4MJ5oz3YexVldhaOaqGzQLY3gbcOZBJVI+FOJ2/wB6idjb7u8sB00n7LVyPsuyzAZcXbq3oD20/lcPuFVLdKehLsP7H5m+alMVxXkcfossSOA/dJ2EGK/wLxLShM02MlcwdzH8X9AoihC4WgHtILXaII0QV0OH2t3oIw0wh3KP8o6qLmv/ANp8kLhow15nfM6Juuf7oJvhOyIJ2DzPT7LZ9olF1qu29EPij+c/RbWGxccUYllIbrzXuc4ipUW8shbPC74ZGFw6j0CDj1x/O7p2Wqt3LOpuvTOxoe2q522Nf3A9FpICIiD7adfZfO0HYheINrH6bMHEq2RxtvVHQFu269OypsT+Qq38P2gGjmd8PmgqVqB9ad0UgIIWONxa4Fp0fIq38T45loCxXIJA308wqe4Fp0RooJ7IZ1+Qr16/hiNkLOX1LioScfGSOxXwDrsvou5m6d3QfC9a0vIa0bJ7BetaXHQX2SIz8J2fUIM0uNvQgOkqTtHqYzr+a+ql+5jg5sD3R8w04EKVxXGeYx0Hu7bHj1/KOYB2v1KnIuPaszR79h6bneZDR/wgpUtyxIfjeSSkNW3YcGxQyOJ9GlXtvFmDcN/h0DT/AABbLOLcaG/lVYm/YBBXsNwjasSNdZa4MPkrnFj4MRW5WtDXgfC7Sw47i6rLMIS1rA7p36KM4pv2K7ywuBhk6jfkgXuJXiq+KbbXtJG/VUq5d97fI6Z38IWG9almkPO4nXTe1qIPV4iICIiD0Hqh8l4iAtivZkhI5Sdfda6ILVjb7ZWeHM8dV9ZDCRWG88Duv0VWZI5jgWk9FIQ5iePQ5ygxWcXYgJ+HYC1HRuYdPaR+ino8zzD85oK+nz1LAPMwDaCAMmhpo0sakpqUTt+C5aslSRvZpKDXRfTmOb8zSF8oC9BI7FeIgzxWXxaLe47FbmQzNm9DHHLrTOgPmVGL7bG52tBA5SRs72vhSEMHw7csFmuYiXDfKg1kREBERAREQEREBERB7shfQkcOxXwiDM2w8OBWxHeIGndVoognIHVrQ5ZRyuWllKJqva5vVj+oK0g5wPQlZX2ppIhE93M0dt+SDAiIg9b3G1u127I9ForNFMWFBLOHLHzL4ZI1x5JOrSvl9mOSpvendtLSkm10BQfVyp4X5kZ3Gf6LTWx71Jylmxyla6AiIgIiICIiAiIgIiICIiAiIgIiICIiAvSd914iAiIgIiICIiAiIgIiICIiAiIgIiICIiAiIgIiICIiD//Z" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="148" src="data:image/jpg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wBDAAkGBwgHBgkIBwgKCgkLDRYPDQwMDRsUFRAWIB0iIiAdHx8kKDQsJCYxJx8fLT0tMTU3Ojo6Iys/RD84QzQ5Ojf/2wBDAQoKCg0MDRoPDxo3JR8lNzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzf/wAARCACUAK8DASIAAhEBAxEB/8QAHAABAAIDAQEBAAAAAAAAAAAAAAUGAwQHAQII/8QAOxAAAQQCAAQDBgMFBwUAAAAAAQACAwQFEQYSITETQVEHFCIyYXEVI4EzQnKRoRYkQ1JisdE0U2Nzwf/EABQBAQAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAD/xAAUEQEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA/9oADAMBAAIRAxEAPwDhqIiAiIgIvQNnSnDwrk3YoZKCLxof3hH1c39EEEi+nMcCRo7H0W5jsTdyMvh1K73n11oINFegE9lcqfs9yDmCS9KyBh9Nk/7K2YT2eYRrWvvmWbqPnk5GlByIRvLS5rXEN7kDoF5yn0X6Vpw8MYei6p4NNtZw09mt7H3XLc9whh8hkZX8MZKFrS4nwJX6DfsUHO0U/mOD83h4hNbpuMB/xYvjb/MKB0g8REQEREBERAREQNIvSV4gIi9A2QB5oNijXdPMNdgepXV/Z7afFfjrxuBiP7RpGwVV8FiqljHmU87XsbsgDuV0v2U0K5pSWJK5PxEbI6oLS/F4AOc+TE1C89fkWB9vh+i0CGpXi/0tGuqi+KsvHjXvayT8s/XqFzI5K1kL24+eQE6Y0ILzxXxXUa3wq0MbC3z0Fz+/xNPI925Og+UArFxLRvVSwzBz3P7ho2QoL8Hy9j4osfZdv/QgyXM1ZsEh0h0fIKPisyRyl7XkO9ViuVbVN/Jbgkhcewe3SxRuJPUoLdhuMcjS1CZjJAejo5OoIVqqcNcM8WjxYGmlaPVzWHoT9ly1pVg4eyktKyyRjy0t9EFoy/skkDmnF34iNdWzHW/soC77MuI6w5mQRzj/AMb9lX7ibIyXuF479OR3ixEeJynsqLFxDkxp0duZp+jkEG3hHPum8IYuzzf+s6UXep2KFl9a3E6KZnzMcOoXZOBeNci3Jw1bW54pCAXO6kKp+2qga3F7rDWnw7LOdpIQc/REQEREBF635gp2HDxZGm2ai/UoHxRu80ECt/C0pL1+KKMb+LqtaxWmrPLJoywj1XSPZDjKE9h81ixE2cEcrHHqguGH4cbVwU8rmDfh77fRW7gSpFW4VbKG6LgSVsZJsceJnhaADyEDX2UVwllq0nCHgtlb40TnMkbvqCg5p7Qbj5bskUYLnE6DR3Km+CsC+rQZLaiDJJB3cPiAWDH5PERcXSvyLQ9+tROI2Gn1Vk4gysYhLoH9QOjh6II7JZfE4tzx4bJZR3Mg2o+hxDPfis35pfdcbVPK5zR1c4/uhQOPotz9+5YuTlleo0Pk13O+wWlkWGLgSGWuHNqvyEoePrzaG/0QbXE9KvxNKx1TKtAiB0yYeZ+qquV4WvYvFsyUro3V3S+Htp81pRyvkdqN5aB57W/JesPoGlJKZYHEOLSexHYoINr+31UhWJY4EghYnyxs2BG3p9FsSyf3Sq8gczh1IQXjh/IEYy1XczxInxu5mnsqbXkaZHho0OboFYuHHF+OuOLtcsJ1/JVTGu5naGy956BBd+DyBl6giG3F47Kxe3+lEcdjLY/asHKfsVJ+zLhb3cMyFpnNKerWnyWL2gtq5m9LVuSANBAYP+EHAkV+n4RrVJAHBz4/8yrvEOJjpOElc/lk616IINERAUljLT4ZA4OO1Gr7jeWEa9UE5lrbbGudo7KLq2X07TJ67zG9rtggpI8uGydrAxhkeQNoO/8AA2ddnMYIrEgMrWgfdUXiJ83DPEcz68pbBYJLgD5qt8J5yxhMnGQ4tbvRHqFP+0SdluSvZHyyaJQQbbHi3WzvOyXb+6vs2Rjfg3FzNPDVza1IIrERHy66K515PesBK0EaDT180FMx+esY7KSzRHcU35czD+83f+6sFKz+Hx+732unwGTJIaD8hP7wPkQTtUicGOeRvmHFWLhriNlOpJisnA2xj5TvWvijJ7kIN/M8KnBltlknvVGf4q846gtPkfQrQ9zFvbIAGT6+EE9HfRWqi61jKUkleL8U4fmP50XzOj32+2lE3cZE+M5HBWPeKY2XRuP5sPXsR5j6/RBTZQ/xTG5pa4HRae4W/kWluPrFvZp/+LdlEF6wySdxZIP8QDv91tZPh/JwYhsj4fGrfNHNEdgt+vogwcPZVkFWzE89ZIyxrfUnsrv7N+BhA1uSy4DB3HOdAD9VSeHZ8Zh3us5Dnks8uoxG3mDPqpx3EPDt9us5kc3Oz/st01v9NIOn8T8f4bA0pKuOmjmuBumeH1G1zXI5E5OhXtWJQLninoPQr4dxlwniWlmA4d536/bWVXrPE1nK2WmWvBG0HYEbdIOm4mBs2JMlgl+h1aqpxVhxkID+G6BB3yOPdW3guzHNjzXefnB6KqZwvxmQmh2QGnbevdBz6xRs1nOE0D28vclvT+a1lY8vl7FiCSN7/geNa0q4gIO6Igzn5Qt3h5rXZFjXjYJUc0EgrPjbL6lyOVp1ylB1jMcI1sjghPDWcyUN5mvHRctyVi9v3O7M94hPKGnyXXMFx5ivcIql22fFe3l0W71/JUHj2jGLnv1V7XxSdCWoKxLZfK2MPO+QdFbuGbfiwOjcdBzda9VSz3Utw7ZMNxo5yB6IMOcgMN+Qa7lRyt/FdI8jJgByyDYKqJGiQgm8HxTlsHHJHj7TmMk1zscAQVKx5qpkZ/H/AOgyHnLEPgf/ABBU5egkdkFkyrLUJMssDHA9fFgO2n7+i8xHEF7FuAq2Xhh+aM9Wn9Co7GZaao4MJ5oz3YexVldhaOaqGzQLY3gbcOZBJVI+FOJ2/wB6idjb7u8sB00n7LVyPsuyzAZcXbq3oD20/lcPuFVLdKehLsP7H5m+alMVxXkcfossSOA/dJ2EGK/wLxLShM02MlcwdzH8X9AoihC4WgHtILXaII0QV0OH2t3oIw0wh3KP8o6qLmv/ANp8kLhow15nfM6Juuf7oJvhOyIJ2DzPT7LZ9olF1qu29EPij+c/RbWGxccUYllIbrzXuc4ipUW8shbPC74ZGFw6j0CDj1x/O7p2Wqt3LOpuvTOxoe2q522Nf3A9FpICIiD7adfZfO0HYheINrH6bMHEq2RxtvVHQFu269OypsT+Qq38P2gGjmd8PmgqVqB9ad0UgIIWONxa4Fp0fIq38T45loCxXIJA308wqe4Fp0RooJ7IZ1+Qr16/hiNkLOX1LioScfGSOxXwDrsvou5m6d3QfC9a0vIa0bJ7BetaXHQX2SIz8J2fUIM0uNvQgOkqTtHqYzr+a+ql+5jg5sD3R8w04EKVxXGeYx0Hu7bHj1/KOYB2v1KnIuPaszR79h6bneZDR/wgpUtyxIfjeSSkNW3YcGxQyOJ9GlXtvFmDcN/h0DT/AABbLOLcaG/lVYm/YBBXsNwjasSNdZa4MPkrnFj4MRW5WtDXgfC7Sw47i6rLMIS1rA7p36KM4pv2K7ywuBhk6jfkgXuJXiq+KbbXtJG/VUq5d97fI6Z38IWG9almkPO4nXTe1qIPV4iICIiD0Hqh8l4iAtivZkhI5Sdfda6ILVjb7ZWeHM8dV9ZDCRWG88Duv0VWZI5jgWk9FIQ5iePQ5ygxWcXYgJ+HYC1HRuYdPaR+ino8zzD85oK+nz1LAPMwDaCAMmhpo0sakpqUTt+C5aslSRvZpKDXRfTmOb8zSF8oC9BI7FeIgzxWXxaLe47FbmQzNm9DHHLrTOgPmVGL7bG52tBA5SRs72vhSEMHw7csFmuYiXDfKg1kREBERAREQEREBERB7shfQkcOxXwiDM2w8OBWxHeIGndVoognIHVrQ5ZRyuWllKJqva5vVj+oK0g5wPQlZX2ppIhE93M0dt+SDAiIg9b3G1u127I9ForNFMWFBLOHLHzL4ZI1x5JOrSvl9mOSpvendtLSkm10BQfVyp4X5kZ3Gf6LTWx71Jylmxyla6AiIgIiICIiAiIgIiICIiAiIgIiICIiAvSd914iAiIgIiICIiAiIgIiICIiAiIgIiICIiAiIgIiICIiD//Z" width="175" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pernahkah anda berpikir sejenak, apa yang telah anda raih di dunia? Keluarga, pendidikan, karier, status sosial, ketenaran.... Saya, dan barangkali juga anda saudariku Muslimah, mungkin terjebak dalam lingkaran itu. Yang bernilai di mata kita adalah harta, dan berbagai perhiasan dunia. Yang mempesona hati kita adalah karier yang terus menanjak, status sosial yang tinggi, yang membanggakan bagi kita adalah pendidikan tinggi, dan lebih bangga lagi jika itu pendidikan luar negeri, yang menggembirakan hati kita adalah anak-anak yang berhasil dalam pendidikan dan hidup mereka serba kecukupan. Bercerita tentang keberhasilan kita dalam kehidupan duniam, kita menjadi berapi-api.&lt;span class="fullpost"&gt;  Sebaliknya, mempertahankan rasa malu bagi kita bukan sesuatu yang membanggakan. Sangat sedikit di kalangan kaum Muslimah yang bangga dengan status yang disandangnya sebagai wanita Muslimah, yang ditunjukkan dengan identitasnya, lebih khusus lagi dengan pakaiannya. Sangat sedikit di antara kita yang rela menyelisihi sebagian besar wanita untuk berhias, dan menutup tubuhnya rapat-rapat dari pandangan orang lain. Dan di antara yang sedikit itu, lebih sedikit lagi yang bersungguh-sungguh dalam mengenakan hijabnya karena berharap ridha Rabb-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah berikut ini mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita, saya dan anda, bahwa seluruh nikmat yang telah kita raih, keberhasilan yang kita capai sangat tidak berarti apa-apa, dibandingkan dengan seorang wanita hitam yang datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ&lt;br /&gt;أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ فَقَالَتْ أَصْبِرُ فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ فَدَعَا لَهَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari Atha bin Abi Rabbah: “Telah berkata kepadaku Abdullah bin Abbas: “Maukah engkau aku perlihatkan seorang wanita penghuni surga?” maka aku berkata : “tentu!”. Kemudian ‘Abdullah berkata: “Wanita hitam dia pernah mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam lalu ia berkata: “ aku kena penyakit ‘usro’u (ayan/epilepsy), jikalau penyakitku kambuh auratku tersingkap. Maka do’akanlah kepada Allah agar sembuh penyakitku”. Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: “jikalau aku do’akan kepada Allah, pasti kamu akan sembuh. Akan tetapi jikalau kamu sabar maka bagimu surga”. Maka wanita hitam itu berkata: “Ashbiru (aku akan sabar), akan tetapi do’akan kepada Allah agar tiap kali kambuh penyakitku, auratku tidak tersingkap”. Maka Nabi pun mendo’akannya.” (HR Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;Seorang wanita hitam yang entah berasal dari mana, dengan penyakit kejang-kejangnya, di zaman sekarang akan menjadi orang yang dipandang sebelah mata. Bahkan mungkin tidak akan dilirik sama sekali. Tapi tidak dengan wanita ini. Sungguh wanita hitam ini lebih baik, bahkan jauh lebih baik dan lebih mulia dari wanita manapun yang mengaku paling bahagia di zaman sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam muhadharahnya mengenai Kisah Wanita Penghuni Surga, Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin al-Badr menjelaskan, bahwa wanita hitam ini memiliki iman dan ketulusan dalam imannya, agamanya kuat serta memiliki rasa malu yang sangat tinggi. Akan tetapi dia diuji oleh Allah dengan ditimpa penyakir usra’u yang menyebakannya pingsan dan kejang-kejang yang membuatnya sedih dan mengganggunya. Maka wanita ini pun datang kepada Nabi shallallahu alaihi waswallam agar berdoa kepada Allah, agar Allah subhanahu wa ta’ala menyembuhkan penyakitnya dan menghilangkan kegelisahan yang dialaminya selama ini. Akan tetapi Nabi shallallahu alaihi wasallam mengarahkan wanita ini akan sesuatu yang lebih baik dari kesembuhan, yaitu jika sang wanita tersebut sabar dengan ujian yang dihadapinya maka dia akan mendapatkan surga dari Allah subhanahu wa ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala mendengar arahan dari Nabi maka wanita ini pun memilih untuk bersabar agar dia dapat meraih surga, agar dia dapat memperoleh kesudahan yang sangat indah, dan dia akan mendapatkan surga dengan jaminan Nabi shallallahu alaihi wasallam jika dia bersabar. Maka dia pun bersabar dengan penyakit yang dia rasakan. Akan tetapi dia mengeluhkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang perihal yang dialaminya tatkala dia sedang pingsan, yakni terbukanya sebagian auratnya. Padahal wanita ini tatkala sedang pingsan, dia mendapatkan uzur karena dia sedang sakit, dia tidak dapat melakukan apa-apa dan itu diluar kehendak dia. Akan tetapi karena kuatnya imannya dan rasa malunya yang sangat tinggi dan sucinya hatinya, maka kondisi yang seperti ini membuat dia gelisah. Oleh karenanya wanita ini pun meminta kepada Nabi dan mengabarkan kepada Nabi shallallahu alaihi waswallam tentang perihalnya dan berkata: “إِنِّي أَتَكَشَّفُ Maknanya, setiap kali aku pingsan maka auratku pun tersingkap. Dan ini perakara yang dia tidak bisa bersabar karenanya. Wanita ini bisa bersabar menghadapi penyakit, akan tetapi dia tidak bisa bersabar terhadap sebagaian anggota tubuhnya yang tersingkap ketika penyakitnya kambuh. Karenanya dia meminta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam agar Allah menutup auratnya tatkala dia sedang pingsan. Maka Nabi pun mendoakan wanita ini, sehingga Allah subhanahu wa ta'ala tetap menjaga auratnya ketika dia pingsan, karena doa Nabi shallallahu alaihi waswallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah wanita ini kisah yang sangat agung dan sangat menakjubkan, menjelaskan akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang indah yang dimiliki wanita ini, rasa malu dan bersihnya hatinya. Perhatikanlah wanita ini berkata: “Wahai Raulullah sesungguhnya aku (ketika penyakitku kambuh) terbuka sebagian auratku, berdoalah kepada Allah agar tertutup auratku.” Padahal terbukanya sebagian anggota tubuhnya ini diluar kehendaknya, karena dia sedang tidak sadar. Akan tetapi meskipun dia tidak sadar dan mendapat uzur dari Allah, hal ini membuat dia menjadi gundah gulana, membuatnya gelisah. Jika penyakit yang menimpanya, dia masih bersabar. Akan tetapi kondisi yang tebuka aurtanya, dia tidak bersabar, dan mengadukan kepada Nabi shallallahu alaihi waswallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan keadaan sebagian wanita saat ini? Yang dengan sengaja menampakkan keelokan tubuhnya? Sengaja memperlihatkan bagian tubuhnya yang memfitnah para lelaki. Dengan sadar bahkan dengan sengaja dan tidak perduli, tidak ada rasa malu dan tidak ada rasa iman. Bukankah banyak wanita yang telah mendengarkan firman-firman Allah subhanahu wa ta’ala, dan telah mendengarkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang larangan untuk bertabarruj dan memamerkan aurat. Bukankah telah banyak ancaman dari Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi waswallam tentang wanita yang menampakkan aurat dengan sengaja. Akan tetapi para wanita tersbut tetap tidak perduli dengan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya dan tetap menampakkan keindahan tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, wanita hitam ini lebih baik, bahkan jauh lebih baik dari siapapun di antara kita. Jika dia malu dan tidak ridha auratnya tersingkap manakala dia tidak sadar, sebagian wanita di zaman sekarang justru dengan sadar dan tanpa rasa malu menyingkap auratnya padahal dia tahu akan kewajiban menutup aurat. Ketika dia gelisah dan tak dapat bersabar atas auratnya yang tersingkap, sebagian kita justru lebih sabar menghadapi tatapn ‘penuh makna’ secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi dan siulan laki-laki di pinggir jalan karena pakaiannya yang mempertontonkan auratnya dan menampilkan keindahan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dengan alasan dunia sebagian muslimah zaman sekarang menanggalkan rasa malu jauh di belakang. Menganggap hijab hanya akan menghalangi langkah dalam meniti karier, menghambatnya meraih pendidikan dengan gelar tertinggi, menghalanginya dari pergaulan, kemajuan dan gemerlapnya hidup. Jika wanita hitam ini memiliki penyakit jasmani, maka kita memiliki penyakit yang lebih berbahaya, lemahnya iman dan hilangnya rasa malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kita tidak punya rasa malu! Keliru, mungkin punya rasa malu, tapi rasa malu itu diletakkan di tempat yang salah! Sebagian wanita malu mengenakan hijab syar’i karena anggapan ketinggalan zaman, kuno, fanatik, dan terlihat menyedihkan seperti perempuan dalam kurungan. Sebaliknya mereka tidak malu ketika menampakkan sebagian anggota tubuh, berlenggak-lenggok dengan pakaian ketat yang seolah hendak melontarkan bagian-bagian tubuh yang ada di baliknya, menjadikan dirinya obyek yang bisa dilihat oleh siapa saja yang menghendaki. Bahkan jilbab pun dimodifikasi agar dapat tetap mempertontonkan keindahan tubuh seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh wanita hitam ini jauh lebih baik. Dia bukanlah wanita dengan sederet gelar di belakang namanya, bukan pula wanita dengan status sosial yang tinggi di masyarakat, bukan pula wanita karier yang sukses. Akan tetapi yang dimilikinya jauh lebih berharga, jauh lebih bernilai dari semua itu. Dia punya iman! Dia punya kesucian hati! Dia punya rasa malu! Dia lebih memilih bersabar dari penyaktinya dan hanya meminta didoakan agar auratnya tidak terlihat ketika penyaktinya kambuh. Sebuah pilihan yang membuahkan surga. Sedangkan kita...?? Sebagian kita, ketika dibacakan hadits tentang dua golongan penghuni neraka dan merka tidak akan mencium bau surga - yang salah satunya adalah wanita yang berpakaian tapi telanjang – hanya mendengarkan dengan roman tak perduli. Dengan sadar memilih bermaksiat terang-terangan dengan mengumbar aurat, yang telah jelas mendapat ancaman neraka. Lalu bagaiman kita bisa berharap sampai pada kedudukan wanita hitam ini? Bagaimana kita berharap mendapatkan ampunan dari Allah sedangkan Rasulullah telah bersabda:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ&lt;br /&gt;“Setiap ummatku dimaafkan kecuali mereka yang terang-terangan” (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bukanlah apa-apa. Kita hanya meraih sedikit dari limpahan nikmat yang Allah Ta’ala tebarkan di muka bumi. Celakanya, kita hampir tidak memiliki bagian apa-apa dari kenikmatan surga yang jauh lebih besar dan abadi. Kita tidak punya keimanan dan rasa malu seperti yang dimiliki wanita hitam itu. Kita tidak mendapatkan jaminan surga seperti wanita hitam itu, dan usaha yang kita lakukan untuk meraih surga pun sangat kecil dan tidak berarti apa-apa, sangat tidak sebanding dengan usaha kita mendapatkan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya untuk diriku, dan untukmu saudariku Muslimah, mari bercermin dari wanita hitam ini, belajar dari keteguhan iman seorang wanita hitam yang sederhana ini, dari kesucian hati dan rasa malu yang dimilikinya, keinginannya untuk tetap menjaga auratnya, menjaga kehormatannya dalam keadaan apapun, demi mengharap ridha Rabbnya. Sungguh, wanita hitam ini lebih baik, bahkan jauh lebih mulia daripada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___________________________&lt;br /&gt;Simak pembahasan penuh hikmah dari hadits Wanita Penhuni Surga ini yang dibawakan fadhilatus-Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhisn al-Badr di&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.radiorodja.com/syaikh-abdur-rozzaq-bin-abdul-muhsin-al-badr-2/kisah-wanita-penghuni-surga/"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Radio Rodja&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Posted by Khayla&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.khayla.net/2011/09/sungguh-wanita-hitam-itu-lebih-baik.html?utm_source=feedburner&amp;amp;utm_medium=feed&amp;amp;utm_campaign=Feed%3A+ALearningPage+%28A+Learning+Page%29"&gt;http://www.khayla.net&lt;/a&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-5226660823935596978?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/5226660823935596978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/10/sungguh-wanita-hitam-itu-lebih-baik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/5226660823935596978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/5226660823935596978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/10/sungguh-wanita-hitam-itu-lebih-baik.html' title='Sungguh, Wanita Hitam itu Lebih Baik'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-1964255562796402055</id><published>2011-10-18T06:31:00.000+09:00</published><updated>2011-10-18T06:31:04.514+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><title type='text'>Nasehat: Pelajaran bagi Kaum Muslimin dari Kejadian di Libya</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/--oqKlHYBGeA/TZC24AbL3TI/AAAAAAAAA14/m1Wrz5JQaKM/s200/Perang+Libya+2011.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="http://1.bp.blogspot.com/--oqKlHYBGeA/TZC24AbL3TI/AAAAAAAAA14/m1Wrz5JQaKM/s200/Perang+Libya+2011.jpeg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah nasehat Syaikh Zaid bin Muhammad Hadi Al-Madkhali hafizhahullah untuk ikhwan salafi Libya. Dimana dalam kejadian di Libya, sebagian orang di sana berdemo menuntut Presiden mereka Khadafi untuk mundur, sampai kepada tindakan memberontak. Khadafi tidak mau mundur dan mengerahkan segala kekuatannya untuk menumpas pemberontak. Demikian juga dengan para pemberontak. Tindakan yang membabi buta sehingga tak sedikit kaum muslimin yang tidak ikut-ikutan menjadi korban, baik jiwa, harta dan kehormatan mereka. Padahal Islam menjaga lima perkara, yaitu: agama, akal, kehormatan, harta dan jiwa. Semuanya jadi kacau dan seakan tak berharga ketika masa fitnah perang saudara ini. Ini adalah pelajaran bagi kita semua, kaum muslimin di Indonesia. Di dalam kejadian ini ada pelajaran nikmatnya keamanan dan ketenangan, dimana manusia terjaga kelima perkara di atas dan mereka bisa beramal untuk kebaikan agama dan dunia mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi genting seperti itu, ikhwan salafi di Libia menghubungi Syaikh Zaid Bin Muhammad Hadi Al-Madkhali hafizahullah, kemudian beliau memberikan nasehat untuk menghadapi fitnah ini:&lt;span class="fullpost"&gt; “Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam tercurah atas Rasulullah, keluarganya, dan para shahabatnya. Adapun sesudah itu:&lt;br /&gt;Sesungguhnya kami merasa sedih di tempat ini dan ikut tersibukkan dengan yang kalian alami. Kami berdoa kepada Allah untuk menjadikan jalan keluar bagi kalian dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hendaknya kalian mengetahui bahwa fitnah peperangan yang terjadi ini adalah suatu takdir yang telah ditetapkan oleh Allah, sedangkan kita adalah satu ummat yang beriman dengan takdir. Bersama dengan bersabar, mengharap pahala dari Allah dan berusaha semampu mungkin untuk menempuh asbab syar'i untuk menolak kejelekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku memberikan wasiat kepada para penuntut ilmu agama seperti kalian dalam masa fitnah dan ujian ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: untuk kembali berserah diri kepada Allah dengan menunaikan perkara-yang fardhu dan sholat-sholat rawatib, memperbanyak doa pada waktu sahur (sepertiga malam terakhir). Allah menjanjikan bagi kalian untuk mengabulkan doa. Sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;وقال ربكم ادعوني استجب لكم &lt;br /&gt;‘Dan Rabb kalian terlah berfirman: Berdoalah kalian kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya bagi kalian.’&lt;br /&gt;Maka berdoalah kalian dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan.&lt;br /&gt;Kedua: Jika kekuatan dan serangannya ini terjadi tanpa perhitungan (membabi buta)&lt;br /&gt;terhadap kehormatan, harta benda dan darah (jiwa), maka tinggallah kalian di rumah-rumah kalian. Tutuplah pintu-pintu rumah kalian. Barangsiapa yang tanpa ijin masuk ke rumah kalian dan membuka pintu rumah kalian, maka cegahlah dia sehingga tidak terjadi pengrusakan terhadap kehormatan, harta benda dan jiwa kalian. Cegahlah dengan cara yang paling mudah, jika dia enggan maka tolaklah dengan yang kalian mampu. Hakikatnya orang yang melanggar hak orang lain, hukumnya dalam syariat Islam dia diperangi. Jika sampai dia terbunuh, maka dia di neraka. Adapun orang yang haknya dirampas, jika dia disakiti atau terbunuh dalam keadaan muslim, maka dia syahid di surga. Sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan aku menegaskan kepada kalian untuk mencegah dengan cara yang paling mudah. Jika orang yang zhalim itu menolak, maka boleh dia diperangi dan dibunuh. Kadang bisa sampai tingkat wajib (untuk mencegah), jika dia ingin merusak harta benda, kehormatan dan jiwa. Cegahlah dengan mulai cara yang termudah. Tutuplah pintu dan jagalah kehormatan kalian. &lt;br /&gt;Kami memohon kepada Allah untuk menghilangkan fitnah ini dalam waktu yang dekat, kemudian menggantikan keadaan takut mencekam dengan keamanan. Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh.”&lt;br /&gt;Sumber: http://njza.net/Default_ar.aspx?Page_ID=114&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Kamis, Agustus 25, 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copy Paste dari link &lt;a href="http://forum-unand.blogspot.com/2011/08/nasehat.html"&gt;ini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-1964255562796402055?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/1964255562796402055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/10/nasehat-pelajaran-bagi-kaum-muslimin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/1964255562796402055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/1964255562796402055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/10/nasehat-pelajaran-bagi-kaum-muslimin.html' title='Nasehat: Pelajaran bagi Kaum Muslimin dari Kejadian di Libya'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/--oqKlHYBGeA/TZC24AbL3TI/AAAAAAAAA14/m1Wrz5JQaKM/s72-c/Perang+Libya+2011.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-1336664142351245686</id><published>2011-10-08T17:44:00.000+09:00</published><updated>2011-10-08T17:44:26.758+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Muslim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Pengaruh Jelek Sikap Kaku, Keras, dan Bakhil</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://meilana.files.wordpress.com/2011/05/broken_heart-1508.jpg?w=150&amp;amp;h=144" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="144" src="http://meilana.files.wordpress.com/2011/05/broken_heart-1508.jpg?w=150&amp;amp;h=144" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kekakuan dan kekerasan seorang suami terhadap istri terkadang mendorong sang istri berbohong, dan kebakhilannya terkadang juga mendorong istri untuk mencuri. Pengaruh lain dari sikap suami semacam ini adalah bila sang istri berbuat kesalahan akan segera menyembunyikan kesalahan dan berdusta di depan suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Musthofa Al’Adawi pernah menerima surat dari seorang ibu rumah tangga yang meminta fatwa kepada beliau. Dalam suratnya ia mengisahkan seorang istri telah memendam dosa selama 17 tahun. Setiap kali teringat akan dosanya, ia merasa gelisah dan gundah gulana. Ia adalah seorang istri yang tinggal bersama suami dan ibu mertua dalam satu rumah. Mertuanya bersikap keras padanya dan menghukum semua kesalahan yang ia perbuat, bahkan ketika tidak bersalahpun ia sering mendapatkan amarahnya. Ibu mertua selalu memerinci pengeluarannya yang didalam maupun diluar rumah dan menanyakan berapa banyak makan dan minumnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari sang ibu mertua menyuruhnya membeli seekor ayam. Dibelilah seekor ayam olehnya dan ia letakkan ayam itu di bawah kerudungnya dan menutupinya karena takut lepas. Akan tetapi ditengah perjalanan, ayam itu mati. Ia sangat takut dan bingung apa yang harus ia lakukan. Kemudian ia masuk ke rumah secepatnya dan langsung menuju ke dapur. Ia sembelih ayam yang telah mati itu dan memasaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memanggil mertuanya, “Ya Ummu ‘Isham mari ke dapur”, tanpa menceritakan perihal ayam tersebut. Maka masuklah mertuanya ke dapur dan serta merta si ibu mertua melihat ayam yang telah ditaburi merica hitam dan bumbu-bumbu lainnya yang sedap baunya, sudah siap untuk dimakan. Berkatalah wanita itu kepada mertuanya, “Ya Ummu ‘Isham, demi Allah belum ada seorangpun yang mencicipi dagingnya dan meminum kuahnya. Silahkan dimakan sebelum datang anak-anak”. Dimakanlah masakan bangkai ayam itu oleh mertuanya sampai habis bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu rumah tangga tersebut bertanya apakah aku bisa bertobat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya, tentu bisa bertobat. Allah Ta’ala membuka pintu-pintu taubat dan tidak ditutup sampai matahari terbit dari barat. Ia membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berdosa di siang hari bertaubat dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berdosa di malam hari bertaubat. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Az-Zumar: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini adalah akibat buruk yang ditimbulkan dari sikap keras dan kaku (dalam kehidupan keluarga khususnya). Adapun mengenai kebakhilan suami terhadap istri yang menyebabkan istri mencuri tertulis dalam kisah yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim [1], hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Hindun binti Utbah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang kikir, tidak memberikan nafkah padaku dan anak-anakku dengan cukup kecuali bila aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuan darinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ambillah hartanya yang dapat mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan cara yang baik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinukil dari;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fiqhul Ta’aammul baina aZ-Zaujani, Oleh Syaik Musthofa Al-‘Adawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Romantika Pergaulan Suami Istri, Edisi Indonesia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;———-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1].  HR. Bukhari (5364) dan Muslim (hal. 1339)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://meilana.wordpress.com/2011/05/17/pengaruh-jelek-sikap-kaku-keras-dan-bakhil/#comment-255"&gt;http://meilana.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-1336664142351245686?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/1336664142351245686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/10/pengaruh-jelek-sikap-kaku-keras-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/1336664142351245686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/1336664142351245686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/10/pengaruh-jelek-sikap-kaku-keras-dan.html' title='Pengaruh Jelek Sikap Kaku, Keras, dan Bakhil'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-3779975119505414325</id><published>2011-10-08T04:56:00.000+09:00</published><updated>2011-10-08T04:56:35.398+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Mencari Gelar “Pak Haji”</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://z4ki.files.wordpress.com/2011/02/hajj.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="207" src="http://z4ki.files.wordpress.com/2011/02/hajj.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ibadah haji adalah ibadah yang teramat mulia. Sungguh amat sulit untuk saat ini berangkat langsung dari tanah air karena antrian yang saking panjangnya. Namun demikian antusias orang di negeri kita di mana mereka amat merindukan ka’bah di tanah suci. Sampai-sampai berbagai cara ditempuh dan dijalani untuk bisa ke sana meskipun dengan cara yang tidak Allah ridhoi. Selain itu tidak sedikit yang niatnya untuk selain Allah, hanya ingin mencari gelar. Label pak Haji-lah yang ingin disandang bukanlah ridho dan pahala dari Allah yang dicari. Sampai-sampai ada yang mengharuskan di depan namanya harus dilabeli gelar “H”. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;Keutamaan Haji Mabrur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji adalah amalan yang teramat mulia. Sampai-sampai yang berhaji disebut dengan tamu Allah dan apa saja yang mereka panjatkan pada-Nya mudah diperkenankan. Dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan haji terutama haji mabrur termasuk dalam jajaran amalan yang paling afdhol. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan haji pun termasuk jihad. Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad? “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1520)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Haji dan umroh termasuk jihad. Karena dalam amalan tersebut seseorang berjihad dengan harta, jiwa dan badan. Sebagaimana Abusy Sya’tsa’ berkata, ‘Aku telah memperhatikan pada amalan-amalan kebaikan. Dalam shalat, terdapat jihad dengan badan, tidak dengan harta. Begitu halnya pula dengan puasa. Sedangkan dalam haji, terdapat jihad dengan harta dan badan. Ini menunjukkan bahwa amalan haji lebih afdhol’.” (Lathoif Al Ma’arif, 403)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balasan bagi haji mabrur adalah surga, ini sungguh balasan yang luar biasa. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa itu Haji Mabrur?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akherat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qurthubi rahimahullah menyimpulkan, “Haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji.” (Tafsir Al Qurthubi, 2/408)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal, haji mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kata ‘birr’ yang bermakna ketaatan. Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat. Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’. Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya.” (Syarh Shahih Muslim, 9/118-119)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kriteria haji mabrur. Kriteria penting pada haji mabrur adalah haji tersebut dilakukan dengan ikhlas dan bukan atas dasar riya’, bukan ingin mencari pujian, bukan ingin disebut “Pak Haji”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlaslah dalam Ibadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap ibadah kita diperintahkan untuk ikhlas di dalamnya. Kita diperintahkan beribadah untuk mengharap wajah Allah dan mengharap ridho-Nya. Jika kita beribadah malah ingin mencari pujian, maka jadi sia-sialah ibadah tersebut. Termasuk di dalamnya menunaikan haji hanya ingin mencari gelar pak Haji, segala pengorbanan yang kita tumpahkan dari sisi biaya maupun tenaga, itu jadi tidak bernilai apa-apa. Perintah Allah untuk ikhlas sebagaimana dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah pun mengetahui segala sesuatu yang ada dalam isi hati hamba apakah ia ikhlas ataukah ingin cari muka di hadapan manusia dalam ibadahnya. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui”.” (QS. Ali Imran: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ atau ingin cari pujian manusia dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az Zumar: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang sia-sialah amalan yang hanya ingin cari muka atau cari pujian manusia dalam sabdanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim no. 2985). Imam Nawawi mengatakan, “Makna hadits ini adalah bahwa Allah tidak peduli pada orang menyekutukan-Nya dalam ibadah dengan selain-Nya. Barangsiapa yang beramal yang dia tujukan untuk Allah dan juga untuk selain-Nya, maka Allah tidak akan menerima amalannya bahkan Allah akan meninggalkan dirinya jika ia bermaksud demikian. Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” (Syarh Shahih Muslim, 18/116). Artinya, siapa yang berhaji namun hanya ingin cari gelar, maka amalannya bisa jadi sia-sia belaka. Ikhlaslah dalam beribadah pada Allah Ta’ala. Abul Qosim berkata, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.” (At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, 50-51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan sholeh yang bisa disembunyikan lebih baik disembunyikan, tidak perlu seluruh dunia mengetahuinya dan tidak perlu ingin cari pujian orang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka menyembunyikan amalannya.” (HR. Muslim no. 2965). Basyr Al Hafiy mengatakan, “Tidak selayaknya orang-orang semisal kita menampakkan amalan sholih walaupun hanya sebesar dzarroh (semut kecil). Bagaimana lagi dengan amalan yang mudah terserang penyakit riya’?” Ibrahim An Nakho’i mengatakan, “Kami tidak suka menampakkan amalan sholih yang seharusnya disembunyikan.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa Abu Hazim berkata, “Sembunyikanlah amalan kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan amalan kejelekanmu.” Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Sebaik-baik ilmu dan amal adalah sesuatu yang tidak ditampakkan di hadapan manusia.” (Dinukil dari Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al Ghozali mengatakan, “Yang tercela adalah apabila seseorang mencari pujian. Namun jika ia dipuji karena karunia Allah tanpa ia cari-cari, maka itu tidaklah tercela.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menganugerahkan kita sifat ikhlas dalam beribadah kepada-Nya dan menjauhkan kita dari penyakit riya’ yang dapat menghapus amalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riyadh KSA, 22 Syawwal 1432 H (20/09/2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/aqidah/mencari-gelar-pak-haji.html"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-3779975119505414325?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/3779975119505414325/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/10/mencari-gelar-pak-haji.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/3779975119505414325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/3779975119505414325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/10/mencari-gelar-pak-haji.html' title='Mencari Gelar “Pak Haji”'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-4212079305768017887</id><published>2011-10-06T11:21:00.002+09:00</published><updated>2011-10-07T05:06:40.080+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Muslim'/><title type='text'>Perjalanan Pria Pemabuk dengan Pemuda Shalih</title><content type='html'>Maka berdoalah kepada Rabbmu&lt;br /&gt;Jangan berputus asa dari rahmat-Nya&lt;br /&gt;Jemputlah Hidayah itu...&lt;br /&gt;Karena ia adalah teramat mahal&lt;br /&gt;Takkan bisa kau menaruh harga padanya&lt;br /&gt;Beruntunglah bagi siapa saja yang disapa olehnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang akan anda baca ini adalah kisah nyata yag sangat menyentuh hati. Silahkan susuri perjalanan mereka tersebut dan ambillah hikmah darinya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah kota di Saudi, seorang wanita tinggal dan hidup bersama  suami dan anak-anaknya. Rumah mereka berdampingan betul dengan sebuah  masjid. Namun disayangkan sekali, Allah mengujinya dengan seorang suami  yang pemabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/300092_1544503909860_1752889223_727196_771168867_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" class="photo_img img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/300092_1544503909860_1752889223_727196_771168867_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Tidak berlalu satu atau dua hari, kecuali  sang suami pasti memukulnya dan anak-anaknya, bahkan mengusirnya hingga  ke jalan. Hampir semua warga di lingkungan tempat tinggal mereka  sebenarnya sangat mengasihaninya dan anak-anaknya. Apalagi jika mereka  melewati rumahnya. Hampir setiap hari mereka masuk ke masjid untuk  menunaikan shalat, namun setelah itu mereka pulang ke rumah  masing-masing tanpa memberikan bantuan apapun, meski dengan sebuah  kalimat penghibur hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa  seringnya mereka melihat dan menyaksikan wanita malang itu bersama  anak-anak kecilnya duduk di samping pintu rumahnya untuk menunggu sang  suami yang pemabuk itu membukakan pintu dan menyuruhnya masuk, setelah  sebelumnya ia mengusirnya bersama anak-anak. Namun itu hanya sebuah  penantian yang sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/320742_1544504869884_1752889223_727197_893200181_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" class="photo_img img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/320742_1544504869884_1752889223_727197_893200181_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Akhirnya, jika wanita malang itu  memastikan bahwa suaminya telah tidur, ia akan menyuruh salah seorang  anak laki-lakinya untuk meloncat ke dalam dan membuka pintu rumah itu  dari dalam. Ia akan segera masuk ke dalam rumahnya lalu cepat-cepat  masuk ke dalam kamar dan menguncinya untuk menunggu hingga suaminya  sadar dari mabuknya. Dan di situ, wanita malang itupun mulailah  mengerjakan shalat dan menangis di hadapan Allah agar memberikan hidayah  dan ampunan bagi suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  seorang pun jamaah masjid itu -baik imam maupun muadzinnya- yang mampu  berbicara kepada suami pemabuk itu dan memberinya nasihat, walau demi  sang wanita dan anak-anaknya yang telah tersiksa dengan itu semua. Belum  lagi bahwa mereka pun tahu pria pemabuk itu selain tidak takut kepada  Allah dan suka mengganggu, ia juga mempunyai banyak masalah dengan  tetangga-tetangga di lingkungan tinggalnya. Hatinya sangat keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/312160_1544513430098_1752889223_727204_2127180160_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" class="photo_img img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/312160_1544513430098_1752889223_727204_2127180160_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Dan  wanita malang itu tidak putus-putusnya mendoakan suaminya yang pemabuk  itu di sepertiga akhir malam. Ia memohon kepada Allah dengan  Nama-Nama-Nya yang mulia agar menerangi hati suaminya dengan hidayah  iman. Hari-harinya ia gunakan untuk mendoakan yang terbaik bagi  suaminya, sementara ia dan anak-anaknya terus merasakan siksaan itu dan  tidak seorang pun yang mengasihani mereka atas semua musibah itu, selain  Allah. Tidak ada saudara, ayah dan ibu yang mengayomi. Semuanya  berlepas diri darinya. Semuanya tidak pernah merasakan kehadiran dan  persoalannya. Ia seakan menjadi sosok yang terbuang dari tetangga dan  keluarganya, akibat perilaku sang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  suatu hari, ketika wanita malang itu mengunjungi salah seorang kawannya  yang tinggal di lingkungan lain; kepada kawan yang mau membuka hatinya  untuk mendengarkan keluh kesahnya itu ia menceritakan semua  penderitaannya. Tentang apa yang dilakukan oleh suaminya kepada dirinya  dan anak-anaknya ketika ia sedang dipengaruhi oleh minuman keras. Kawan  itu sungguh bersimpati dengan apa yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tenanglah,  aku akan menyampaikan kepada suamiku agar menemui dan menasihatinya,"  ujarnya. Dan suaminya adalah pemuda shalih yang bijak, menyenangi  kebaikan untuk orang lain. Ia juga menghafal Al Qur'an dan senang  beramar ma'ruf nahi munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita yang malang itupun  setuju dengan syarat kawannya itu tidak memberitahu bahwa dialah yang  memintanya melakukan hal tersebut, karena jangan sampai suaminya yang  pemabuk itu kemudian marah, memukulnya lalu mengusirnya keluar dari  rumah ke jalanan untuk kesekian kalinya jika mengetahui itu semua. Sang  kawan itu sepakat bahwa rencana ini adalah rahasia antara mereka berdua  saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai shalat isya, suami sang kawan itu pun langsung  pergi menemui suami wanita malang itu. Ia mengetuk pintu rumahnya dan  tidak lama kemudian pria pemabuk itu keluar dengan langkah gontai karena  mabuk. Ia membuka pintu dan ternyata disana ia menemukan seorang pria  yang sangat bersih, jenggotnya panjang dan hitam, wajahnya memancarkan  cahaya, dan kelihatannya usianya belum sampai 25 tahun. Sementara pria  pemabuk yang usianya telah mencapai 40 tahun itu di wajahnya hanya  nampak tanda-tanda kemarahan dan jauh dari Allah. Ia memandang sang  pengetuk pintu rumahnya dan bertanya:&lt;br /&gt;"Siapa kamu? Dan apa yang engkau inginkan?"&lt;br /&gt;"Saya  fulan bin fulan. Saya mencintai anda karena Allah dan saya sengaja  datang untuk mengunjungi anda...," jawab pria muda itu dengan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/294657_1544507389947_1752889223_727198_36583629_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" class="photo_img img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/294657_1544507389947_1752889223_727198_36583629_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Namun,  belum lagi ia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba pria mabuk itu  meludahi wajahnya dan mengeluarkan cacian serta makiannya. "Semoga Allah  melaknatmu, wahai anjing!! Ini bukan waktunya untuk berkunjung! Pergi  sana!!" umpatnya penuh kemarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mulut pemabuk itu  menyeruak aroma minuman keras,&amp;nbsp; hingga seakan-akan seluruh lingkungan  itu dipenuhi dengan aromanya yang menjijikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda  shalih itu kemudian mengusap ludah yang menempel di wajahnya dan  berkata: "Jazakallah khairan (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan).  Mungkin aku memang salah karena datang pada waktu yang tidak tepat.  Tapi, saya akan datang lagi untuk mengunjungi Anda di waktu lain, insya  Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi! Jika engkau  datang lagi, aku akan mematahkan lehermu!!" jawab pemabuk itu sambil  membanting pintunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pemuda shalih itupun kembali ke  rumahnya sembari berkata: "Alhamdulillah, Allah telah memberikan ludah  ini di jalan-Nya. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kesempatan  mendapatkan cacian dan penghinaan ini dijalan agamaku..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  dalam hatinya, ia telah bertekad untuk menyelamatkan wanita itu beserta  anak-anaknya dari penderitaan mereka. Ia merasa bahwa seluruh dunia ini  akan membuka pintu untuknya jika ia dapat menyelamatkan keluarga itu  dari kehancuran. Ia pun mulai mendoakan si pemabuk itu di saat-saat doa  mudah dikabulkan. Ia memohon kepada Allah agar menolongnya untuk  menyelamatkan&amp;nbsp; keluarga itu dari penderitaan abadinya. Kesedihan  memenuhi rongga hatinya, dan kini yang menjadi obsesinya hanyalah  bagaimana melihat si pemabuk itu termasuk orang-orang yang mendapatkan  hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian berusaha mengunjungi pria pemabuk itu  beberapa kali, namun ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali seperti yang  sebelumnya ia telah dapatkan . Sampai akhirnya, pada suatu waktu, ia  bertekad tidak akan pergi dari depan rumah pemabuk itu kecuali setelah  berbicara dan menyampaikan apa yang ingin disampaikannya. Ia pun  mengetuk pintu rumahnya dan pria pemabuk itu pun keluar dalam keadaan  mabuk seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah aku telah mengusirmu dari  sini berkali-kali?! Kenapa engkau keras kepala dan selalu datang lagi  padahal aku sudah mengusirmu?!!!" teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar  sekali. Tapi aku mencintaimu karena Allah, dan aku ingin duduk denganmu  meski beberapa menit saja, Sebab Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah  mengatakan:&lt;br /&gt;'Barangsiapa mengunjungi saudaranya karena Allah, maka  akan menyeru penyeru di langit; 'Engkau telah melakukan kebaikan, dan  langkahmu baik, maka engkau telah menempati surga sebagai tempat(mu).'  (HR: At Tirmidzi dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pemabuk itu mulai malu di hadapan desakan pemuda itu yang terus menerus meski harus mendapatkan semua perlakuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi  sekarang ini aku sedang minum, sementara engkau, dari wajahmu  kelihatannya engkau adalah orang shalih. Aku tidak mungkin membiarkanmu  melihat botol-botol minumanku, karena itu tidak layak untukmu..."  ujarnya mulai melembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa! Biarkan aku masuk  ke tempat minummu dan melihat semua botol-botol minumanmu. Biarkan kita  mengobrol sambil engkau meminum minumanmu, sebab aku tidak datang kesini  untuk melarangmu minum. Aku hanya datang untuk mengunjungimu saja..."  kata pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau demikian, silahkan masuk..." ujar sipemabuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka  untuk pertama kalinya, pemuda itu masuk ke dalam rumah itu setelah  berkali-kali semua perlakuan buruk dan pengusiran. Dan ketika itu, ia  merasa sangat yakin jika Allah menghendaki sesuatu yang baik untuk pria  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/310325_1544509229993_1752889223_727199_796741767_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" class="photo_img img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/310325_1544509229993_1752889223_727199_796741767_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Pemabuk itu mengajaknya masuk ke kamar tempatnya  mengonsumsi minuman keras. Kepada pemabuk itu, pemuda tadi mulai  menyampaikan keagungan Allah, tentang apa yang disiapkan Allah untuk  kaum beriman di surga dan untuk kaum kafir di Neraka dan tentang taubat.  Bahwa Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertaubat jika memohon  hidayah pada-Nya. Allah sangat senang dengan taubat hamba-Nya. Jika  seorang hamba-Nya yang pendosa bertaubat, maka Allah akan menjawab  pintanya tiga kali dan tidak hanya sekali. Ia juga menyinggung pahala  saling mengunjungi karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda  itu melihat air muka sang pemabuk menunjukkan tanda-tanda kebaikan.  Pemabuk itu diam mendengarkan apa yang ia sampaikan dengan tenang. Dan  pemuda itu tidak sekalipun menyinggung soal khamr (minuman keras) dan  keharamannya, meskipun ia tahu bahwa meminumnya adalah sebuah dosa  besar. Sampai ia pulang, tak satu kalimat pun tentang khamr yang  diucapkannya. Pemuda itu pulang setelah meminta kepada sang pemabuk itu  untuk mengizinkannya untuk berkunjung dan berkunjung lagi. dan ia  setuju. Pemuda itu pun pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah itu,  sang pemuda kembali menemui sang pemabuk yang rupanya sedang mabuk.  namun baru saja ia mengetukkan pintu rumah itu, segera saja sang pemabuk  itu menyambut dan mempersilahkannya masuk ke tempat ia biasa meminum  minuman kerasnya. Ia kemudian mulai berbicara tentang surga dan apa yang  dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang yang bertaubat dan menyesali  dosanya. Ia memperhatikan bahwa si pemabuk ini sudah mulai berhenti  meminum minumannya jika ia sedang berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu  merasa semakin dekat dengannya dan perlahan-lahan ia mulai menghancurkan  gelas demi gelas minuman keras itu di dalam hatinya perlahan-lahan. Dan  ketidak berlanjutannya meminum adalah pertanda bahwa ia mulai memahami  apa yang diucapkannya. Pemud aitu kemudian mengeluarkan sebuah botol  parfum yang sangat mahal dari kantongnya. Ia memberikannya sebagai  hadiah kepada si pemabuk itu dan segera keluar dari rumah tersebut. Hari  itu, ia sangat bahagia dengan apa yang berhasil dilakukannya dalam  kunjungan kali itu. Ada perkembangan yang berarti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa  hari kemudian, ia kembali mendatangi pria pemabuk itu dan ia  menemukannya telah mengalami perubahan yang luar biasa. Meskipun ia  masih dalam keadaan mabuk berat, namun keadaannya telah jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali  ini, setelah pemuda itu berbicara tentang Surga dan Neraka, pemabuk itu  menangis seperti anak-anak sambil berujar: "Allah pasti tidak akan  menerima taubatku! Allah pasti tidak akan mengampuniku! Aku ini membenci  ulama, membenci orang-orang shalih, bahkan membenci semua orang! Bahkan  membenci diriku sendiri! Aku ini binatang pemabuk! Allah tidak akan mau  menerimaku, tidak akan mau menerima taubatku meskipun aku bertaubat.  Kalau Allah mencintaiku, Ia tidak akan membiarkanku meminum minuman  keras ini. Ia tidak akan membuatku dalam kondisi ini, kedurjanaan yang  kujalani selama bertahun-tahun lalu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memeluknya, pemuda shalih itu berkata padanya:&lt;br /&gt;"Allah  akan menerima taubatmu. Dan orang yang bertaubat itu seperti orang yang  tidak mempunyai dosa. Pintu taubat itu akan selalu terbuka, tidak ada  seorang pun yang dapat menghalangimu dengan Allah. Kebahagiaan itu  sepenuhnya adalah dalam agama ini. Apa yang akan terjadi di hari esok  pasti jauh lebih indah jika engkau memohon hidayah pada Allah dengan  hati yang sungguh-sungguh. Tidak ada yang harus engkau lakukan kecuali  memohon hidayah pada Allah dengan hati yang ikhlas. Allah pasti akan  menerimamu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian mengatakan bahwa ia akan  melakukan perjalanan ke Makkah dengan beberapa orang kawannya. Ia  menawarkan kepada sang pemabuk itu untuk ikut serta. Namun si pemabuk  itu berkata: "Tapi aku ini pemabuk. Kawan-kawanmu pasti tidak mau aku  menyertai mereka dalam perjalanan ini..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan berpikir  begitu! Mereka mencintaimu seperti aku juga demikian. Tidak akan  menjadi masalah bagi mereka jika engkau menyertai mereka dengan  kondisimu seperti ini. Kita akan pergi ke Makkah untuk menunaikan umrah.  Begitu selesai, kita akan segera kembali ke kota ini. kami akan sangat  berbahagia dengan keberadaanmu di sepanjang perjalanan kami..." ujar  pemuda shalih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pemabuk itu berkata, "Apakah  kalian akan mengizinkan aku untuk membawa botol-botol minumanku bersama  kalian, karena aku tidak bisa berpisah darinya sekejap pun?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sangat gembira, pemuda shalih itu menjawab: "Bawalah bersamamu jika memang ia harus dibawa!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan  pemuda shalih itu sangat jauh ke depan, meskipun resikonya sangat besar  jika ia membawa botol-botol minuman itu di dalam mobilnya. Apalagi  dengan membawa serta seorang pemabuk dan dalam kondisi mabuk pula. Sebab  perjalanan ke Makkah dipenuhi pos-pos&amp;nbsp; pemeriksaan polisi. Namun ia  memilih untuk mengambil resiko itu demi menyelamatkan wanita malang itu  bersama anak-anaknya. Karena siapa yang berusaha untuk mewujudkan suatu  tujuan yang agung, semua masalah menjadi kecil dalam pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bangunlah sekarang lalu mandi dan berwudhulah, kemudian kenakan pakaian ihrammu...," ujar pemuda itu pada sang pemabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda  itu keluar menuju mobilnya untuk mengambilkan pakaian ihram khusus  miliknya untuk pria pemabuk itu. Biarlah ia nanti membeli yang lain lagi  untuk ia kenakan. Setelah pria pemabuk itu mulai bersiap-siap, ia  menemui istrinya dan berkata: "Aku akan pergi ke Makkah untuk menunaikan  umrah bersama beberapa orang Syaikh..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binar-binar  kebahagiaan segera memancar di wajah wanita itu ketika mendengarkan  ucapan itu. Ia segera menyiapkan tas suaminya. Pria pemabuk itu segera  mandi dan mengenakan pakaian ihramnya, meski ia masih dalam kondisi  mabuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/303257_1544511990062_1752889223_727202_1458688462_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" class="photo_img img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/303257_1544511990062_1752889223_727202_1458688462_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Pemuda shalih itu menyuruhnya bergegas, jangan  sampai kemudian ia berubah pikiran lagi untuk tidak ikut serta bersama  mereka untuk bersama-sama menunaikan umrah. Ia benar-benar tidak percaya  telah mendapatkan kesempatan besar untuk hanya berdua dengan sang  pemabuk itu dan menjauhkannya dari kondisi yang mengingatkannya untuk  mabuk dan juga dari kawan-kawan jahatnya. Kalau saja ia sadar, boleh  jadi ia tidak akan mau ikut atau setan akan berusaha menahannya dari  pintu lain sehingga tidak mau ikut serta menunaikan umrah bersamanya.  Setelah menghubungi kawan-kawannya, pemuda itu segera pergi menjemput  mereka untuk bersama-sama pergi menunaikan umrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  lama kemudian, mobil itupun meluncur menuju Makkah. Pemuda shalih itu  yang menyetirnya dan disampingnya duduk pria pemabuk itu. Sementara di  kursi belakang duduklah dua orang kawannya yang ikut serta bersama  mereka. Sepanjang perjalanan ia terus membaca surah-surah pendek dan  beberapa hadits Nabi dari kitab Shahih Al Bukhari, dan semuanya membahas  tentang taubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pria pemabuk itu sama sekali  tidak tahu bagaimana membaca surah Al Fatihah. Ketika giliran membaca  itu sampai padanya, ketiga kawan perjalanannya itu harus membacakan  surah itu tiga kali untuk membenarkan bacaannya yang salah tanpa harus  mengatakan: "Kamu salah!" atau "Tidak masuk akal ada orang yang salah  dalam membaca surah Al Fatihah." Demikianlah hingga akhirnya mereka  selesai membaca surah-surah pendek beberapa kali dan juga membaca  Hadits-hadits tentang keutamaan amal shalih, dan pria pemabuk itu  mendengarkan dengan tenangnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebelum tiba di  Makkah, ketiga sahabat itu sepakat bahwa mereka tidak akan masuk ke kota  Makkah kecuali jika kawan pemabuk itu telah benar-benar sadar dari  mabuknya. Mereka memutuskan untuk bermalam di salah satu tempat  peristirahatan dengan alasan kelelahan dan ingin tidur dulu hingga  Shubuh menjelang, untuk kemudian melanjutkan perjalanan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang  pemabuk itu mendesak mereka bahwa ia bisa menyetir mobil itu jika  mereka ingin tidur di dalam mobil itu sepanjang perjalanan, karena ia  tidak bisa tidur sama sekali. Namun mereka mengatakan: "Terima kasih,  Jazakallah khairan dan semoga Allah memberkahimu. Tapi kami ingin  menikmati perjalanan ini bersamamu. Biarlah&amp;nbsp; kita menghabiskan waktu  sebanyak mungkin bersama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun terpaksa menyetujuinya.  Mereka akhirnya masuk ke salah satu tempat peristirahatan di pinggir  jalan. Mereka menyiapkan sebuah alas tidur untuk kawan pemabuk mereka  dan mereka sengaja mengaturnya tidur di antara mereka agar ia dapat  melihat apa yang nanti mereka kerjakan. Mereka kemudian membahas etika  tidur dan bagaimana mereka tidur sesuai dengan sunnah sebagaimana Nabi  shalallahu alaihi wasallam tidur. Kawan pemabuk itu memperhatikan dan  mengikuti apa yang mereka lakukan, hingga beberapa menit kemudian ia pun  tertidur dengan lelapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tiba waktu Shubuh,  ketiga sahabat itu bangun dan mengerjakan shalat malam di sepertiga  akhir malam. Mereka mendoakan kawan pemabuk mereka yang terlelap dalam  tidurnya akibat pengaruh alkohol. Mereka sujud dan berdoa di hadapan  Allah untuk memberikannya petunjuk dan mengembalikannya ke dalam  agama-Nya dengan sebaik-baiknya. Ketika ia masih terlelap dalam  tidurnya, tiba-tiba ia terbangun dan melihat ketiga pemuda itu sedang  mengerjakan shalat malam. Mereka menangis dan meratap di hadapan Allah.  Tiba-tiba menyelusup&amp;nbsp; sebuah perasaan takut dalam dirinya. Ia mulai  sadar dari mabuknya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus  mengawasi apa yang dilakukan oleh pemuda itu di waktu malam. Sementara  ia dibalik selimutnya menyembunyikan tubuhnya yang rapuh, kegelisahannya  yang berat serta rasa malunya yang begitu besar kepada para pemuda itu  dan juga kepada Allah. Ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri:  "Bagaimana mungkin aku pergi bersama orang-orang shalih itu, mereka  bangun mengerjakan shalat malam, menangis karena takut kepada Allah,  mereka tidur dan makan seperti Sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam,  sementara aku dalam kondisi mabuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan  itu berkecamuk di kepalanya hingga ia mulai tidak bisa melanjutkan  tidurnya kembali. Dan tidak lama kemudian muadzin mengumandangkan adzan  Shubuh. Ketiga pemuda itu kembali ke pembaringan mereka seakan mereka  tidak pernah bangun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian,  mereka pun membangunkan kawan pemabuk itu untuk shalat Shubuh. Mereka  tidak tahu bahwa sejak tadi ia mengawasi apa yang mereka lakukan dari  balik selimutnya. Ia pun bangun untuk berwudhu, lalu pergi ke masjid  untuk melaksanakan shalat Subuh bersama ketiga pemuda itu. Kali ini  sudah jauh lebih seimbang dari sebelumnya. Ia mengerjakan shalat Subuh  bersama mereka, lalu kembali ke tempat istirahatnya bersama ketiga  kawannya yang ia cintai karena sifat-sifat mulia dan keteguhan mereka  berpegang pada agama dan memperlakukannya dengan hormat sebagaimana  layaknya manusia. Dan ia belum pernah melihat yang seperti itu  sebelumnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/303006_1544526070414_1752889223_727210_868033969_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" class="photo_img img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/303006_1544526070414_1752889223_727210_868033969_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah  itu, mereka menyiapkan sarapan pagi dan berupaya berkhidmat melayani  kawan pemabuk itu seakan dialah pemimpinnya dan mereka adalah para  pembantu yang melayani dan memuliakannya. Dari waktu ke waktu, mereka  berbicara dengan kalimat-kalimat yang indah, sehingga ia merasa sangat  bahagia di tengah mereka. Ia mulai membandingkan keadaannya&amp;nbsp; diantara  para tetangganya yang mengatakan sangat membencinya. Ia mendengarkan  obrolan mereka tentang adab-adab makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kemudian  makan apa yang ada hingga tiba waktu syuruq (terbitnya matahari).&amp;nbsp;  Mereka lalu berdiri mengerjakan shalat dhuha, lalu kembali tidur hingga  kurang lebih jam 10 pagi agar dapat meyakinkan bahwa kawan mereka yang  satu itu benar-benar telah sadar sepenuhnya dari mabuknya dan kembali  normal seperti sedia kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ia sadar kembali,  barulah kawan pemabuk itu merasa malu dan tidak enak hati. Ia kemudian  menarik kawan pemudanya dan berbisik: "Bagaimana mungkin engkau  mengajakku dalam keadaan mabuk bersama para 'Syaikh' yang shalih itu?  Mudah-mudahan Allah memaafkanmu! Lagipula aku menemukan botol minumanku  ada di mobil. Siapa pula yang membawanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda shalih  itu menjawab: "Akulah yang membawanya setelah aku melihatmu bersikeras  untuk membawanya dan engkau tidak akan ikut serta bersama kami jika  engkau tidak membawanya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kawan-kawanmu itu melihatnya?" tanya kawan pemabuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak. Mereka tidak melihatnya karena ia berada dalam sebuah kantong hitam," jawab si pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alhamdulillah, syukurlah jika mereka tidak melihatnya...," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;img alt="" class="photo_img img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc7/301463_1544515830158_1752889223_727205_1375054827_a.jpg" /&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/298177_1544517990212_1752889223_727206_508869476_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" class="photo_img img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/298177_1544517990212_1752889223_727206_508869476_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah  itu, mereka pun bergerak menuju Makkah. Kawan pemabuk itu bersama  mereka. Dan apa yang mereka lakukan terhadapnya pada awal perjalanannya  itu pula yang mereka lakukan terhadapnya dalam perjalanan lanjutan itu.  Mereka membaca surah-surah pendek dan hadits-hadits motivasi sepanjang  perjalanan. Mereka memperhatikan bahwa kawan pemabuk itu sudah mulai  membaca surah-surah pendek itu lebih baik dari sebelumnya. Banyak yang  mereka baca sepanjang perjalanan itu hingga mereka tiba di Makkah dan  memasuki Masjidil Haram. Dan mereka tetap memuliakan kawan pemabuk  mereka itu dengan sebaik-baiknya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka  melakukan thawaf dan sa'i, kemudian meminum air zamzam. Lalu kawan  pemabuk itu meminta izin untuk pergi ke Multazam (dinding yang terletak  di Ka'bah antara Hajar Aswad dengan Pintu Ka'bah). Mereka pun  mengizinkannya, dan ia kemudian pergi kesana bersama pemuda shalih  itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/309309_1544520510275_1752889223_727207_173774475_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" class="photo_img img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/309309_1544520510275_1752889223_727207_173774475_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Ia berpegang di multazam dan mulai menangis dengan  suara seakan tiang-tiang Ka'bah itu bergetar oleh tangisan dan ratapan  pria pemabuk itu. Air matanya menetes membasahi pelataran Ka'bah. Pemuda  shalih itu mendengar tangisannya, dan ia pun menangis seprti itu. Ia  mendengarkan doanya, lalu mengaminkannya dari belakang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah  pemandangan yang menggetarkan hati jika engkau melihatnya. Pria mabuk  itu berdoa kepada Allah agar berkenan menerima taubatnya. Ia berjanji  pada Allah untuk tidak akan kembali pada minuman keras lagi dan ia  memohon agar Allah mau menolongnya untuk itu. Tidak ada doa yang ia  ketahui selain: "Ya Tuhanku, kasihinilah aku. Ya Tuhanku, aku sudah  terlalu banyak melakukan dosa, maka kasihinilah aku, karena Engkau  adalah Penguasa langit dan bumi. Jika engkau menolakku dari pintu  Rahmat-Mu, maka kepada siapa aku harus kembali. Jika Engkau tidak  menerima taubatku, maka siapa lagi selain-Mu yang akan mengasihiku.  Duhai Tuhanku, sungguh pintu-pintu rahmat-Mu terbuka luas dan aku  memohon pada-Mu jangan Kau menolakku sia-sia..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doanya  benar-benar menggetarkan jiwa sampai-sampai membuat orang-orang di  dekatnya ikut pula menangis. Tangisannya sungguh membuat terenyuh hati,  seakan engkau merasa ruhnya telah lepas terbang menuju langit ketika ia  mulai berdoa pada Tuhannya. Ia menangis dan memohon pertolongan hingga  kawan pemudanya benar-benar merasakan keprihatinan yang sangat dalam. Ia  terus berada dalam kondisi seperti ini&amp;nbsp; selama satu jam. Ia tak  berhenti menangis, meratap dan berdoa kepada Allah, sementara kawan  pemudanya ikut menangis dibelakangnya. Sebuah pemandangan yang luar  biasa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria berusia lebih 40 tahun, bergantung  di kain kiswah Ka'bah. Dan yang paling membuat hati tersentuh untuk  menangis adalah doa yang diucapkannya: "Duhai Tuhanku, aku selalu  memukul dan mengusir istriku jika aku larut dalam mabukku, ampunilah aku  ya Allah atas semua yang kulakukan terhadapnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya  Tuhanku, sesungguhnya kasih sayang-Mu meliputi segala sesuatu, dan aku  mohon kepada-Mu, Tuhanku agar Engkau meliputiku dengan rahmat-Mu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku, aku berdiri di hadapan-Mu, maka jangan Engkau membiarkanku dengan tangan kosong...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku, jika Engkau tidak mengasihiku, maka siapa lagi selain-Mu yang akan mengasihiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya  Tuhanku, sungguh aku bertaubat, maka terimalah taubatku. Katakanlah  padaku: 'Aku datang, Aku datang, wahai hamba-Ku!' Ya Tuhanku, kumohon  jangan palingkan wajh-Mu dariku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Tuhanku, lihatlah kepadaku, karena aku telah memenuhi bumi ini dengan airmata yang ada padaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai  Tuhanku, sungguh aku berdiri di hadapan-Mu, aku kini bertamu di  rumah-Mu yang dimuliakan, maka jangan perlakukan aku seperti manusia  memperlakukankukarena manusia itu jika aku meminta pada mereka, mereka  menolakku bahkan meremehkanku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhanku, lapangkanlah  dadaku, terangilah mata hatiku. Ya Allah, buatlah cahaya-Mu itu  meliputiku, buatlah aku benci kepada minuman keras sepanjang hidupku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku,  janganlah Engkau marah kepadaku dan janganlah Engkau murka padaku  betapa seringnya aku membuat-Mu marah dengan dosa-dosaku yang tak  terhitung. Aku durhaka padamu dan Engkau melihat apa yang kuperbuat..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat  seperti itu, pemuda shalih itu memintanya agar mendoakannya pula kepada  Allah. Tapi permintaan itu justru membuatnya semakin menangis, ia  mengatakan: "Ya Tuhanku, apakah dari orang seperti aku diminta untuk  mendoakan orang lain?!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhanku, aku sungguh telah  durhaka pada-Mu selama 25 tahun lamanya. Namun Engkau tak meninggalkanku  dan membiarkanku tenggelam dalam dosa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku, aku adalah orang fasik dan berdosa, aku berdiri di pintu-Mu, maka jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang shalih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah  ia terus meratap dan menangis. Engkau tak akan mendengarkan apa-apa  selain suara yang diliputi kesedihan dan ratapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muadzin  mengumandangkan adzan Ashar. Mereka pun duduk untuk mengerjakan shalat,  sementara sang pemabuk yang telah bertaubat itu masih saja bergantung di  kain penutup Ka'bah, menangis hingga kawannya benar-benar kasihan  padanya, lalu kemudian memapahnya untuk duduk di shaf orang-orang yang  shalat agar ia dapat beristirahat dari tangisannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/320580_1544522710330_1752889223_727208_1066711864_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" class="photo_img img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/320580_1544522710330_1752889223_727208_1066711864_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Pemuda  itu memapahnya dan memelukknya seakan ia adalah ibu atau ayahnya. Ia  pun mengerjakan shalat dua rakaat sebelum Ashar yang semuanya diliputi  tangisan dengan suara sesenggukan yang menyayat hati dan menggetrakan  hati orang-orang di sekelilingnya. Sungguh, doa sang istri di tengah  malam telah dikabulkan oleh Allah. Doa sang pemuda shalih itu juga  akhirnya berbuah manis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu  pula doa kawan-kawannya yang lain di waktu malam, semuanya telah  mencapai tujuan yang ingin mereka capai dari perjalanan mereka itu.  Benarlah bahwa doa itu dapat membuat seorang berubah menjadi sosok yang  berbeda dalam sekejap saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat pun selesai sudah  ditunaikan. Mereka kemudian keluar dari Masjidil Haram untuk mencari  hotel di dekat Masjid itu dan airmata masih saja mengalir memenuhi  wajahnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan salah seorang dari rombongan itu  adalahseorang hafizh al Quran. Dan ia adalah orang yang sangat tawadhu,  rendah hati dan murah senyum. Maka ketika ia melihat betapa besarnya  perubahan kawan pemabuk mereka itu, ia pun semakin memuliakannya,  sampai-sampai ia bersikeras untuk membawakan sendal sang pemabuk untuk  dikenakannya di luar pintu Masjidil Haram. Tindakan dari sang Hafizh Al  Quran ini menyeruakkan berbagai perasaan luar biasa yang hanya diketahui  oleh Allah dalam hati sang pemabuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akhirnya  menyewa kamar di sebuah hotel yang tidak jauh dari Masjidil Haram.  Disana mereka tinggal selama lima hari dan pemabuk yang telah bertaubat  itu setiap hari di waktu shalat datang ke Masjidil Haram, bergantung di  Multazam, menangis dan membuat orang-orang di dekatnya ikut menangis.  Dan di waktu malam, ia bangun untuk shalat dan menangis. Nyaris engkau  tidak pernah melihatnya tidur. Siang hari ia menangis di Masjidil Haram,  lalu di waktu malam ia bangun untuk shalat dan berdoa pada Allah dengan  suara penuh tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/304881_1544524630378_1752889223_727209_2060119505_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" class="photo_img img" src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/304881_1544524630378_1752889223_727209_2060119505_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Dan setelah perjalanan itu usai,  mereka pun kembali ke kota mereka. Ketika mereka sedang dalam perjalanan  pulang, 'sang pemabuk' itu meminta agar mereka berhenti sebentar.  Mereka pun berhenti sebentar mengikuti permintaannya. 'Sang pemabuk' itu  kemudian mengeluarkan botol minumannya dari kantong hitam di depan  kawan pemudanya dan dua kawan lain yang menyertainya. Ia menuangkan  semua isinya dan berkata: "Persaksikanlah hari yang sangat agung dalam  hidupku ini, aku tidak akan kembali lagi meminumnya..." Ia menuangkan  semua isinya sambil menangisi semua dosa yang telah ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="photo_left"&gt;&lt;span class="caption"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata  kawan-kawannya pun dipenuhi air mata. Mereka ingin berbicara namun  mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Airmata jauh lebih kuat  daripada sebuah ucapan. Mereka pun menangis. Mereka lalu melanjutkan  perjalanan mereka. Kebisuan meliputi perjalanan itu, lalu suara  sesengguk mulai terdengar dan tiba-tiba suara tangispun meliputi  mereka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mereka akhirnya tiba di kota mereka,  mereka berkata kepadanya: "Sekarang engkau akan masuk ke rumahmu dengan  wajah berseri-seri, penuh kasih dan sayang kepada keluargamu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka  memberinya nasihat untuk memperlakukan anak istrinya dengan baik dan  menjaga shalat berjamaahnya di masjid dekat rumahnya. Jika ia terus  meniti jalan petunjuk dan taubat itu akan menjadi sebab ia mendapatkan  rahmat Allah. "Demi Allah, aku tidak akan pernah mendurhakai Allah untuk  selamanya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insya Allah," ujar kawan-kawan seperjuangannya dengan airmata yang memenuhi kelopak mata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  akhirnya tiba di rumahnya. Ia masuk menemui istri dan anak-anaknya dan  kondisinya telah benar-benar jauh berbeda. Sang istri tidak berusaha  menyembunyikan rasa gembiranya atas apa yang ia saksikan. Ia menangis  dan memeluk suaminya. Suaminya pun menangis dan mengecup keningnya. Ia  kemudian mengecup anak-anaknya satu persatu sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari  selanjutnya ia penuhi dengan kehadirannya untuk shalat di masjid dekat  rumahnya. Perlahan-lahan tanda-tanda kebaikan nampak di wajahnya.  Jenggotnya ia pelihara dan nampak memutih. Wajahnya mulai memancarkan  tanda-tanda kebahagiaan. Ia seperti baru dilahirkan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah  hari demi hari berlalu, hingga suatu hari ia meminta kepada imam masjid  untuk dapat membantu muadzin mengumandangkan adzan setiap hari. Sang  imam menyetujuinya, hingga akhirnya sang muadzin resmi masjid itu  meninggal dunia. Ia pun menggantikan kedudukannya. Ia juga mulai  menghadiri majelis-majelis ilmu. Lalu ia memutuskan untuk menghafalkan  Al Quran hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan hafalannya.Ia  kemudian diangkat menjadi iamm Masjid di samping rumahnya, hingga hari  ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: 'Apakah Ada Yang Mengambil Pelajaran', Chicken Soup for Mulim, Penerbit Sukses Publishing)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diposting oleh: &lt;a href="https://www.facebook.com/notes/abu-fahd-negaratauhid/perjalanan-pria-pemabuk-dengan-pemuda-salafi-true-story/10150304859791712?ref=notif&amp;amp;notif_t=note_reply"&gt;Abu Fahd Negara Tauhid&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A’isyah  radhiyallahu ‘anha pernah mengomentari masalah ini dengan sangat   mengagumkan, bahwa sesungguhnya yang pertama kali Allah turunkan adalah   ayat-ayat mengenai Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baru setelah   para sahabat kuat imannya, diturunkan ayat-ayat tentang halal dan  haram.  Lalu Aisyah berkata : Seandainya yang pertama kali Allah  turunkan  adalah larangan: jangan engkau meminum khamer, niscaya mereka  akan  menjawab: kami tidak akan meninggalkan&amp;nbsp; khamer selamanya. Dan  seandainya  yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan  engkau  berzina, niscaya mereka akan menjawabnya: kami tidak akan  meninggalkan  zina selamanya. (HR Bukhari no. 4609).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ket: Foto diatas hanya illustrasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-4212079305768017887?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/4212079305768017887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/10/perjalanan-pria-pemabuk-dengan-pemuda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/4212079305768017887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/4212079305768017887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/10/perjalanan-pria-pemabuk-dengan-pemuda.html' title='Perjalanan Pria Pemabuk dengan Pemuda Shalih'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-2746508647683680668</id><published>2011-09-26T21:31:00.000+09:00</published><updated>2011-09-26T21:31:43.434+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halal Haram'/><title type='text'>Hukum Cuka</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-llk9nYgDjTg/Tn81AZhCw1I/AAAAAAAAA2U/BSRx-X6xH1w/s200/cuka-jauzaa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-llk9nYgDjTg/Tn81AZhCw1I/AAAAAAAAA2U/BSRx-X6xH1w/s200/cuka-jauzaa.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Tanya : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Apa hukum memakan atau meminum cuka ?. Saya pernah membaca dalam satu Blog bahwa cuka itu haram hukumnya. Terima kasih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify;"&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Jawab :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt; Cuka secara tabiat (&lt;i&gt;thaabi’iy&lt;/i&gt;) adalah halal menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalil dari Al-Qur’an adalah firman-Nya &lt;i&gt;ta’ala &lt;/i&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; text-align: right;"&gt; &lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="color: black; font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify;"&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;“Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;” [QS. Al-Baqarah : 57].&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Cuka termasuk makanan yang baik. Tidak ada dalil yang mengharamkannya, sehingga ia halal hukumnya. Dan yang menguatkan bahwa cuka termasuk makanan yang baik adalah riwayat :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; text-align: right;"&gt; &lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="color: black; font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;عَنْ عَائِشَةَ، أَنّ النَّبِيَّ &lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="color: black; font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt; قَالَ: " نِعْمَ الْأُدُمُ أَوِ الْإِدَامُ الْخَلُّ ".&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Dari ‘Aaisyah : Bahwasannya Nabi &lt;i&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam &lt;/i&gt;bersabda : “&lt;i&gt;&lt;u&gt;Sebaik-baik&lt;/u&gt; bumbu/lauk adalah cuka&lt;/i&gt;” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2051, At-Tirmidziy no. 1840, Ibnu Maajah no. 3316, Ad-Daarimiy no. 2055, dan yang lainnya].&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; text-align: right;"&gt; &lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="color: black; font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ: أَنّ النَّبِيَّ &lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="color: black; font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt; سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدُمَ، فَقَالُوا: مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ، فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ، وَيَقُولُ: " نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ "&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Dari Jaabir bin ‘Abdillah : Bahwasannya Nabi &lt;i&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; pernah bertanya kepada keluarganya tentang lauk. Mereka berkata : “Tidak ada di sisi kami kecuali cuka”. Maka beliau menyuruh untuk diambilkan dan kemudian makan dengannya. Beliau bersabda : “&lt;i&gt;&lt;u&gt;Sebaik-baik&lt;/u&gt; lauk adalah cuka, &lt;u&gt;sebaik-baik&lt;/u&gt; lauk adalah cuka&lt;/i&gt;” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2052, At-Tirmidziy no. 1839 &amp;amp; 1842, Ibnu Abi Syaibah 8/337, Ahmad 3/301 &amp;amp; 304 &amp;amp; 353 &amp;amp; 364 &amp;amp; 379 &amp;amp; 389 &amp;amp; 390 &amp;amp; 400, Ad-Daarimiy no. 2054, Abu Daawud no. 3820 &amp;amp; 3821, dan yang lainnya].&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Para ulama tidak berbeda pendapat mengenai hal ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Cuka yang berasal dari bahan yang halal hukumnya halal. Dan ini banyak beredar di pasaran. Adapun cuka yang berasal dari bahan yang haram, khamr misalnya, maka ini ada dua keadaan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt; &lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;1.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Cuka tersebut didapat melalui proeses rekayasa, maka hukumnya haram. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Dasarnya adalah :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: right;"&gt; &lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;عَنْ أَنَسٍ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الْخَمْرِ تُتَّخَذُ خَلًّا، فَقَالَ: لَا "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Dari Anas : Bahwasannya Nabi &lt;i&gt;shallallaahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; pernah ditanya tentang khamr yang dijadikan cuka. Maka beliau menjawab : “&lt;i&gt;Tidak boleh&lt;/i&gt;” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1983, Ahmad 3/119 &amp;amp; 180 &amp;amp; 260, At-Tirmidziy no. 1294, Abu Daawud no. 3675, Abu ‘Awaanah no. 7977, Abu Ya’laa no. 4045 &amp;amp; 4051, Ath-Thahawiy dalam &lt;i&gt;Syarh Musykilil-Aatsaar&lt;/i&gt;&amp;nbsp;no. 3335-3339, Al-Baihaqiy 6/36, Al-Qaasim bin Sallaam dalam &lt;i&gt;Al-Amwaal&lt;/i&gt;&amp;nbsp;no. 282, &amp;nbsp;dan yang lainnya].&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt; &lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;2.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Cuka didapat tanpa melalui proses rekayasa (berubah secara alami), maka ini halal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Bahkan, telah dinukil &lt;i&gt;ijma’&lt;/i&gt;&lt;a href="" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; akan hal ini sebagaimana dikatakan oleh An-Nawawiy &lt;i&gt;rahimahullah &lt;/i&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: right;"&gt; &lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;وَأَجْمَعُوَا أَنَّهَا إِذَا انْقَلَبَتْ بِنَفْسِهَا خَلا طَهُرَتْ ....&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: #f5fff5; background-image: initial; background-origin: initial; color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 7.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; tab-stops: 148.7pt; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;“Dan para ulama telah sepakat bahwasannya jika khamr telah berubah dengan sendirinya menjadi cuka, ia menjadi suci....” [&lt;i&gt;Syarh Shahih Muslim&lt;/i&gt;, 13/125].&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; tab-stops: 148.7pt; text-align: justify;"&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Wallaahu a’lam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; tab-stops: 148.7pt; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;[abul-jauzaa’ – jl. Arjuna 4/6, wonokarto, wonogiri].&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: -21.3pt;"&gt; &lt;a href="" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagian orang salah paham dalam menisbatkan &lt;i&gt;ijma’&lt;/i&gt; ini. Yang dikatakan &lt;i&gt;ijmaa’&lt;/i&gt; oleh ulama adalah sucinya khamr yang berubah menjadi cuka secara alami. Namun jika dibuat dengan rekayasa, tidak ada &lt;i&gt;ijmaa’&lt;/i&gt;. At-Tirmidziy &lt;i&gt;rahimahullah &lt;/i&gt;menjelaskan secara singkat sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 21.3pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: right;"&gt; &lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="color: black; font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;وقَالَ بِهَذَا بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ: وَكَرِهُوا أَنْ تُتَّخَذَ الْخَمْرُ خَلَّا، وَإِنَّمَا كُرِهَ مِنْ ذَلِكَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ، أَنْ يَكُونَ الْمُسْلِمُ فِي بَيْتِهِ خَمْرٌ، حَتَّى يَصِيرَ خَلَّا، وَرَخَّصَ بَعْضُهُمْ فِي خَلِّ الْخَمْرِ، إِذَا وُجِدَ قَدْ صَارَ خَلًّا أَبُو الْوَدَّاكِ اسْمُهُ: جَبْرُ بْنُ نَوْفٍ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma, sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Sebagian ulama mengatakan : ‘Mereka (para ulama) memakruhkan khamr yang dijadikan cuka. Dimaruhkannya hal tersebut, &lt;i&gt;wallaahu a’lam&lt;/i&gt;, adalah : bagaimana bisa terdapat khamr di rumah seorang muslim hingga berubah menjadi khamr’. Sebagian ulama memberi keringanan cuka yang berasal dari khamr, apabila seseorang telah mendapatinya berubah menjadi cuka (tanpa proses rekayasa)” [&lt;i&gt;Al-Jaami’&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Sumber:&lt;a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/09/hukum-cuka.html"&gt; Abul-Jauzaa Blog&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-2746508647683680668?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/2746508647683680668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/09/hukum-cuka.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/2746508647683680668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/2746508647683680668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/09/hukum-cuka.html' title='Hukum Cuka'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-llk9nYgDjTg/Tn81AZhCw1I/AAAAAAAAA2U/BSRx-X6xH1w/s72-c/cuka-jauzaa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-1416730934644069595</id><published>2011-07-24T20:18:00.000+09:00</published><updated>2011-07-24T20:18:50.384+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muslimah'/><title type='text'>Sudah Tidak Diganggu Haruskah Berjilbab?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQcsjmqfrO0IkIRIrW6YJ0sKqNA4yVmp_i7FLU3lqzBRxibnMTv" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="224" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQcsjmqfrO0IkIRIrW6YJ0sKqNA4yVmp_i7FLU3lqzBRxibnMTv" width="144" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ  وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ  ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا  رَحِيمًا&lt;br /&gt;Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu  dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah  untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha  Pengampun lagi Maha Penyayang.” &lt;b&gt;(Al-Ahzab:59)&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;Wahai ukhti muslimah,… ayat ini ternyata dijadikan dalil oleh suatu  kaum untuk menyanggah bahwa jilbab hanya dipakai dalam kondisi diganggu,  kalau tidak ada gangguan sah-sah saja membuka jilbab,..banyak saudari  kita yang ilmunya masih minim termakan syubhat ini. Lalu apakah memang  benar demikian?&lt;br /&gt;&lt;span id="more-585"&gt;&lt;/span&gt;Percakapan inilah yang pernah penulis dengar:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Aman-aman saja kok, keluar tanpa jilbab, ga ada yang  ganggu kita tuh! Buktinya justru yang pake jilbab dikomentari  macem-macem,… Lagian liat dong ada ayatnya kenapa harus pake jilbab  yaitu agar tidak diganggu,…iya kan? Nah kondisi nya waktu ayat itu turun  ga aman, sekarang sudah aman, ga ada yang ganggu wanita muslimah keluar  tanpa jilbab,..jadi sebabnya udah hilang dengan kata lain jadinya  jilbab tu ga wajib gitu…..”&lt;/blockquote&gt;Waduh, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kalau syubhat ini di  diamkan begitu saja.Keraguan semakin bertambah dan ujung-ujungnya ‘ogah’  pake jilbab. Lalu mencemoh muslimah lain yang pake jilbab.&lt;br /&gt;Wahai ukhti muslimah,… syubhat tersebut sangat lemah bahkan lebih  lemah dari sarang laba-laba. Cobalah tengok apa benar kenyataannya bahwa  wanita yang tidak berjilbab tidak diganggu?Justru malah sebaliknya.  Tengoklah berapa banyak kasus pemerkosaan terjadi karena wanita yang  mengumbar auratnya. Di USA negara yang serba bebas ini mendapat laporan  dari kantor polisi bahwa setiap 5 hingga 6 menit wanita USA diperkosa.&lt;sup&gt;&lt;a class="footnote-link footnote-identifier-link" href="http://jilbab.or.id/archives/585-sudah-tidak-diganggu-haruskah-berjilbab/#footnote_0_585" id="identifier_0_585" title="Penulis dengar dari ABC radio Australia"&gt;1&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Sangat menyedihkan fakta yang tidak bisa ditutupi. Dengan demikian  benarlah firman-Nya bahwa Allah telah menjelaskan hikmah dari perintah  mengulurkan jilbabnya adalah bahwa wanita yang diselimuti jilbab, maka  dapatlah dimengerti bahwa dia itu seorang wanita yang bersih, terjaga  dan berperilaku baik. Sehingga orang-orang fasik tidak berani mengganggu  dan menyakitinya. Berbeda dengan seorang wanita yang keluar dari rumah  dengan membuka auratnya, tentu yang demikian ini akan menjadi incaran  orang-orang fasik serta akan digoda oleh mereka, seperti yang dapat di  saksikan di setiap tempat dan masa. Oleh karena itu, Allah memerintahkan  seluruh wanita mukminat agar mengenakan jilbab untuk menjaga hal-hal  yang tidak diinginkan.&lt;sup&gt;&lt;a class="footnote-link footnote-identifier-link" href="http://jilbab.or.id/archives/585-sudah-tidak-diganggu-haruskah-berjilbab/#footnote_1_585" id="identifier_1_585" title="Jilbab Wanita Muslimah hal: 98"&gt;2&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"&gt;Kemudian  marilah kita lihat dengan seksama ayat diatas (surat Al-Ahzab ayat 33)  adalah perintah Allah kepada wanita muslimah untuk memakai jilbab.  Adapun supaya bisa lebih dikenal dan tidak diganggu bukanlah alasan  untuk memakai jilbab,akan tetapi itu adalah dampak atau akibat positif  bagi yang berjilbab. Bahwa orang yang berjilbab, disebabkan ia berjilbab  dia lebih dikenal dan mudah dibedakan antara wanita muslimah dengan  wanita non muslimah. Karena dengan berjilbab dia lebih terhindar dari  gangguan orang yang nakal.Seperti orang sholat, kaum muslimin  diperintahkan untuk sholat, Allah berfirman :&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Times New Roman','serif'; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;“tegakkanlah(dirikanlah) shalat untuk mengingatku,” &lt;b&gt;(Thaha :14)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"&gt;Apakah orang yang sudah ingat Allah dia sudah sholat?Tentu&amp;nbsp; tidak!  Begitu pula sama dengan orang yang mengatakan : makan untuk kenyang,  apakah orang yang merasa kenyang walaupun dia tidak makan dikatakan  sebagai orang yang telah makan? Tentu tidak demikian. Orang yang  shalat,tapi dia tidak mengingat Allah dalam shalatnya berarti dia belum  shalat.Begitu juga dengan jilbab,orang yang berjilbab dia memakai jilbab  agar tidak diganggu, bukan berarti orang yang tidak diganggu tidak  perlu berjilbab.Bukankah bunyi surat Al-ahzab ayat 33 ini hampir sama  pengertiannya dengan firman Allah tentang seorang budak yang tidak ingin  melacur karena menginginkan kesucian Kemudian &amp;nbsp;Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA" style="font-family: 'Times New Roman','serif'; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;“ Janganlah kamu paksa  budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri  mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi” &lt;b&gt;(An-Nuur :33)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;Apakah boleh kita menyuruh budak perempuan kita untuk melacur apabila mereka menginginkannya?! Jawabannya adalah : tentu tidak!!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;Selain itu perintah Allah pada wanita muslimah untuk berjilbab terdapat pula pada surat An-Nuur ayat 31:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ&lt;br /&gt;“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya”&lt;/blockquote&gt;Simaklah perkataan Aisyah radiyallahu anha mengenai ayat ini :&lt;br /&gt;“Semoga Allah merahmati kepada wanita-wanita Muhajirin yang pertama, yang tatkala Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya: &lt;i&gt;”Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya”&lt;/i&gt;  mereka lantas merobek kain tak berjahit yang mereka kenakan itu, lalu  mereka berkerudung dengannya. (Dalam riwayat lain disebutkan:) Lalu  mereka pun merobek sarung-sarung mereka dari pinggir, kemudian  berkerudung dengannya”&lt;sup&gt;&lt;a class="footnote-link footnote-identifier-link" href="http://jilbab.or.id/archives/585-sudah-tidak-diganggu-haruskah-berjilbab/#footnote_2_585" id="identifier_2_585" title="HR. Bukhari 2/182 dan 8/397, Abu Daud, Hakim 4/194 lihat takrij hadits ini secara lengkap di “Jilbab Wanita Muslimah”, Syaikh Albani hal:87."&gt;3&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;Akan dikemanakan kah surat An-Nuur ayat 31, juga hadits diatas?  Selain itu ada hadits yang sangat kuat yang menjelaskan wajibnya kaum  muslimah keluar mengenakan jilbab yang di bawakan oleh Ummu Athiyah  radiyallahu anha beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Rasulullah memerintahkan kami agar keluar pada hari  ‘ledul Fithri maupun ‘ledul Adha; baik para gadis yang menginjak akil  baligh, wanita-wanita yang sedang haid maupun wanita-wanita pingitan.  Wanita-wanita yang haid tetap meninggalkan shalat, namun mereka dapat  menyaksikan kebaikan (mendengarkan nasehat) dan dakwah kaum muslimin.  Aku bertanya : Ya Rasulullah, salah seorang dari kami ada yang tidak  memiliki jilbab? Beliau menjawab : Kalau begitu hendaklah saudarinya  meminjamkan jilbabnya (agar ia keluar dengan ber jilbab)!” &lt;b&gt;(HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/b&gt;.&lt;sup&gt;&lt;a class="footnote-link footnote-identifier-link" href="http://jilbab.or.id/archives/585-sudah-tidak-diganggu-haruskah-berjilbab/#footnote_3_585" id="identifier_3_585" title="Hadits Bukhari no.324 dan Muslim no.431 lihat Ringkasan Shahih Muslim hal : 246."&gt;4&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/blockquote&gt;Hadits ini merupakan dalil yang tak terbantahkan, dapat difahami  dengan sejelas-jelasnya sabda beliau dan tak bisa di utak-atik maknanya  oleh orang-orang yang senang mengekor hawa nafsu.&lt;br /&gt;Wahai ukhti muslimah,…tanpa memakai jilbab saja manusia tak akan  hentinya berkomentar dan mengkritik apa yang kita lakukan karena memang  demikianlah tabiat manusia tidak ada puasnya. Apalagi kita yang berusaha  untuk taat menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya tentu lebih berat  lagi ujiannya.Hanya perlu kita camkan dan garis bawahi adalah semakin  kita mengikuti kebanyakan orang semakin menyesatkan kita dari jalan yang  di ridhai-Nya sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ  سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا  يَخْرُصُونَ&lt;br /&gt;“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini,  niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain  hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah  berdusta (terhadap Allah)” &lt;b&gt;(Al-An’aam :116)&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;Cukuplah sudah kita berlepas diri dari pendapat ‘kebanyakan orang’  tak ada yang kita dapati melainkan syubhat-syubhat yang justru  melemahkan keimanan kita.Dan tak ada jawaban yang patut di keluarkan  dari lisan-lisan kaum muslimin dan muslimah terhadap perintah Allah dan  Rasul-Nya melainkan kami dengar dan kami ta’at (&lt;i&gt;Sami’na wa atha’na&lt;/i&gt;) karena dari jawaban inilah kunci kesuksesan di dunia dan akhirat sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى  اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا  وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ&lt;/blockquote&gt;Sesungguhnya jawaban oran-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada  Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka  ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah  orang-orang yang beruntung. &lt;b&gt;(AN-Nuur :51)&lt;/b&gt;. Wallahu ‘alam.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Artikel ini telah di muraja’ah (di cek)&amp;nbsp;oleh ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;b&gt;Catatan kaki:&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;ol class="footnotes"&gt;&lt;li class="footnote" id="footnote_0_585"&gt;Penulis dengar dari ABC radio Australia [&lt;a class="footnote-link footnote-back-link" href="http://jilbab.or.id/archives/585-sudah-tidak-diganggu-haruskah-berjilbab/#identifier_0_585"&gt;↩&lt;/a&gt;]&lt;/li&gt;&lt;li class="footnote" id="footnote_1_585"&gt;Jilbab Wanita Muslimah hal: 98 [&lt;a class="footnote-link footnote-back-link" href="http://jilbab.or.id/archives/585-sudah-tidak-diganggu-haruskah-berjilbab/#identifier_1_585"&gt;↩&lt;/a&gt;]&lt;/li&gt;&lt;li class="footnote" id="footnote_2_585"&gt;HR. Bukhari 2/182 dan 8/397, Abu Daud, Hakim 4/194 lihat takrij hadits ini secara lengkap di &lt;b&gt;“Jilbab Wanita Muslimah”&lt;/b&gt;, Syaikh Albani hal:87. [&lt;a class="footnote-link footnote-back-link" href="http://jilbab.or.id/archives/585-sudah-tidak-diganggu-haruskah-berjilbab/#identifier_2_585"&gt;↩&lt;/a&gt;]&lt;/li&gt;&lt;li class="footnote" id="footnote_3_585"&gt;Hadits Bukhari no.324 dan Muslim no.431 lihat &lt;b&gt;Ringkasan Shahih Muslim&lt;/b&gt; hal : 246. [&lt;a class="footnote-link footnote-back-link" href="http://jilbab.or.id/archives/585-sudah-tidak-diganggu-haruskah-berjilbab/#identifier_3_585"&gt;↩&lt;/a&gt;]&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://jilbab.or.id/archives/585-sudah-tidak-diganggu-haruskah-berjilbab/"&gt;Jilbab Online &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-1416730934644069595?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/1416730934644069595/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/07/sudah-tidak-diganggu-haruskah-berjilbab.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/1416730934644069595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/1416730934644069595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/07/sudah-tidak-diganggu-haruskah-berjilbab.html' title='Sudah Tidak Diganggu Haruskah Berjilbab?'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-2815850781415396491</id><published>2011-07-13T21:13:00.000+09:00</published><updated>2011-07-13T21:13:33.068+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Masa Iddah bagi Suami?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSRtOeHXRJyPaZxTI89DdsycSkJm69U9y4L9K8Z0QfWaRifW8qJ" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSRtOeHXRJyPaZxTI89DdsycSkJm69U9y4L9K8Z0QfWaRifW8qJ" width="212" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Selama ini masa iddah lebih lekat ditujukan untuk wanita, tentang penjelasan masa iddah silahkan lihat &lt;a href="http://alislamu.com/ibadah/29-nikah/443-bab-iddah.html"&gt;disini&lt;/a&gt;. Tapii... tahukah anda? Ternyata masa iddah juga ada lho buat para suami, karena ini pengetahuan baru bagi saya, maka saya tertarik untuk membuat postingan tentang hal ini. Ilmu baru ini saya dapatkan ketika saya sedang melihat hp, di layar utama hape saya, kan saya pasangin widget google reader, dan waktu itu pas judul yang lewat di widget bunyinya adalah "Ustadzku Bilang Suami Juga Punya Masa Iddah lo". Karena penasaran dengan judulnya jadi deh saya baca sampe selesai, alhamdulillah ilmunya jadi tambah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, saya coba bawakan bahasannya disini. Masa iddah bagi laki-laki (suami) bisa terjadi untuk dua keadaan :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Seorang suami yang memiliki empat istri, kemudian ia menjatuhkan talak pada salah satu istrinya, jika setelahnya ia ingin menikah lagi, maka suami ini harus menunggu sampai selesai masa iddah istri yang ditalaknya tersebut. Karena hakikatnya istri yang ditalaknya tadi jika belum selesai masa iddahnya maka masih terhitung sebagai istrinya, mana dalam masa iddah tersebut mereka boleh rujuk tanpa memperbaharui akad nikah mereka, sehingga jumlah istrinya masih tetap empat, dia diharamkan menikah lagi jika belum selesai masa iddah istrinya, karena ini akan menambah jumlah istrinya menjadi lima dalam satu waktu, dan hal ini terlarang bagi ummat Muhammad -shallaahu 'alaihi wasallam-&amp;nbsp; dari kaum laki-laki untuk menikahi wanita lebih dari empat dalam satu waktu ikatan pernikahan. &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -subhaanahu wa ta'aala- berfirman: &lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br style="font-family: inherit;" /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;“Maka  kawinilah wanita-wanita (lain yang kamu senangi, dua tiga, atau empat.&amp;nbsp;  Kemudian, jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil, maka  (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang  demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” &lt;b&gt;[QS. al-Nisaa’[04]:3]&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seorang laki-laki yang menceraikan istrinya, kemudian ingin menikahi wanita lain yang merupakan saudara kandung, keponakan, atau bibi baik dari pihak ayah atau ibu dari istri yang diceraikannya tersebut, maka laki-laki ini harus menunggu sampai masa iddah istri yang diceraikannya berakhir, sebagaimana poin nomor 1 diatas, karena dalam masa iddah tersebut wanita yang diceraikannya masih berstatus sebagai istrinya, dan seorang laki-laki tidak boleh menggabungkan dua wanita yang bersaudara dalam satu ikatan pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah -subhaanahu wa ta'ala-: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang  perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu  yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak  perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan  dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu;  saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak  isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri,  tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu  ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu)  isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam  perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi  pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,&lt;/i&gt; (An-Nisa': 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;Diriwayatkan dari Fairuz ad-Dailimi, ia berkata, "Aku datang menemui  Rasulullah -shallaahu 'alaihi wa wasallam,. dan berkata kepadanya, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya  aku telah memeluk Islam dan aku memiliki dua orang isteri yang  bersaudara (kakak adik).' Rasulullah -shallaahu 'alaihi wasallam- bersabda, &lt;i&gt;'Ceraikanlah salah seorang dari mereka yang engkau kehendaki (untuk dicerai)',"&lt;/i&gt; (Shahih, HR Abu Dawud [2243], at-Tirmidzi [1130] dan Ibnu Majah [1951]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallaahu 'alaihi wasallam bersabda, &lt;i&gt;'Tidak  boleh menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya dari pihak  ayah atau bibinya dari pihak ibu (dalam satu ikatan perkawinan)',"&lt;/i&gt; (HR Bukhari [5109] dan Muslim [1408]).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diriwayatkan dari Jabir radhiyallaahu 'anhu, ia berkata,  "Rasulullah shallaahu 'alaihi wasallam melarang seorang menikahi wanita bersama bibinya dari  pihak ayah atau bibinya dari pihak ibu (dalam satu tali perkawinan),"  (HR Bukhari [5108]).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;Demikianlah bahasan yang ana bisa simpulkan dari artikel yang ana baca, situs artikel tersebut ada &lt;a href="http://diaryfadhl.wordpress.com/2011/06/27/ustadzku-bilang-suami-juga-punya-masa-iddah-lo/"&gt;disini&lt;/a&gt;. Semoga bermanfaat^^&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="font-family: inherit; text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;tambahan referensi: &lt;a href="http://alislamu.com/larangan/96-dalam-nikah/2420-larangan-yang-berkaitan-dengan-mengumpulkan-wanita-dalam-satu-ikatan-pernikahan.html"&gt;silahkan tengok&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-2815850781415396491?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/2815850781415396491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/07/masa-iddah-bagi-suami.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/2815850781415396491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/2815850781415396491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/07/masa-iddah-bagi-suami.html' title='Masa Iddah bagi Suami?'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-3202223847919249104</id><published>2011-06-30T16:03:00.001+09:00</published><updated>2011-06-30T16:03:28.054+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan</title><content type='html'>&lt;h3&gt;Makna Kaedah&lt;/h3&gt;&lt;h3&gt;&lt;/h3&gt;اليَقِيْنُ secara bahasa adalah  kemantapan hati atas sesuatu.  Terambil kata kata bahasa Arab   يَقَنَ الْمَاءُ فِي الْحَوْضِ : yang  artinya air itu tenang dikolam&lt;br /&gt;Adapun الشَكُّ secara bahasa artinya adalah keraguan. Maksudnya  adalah apabila  terjadi sebuah kebimbangan antara dua hal yang mana  tidak bisa memilih dan menguatkan salah satunya, namun apabila bisa  menguatkan salah satunya maka hal itu tidak dinamakan dengan الشَكُّ&lt;br /&gt;&lt;span id="more-220"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dikarenakan bahwa sesuatu yang diketahui oleh seseorang itu bertingkat tingkat, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;اليَقِيْنُ: keyakinan hati yang berdasarkan pada dalil&lt;/li&gt;&lt;li&gt;الظَنُّ : persangkaan kuat&lt;br /&gt;Contoh : apabila seseorang sedikit meragukan sesuatu apakah halal  ataukah harom, namun persangkaan yang kuat dalam hatinya berdasarkan  dalil yang dia ketahui bahwa hal itu haram, maka persangkaan kuat inilah  yang dinamakan dengan الظَنُّ&lt;/li&gt;&lt;li&gt;الشَكُّ: Keraguan tanpa bisa memilih dan tidak bisa menguatkan salah satu diantara keduanya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;الوَهْمُ : Persangkaan lemah&lt;br /&gt;Contoh : Pada kasus الظَنُّ, maka kemungkinan yang lemah, yaitu halalnya  perbuatan tersebut itulah yang dinamakan dengan الوَهْمُ&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Adapun kalau seseorang tidak mengetahui sama sekali , maka itulah kebodohan (الجَهْل) dan ia terbagi menjadi dua macam :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;الجَهْلُ الْبَسِيْطُ (Kebodohan yang ringan ) yaitu orang yang tidak tahu namun dia menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui&lt;/li&gt;&lt;li&gt;الجَهْلُ الْمُرَكَّبُ (kebodohan berat) yaitu orang yang yang tidak tahu tapi mengaku mengetahui.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;(Lihat Syarah Al Ushul min Ilmil Ushul oleh &lt;b&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin&lt;/b&gt; hal : 69)&lt;br /&gt;Jadi makna kaedah diatas adalah :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Bahwa sebuah perkara yang diyakini sudah  terjadi tidak bisa dihilangkan kecuali dengan sebuah dalil yang  meyakinkan juga, dalam artian tidak bisa dihilangkan hanya sekedar  dengan sebuah keraguan, demikian juga sesuatu yang diyakini belum  terjadi maka tidak bisa dihukumi bahwa itu telah terjadi kecuali dengan  sebuah dalil yang meyakinkan juga.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Lihat Al Madkhol Al Fiqhi oleh &lt;b&gt;Mushthofa Az Zarqo&lt;/b&gt; hal : 961, Al Wajiz fi Idlohi Qowa’id Fiqhil Kulliyah oleh &lt;b&gt;DR. Al Burnu&lt;/b&gt; hal : 169)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Dalil Kaedah&lt;/h3&gt;Kaedah ini terambil dari pemahaman banyak ayat dan hadits Rosululloh, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Firman Alloh Ta’ala :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;h2 style="text-align: center;"&gt;وَمَايَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلاَّ ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لاَيُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti  kecuali persangkaan, sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun  berguna untuk mencapai kebenaran.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(QS. Yunus : 36)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;Hadits Rosululloh :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;h2 style="text-align: center;"&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ  رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ  فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ  لَا فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ  يَجِدَ رِيحًا&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dari Abu Huroiroh berkata : Rosululloh  bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian merasakan sesuatu  dalam perutnya, lalu dia kesulitan menetukan apakah sudah keluar sesuatu  (kentut) ataukah belum, maka jangan membatalkan sholatnya sampai dia  mendengar suara atau mencium bau.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(HR. Muslim : 362)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;Imam Nawawi&lt;/b&gt; berkata:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Hadits ini adalah salah satu pokok islam  dan sebuah kaedah yang besar dalam masalah fiqh, yaitu bahwa segala  sesuatu itu dihukumi bahwa dia tetap pada  hukum asalnya sehingga  diyakini ada yang bertentangan dengannya, dan tidak membahayakan baginya  sebuah keraguan yang muncul.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Lihat Syarah Shohih Muslim 4/39)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;h2 style="text-align: center;"&gt;عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ  أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  الرَّجُلُ الَّذِي يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي  الصَّلَاةِ فَقَالَ لَا يَنْفَتِلْ أَوْ لَا يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ  صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dari Abbad bin Tamim dari pamannya  berkata  : “Bahwasannya ada seseorang yang mengadu kepada Rosululloh  bahwa dia merasakan seakan-akan kentut dalam sholatnya. Maka Rosululloh   bersabda : “Janganlah dia batalkan sholatnya sampai dia mendengar suara  atau mencium bau.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(HR. Bukhori : 137, Muslim : 361)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;Imam Al Khothobi&lt;/b&gt; berkata:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Hadits ini menunjukkan bahwa keraguan tidak bisa mengalahkan sesuatu yang yakin.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Lihat Ma’alimus Sunan 1/129)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;h2 style="text-align: center;"&gt;عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا شَكَّ  أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ  أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ  يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا  شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ  كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata :  Rosululloh bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian ragu-ragu  dalam sholatnya, sehingga tidak mengetahui sudah berapa rokaatkah dia  mengerkakan sholat, maka hendaklah dia membuang keraguan dan lakukanlah  yang dia yakini kemudian dia sujud dua kali sebelum salam, kalau  ternyata dia itu sholat lima rokaat maka kedua sujud itu bisa  menggenapkan sholatnya, dan jikalau ternyata sholatnya sudah sempurna  maka kedua sujud itu bisa membuat jengkel setan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(HR. Muslim : 571)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;h2 style="text-align: center;"&gt;عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ  قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ  إِذَا سَهَا أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ وَاحِدَةً صَلَّى أَوْ  ثِنْتَيْنِ فَلْيَبْنِ عَلَى وَاحِدَةٍ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثِنْتَيْنِ  صَلَّى أَوْ ثَلَاثًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثِنْتَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ  ثَلَاثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثَلَاثٍ وَلْيَسْجُدْ  سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dari Abdur Rohman bin Auf berkata : “Saya  mendengar Rosululloh bersabda : “Apabila salah seorang dari kalian lupa  dalam sholatnya, lalu dia tidak mengetahui apakah dia sudah sholat satu  atau dua rokaat, maka anggaplah bahwa dia baru sholat satu rokaat, juga  apabila dia tidak yakin apakah sudah sholat dua ataukah tiga rokaat,  maka anggaplah bahwa dia baru sholat dua rokaat, begitu pula apabila dia  tidak mengetahui apakah dia sudah sholat tiga ataukah empat rokaat maka  anggaplah bahwa dia baru sholat tiga rokaat, lalu setelah itu sujudlah  dua kali sebelum salam.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(HR. Tirmidzi 398, Ibnu Majah 1209, Ahmad 1659 dengan sanad shohih)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;h2 style="text-align: center;"&gt;عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى  اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلَا  تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dari Abdulloh bin Umar berkata : “  Rosululloh bersabda : “Janganlah kalian puasa sehingga kalian melihat  hilal Romadhon, juga janganlah kalian berbuka sehingga kalian melihat  hilal Syawal dan jika hilal itu tertutupi mendung maka sempurnakanlah  hitungan bulan tersebut.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(HR. Nasa’i 2122 dan lainnya dengan sanad shohih)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Tatkala mengomentari hadits yang mirip dengan ini, &lt;b&gt;Imam Ibnu Abdil Bar&lt;/b&gt; dalam At Tamhid berkata:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Bahwa sesuatu yang yakin itu tidak bisa  dihilangkan dengan sebuah keraguan, namun hanya bisa dihilangkan dengan  keyakinan juga, karena Rosululloh memerintahkan manusia agar tidak  meninggalkan sebuah keyakinan tentang keberadan mereka masih dalam bulan  Sya’ban  kecuali dengan sebuah keyakinan yang ditandai dengan melihat  hilal Romadhon atau menyempurnakan bilangan bulan tiga puluh hari.”&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Kedudukan Kaedah&lt;/h3&gt;Kaedah ini memiliki kedudukan yang sangat agung dalam islam, baik  yang berhubungan dengan fiqh maupun lainnya, bahkan sebagian ulama’  menyatakan bahwa kaedah ini mencakup tiga perempat masalah fiqh atau  mungkin malah lebih. (Lihat Al Asybah wan Nadlo’ir oleh &lt;b&gt;Imam As Suyuthi&lt;/b&gt; hal : 51)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Imam Nawawi&lt;/b&gt; berkata :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Kaedah ini adalah adalah sebuah kaedah  pokok yang mencakup semua permasalahan,dan tidak keluar darinya kecuali  beberapa masalah saja.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Al Majmu’ Syarah Al Muhadzab 1/205)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;Imam Ibnu Abdil Bar&lt;/b&gt; berkata :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Para ulama’ telah sepakat bahwa bahwa  orang yang sudah hadats lalu dia ragu-ragu apakah dia sudah berwudlu  kembali ataukah belum ? bahwasannya keraguannya ini tidak berfungsi sama  sekali, dan dia wajib untuk berwudlu kembali. Hal ini menunjukkan bahwa  keraguan itu tidak digunakan menurut para ulama’ dan yang dijadikan  patokan adalah sesuatu yang meyakinkan. Ini adalah sebuah dasar pokok  dalam permasalahan fiqh.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Lihat At Tamhid 5/18, 25, 27)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;Imam Al Qorrofi&lt;/b&gt; berkata:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Ini adalah sebuah kaedah yang disepakati oleh para ulama’, bahwasanya sesuatu yang meragukan  dianggap seperti tidak ada.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Al Furuq 1/111)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;Imam Ibnu Najjar&lt;/b&gt; berkata :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Kaedah ini tidak hanya berlaku dalam  masalah fiqh saja, bahkan bisa dijadikan dalil bahwasanya semua perkara  yang baru itu pada dasarnya dihukumi tidak ada sampai diyakini  keberadaannya, sehingga bisa kita katakan bahwa pada dasarnya orang itu  tidak diberi beban syar’i sehingga datang dalil yang berbeda dengan  pokok ini, pada dasaranya sebuah perkataan itu dibawa pada hakekat  maknanya, pada dasarnya sebuah perintah itu menunjukan pada sebuah  kewajiban dan sebuah larangan itu menunjukan pada keharaman serta  masalah lainnya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Lihat Syarah al Kaukab al Munir 4/443)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h3&gt;Penerapan Kaedah&lt;/h3&gt;Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa kaedah ini mencakup hampir  semua permasalahan syar’i, maka cukup disini disebutkan sebagainnya saja  sebagai sebuah contoh :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Apabila ada seseorang yang yakin bahwa dia telah berwudlu, lalu ragu  ragu apakah dia sudah batal ataukah belum, maka dia tidak wajib  berwudlu lagi, karena yang yakin adalah sudah berwudlu, sedang  batalnya  masih diragukan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dan begitu pula sebailknya, apabila orang yakin bahwa dia telah  batal wudlunya, namun dia ragu-ragu apakah dia sudah berwudlu kembali  ataukah belum ? maka dia wajib wudlu lagi karena yang yakin sekarang  adalah batalnya wudlu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Barang siapa yang berjalan diperkampungan lalu kejatuhan air dari  rumah seseorang dari lantai dua, yang mana ada kemungkinan bahwa itu  adalah air najis, maka dia tidak wajib mencucinya karena pada dasarnya  air itu suci, dan asal hukum ini tidak bisa dihilangkan hanya dengan  sebuah keraguan, kecuali kalau didapati sebuah tanda-tanda kuat bahwa  itu adalah air najis, misalkan bau pesing dan lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Barang siapa yang berjalan disebuah jalanan yang becek atau  berlumpur yang ada kemungkinan bahwa air itu najis, maka tidak wajib  mencuci kaki atau baju yang terkena air tersebut, karena pada dasarnya  air adalah suci, kecuali kalau ada bukti kuat bahwa air itu najis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Barang siapa  yang telah sah nikahnya, lalu dia ragu-ragu apakah  sudah terjadi talak ataukah belum, maka nikahnya tetap sah dan tidak  perlu digubris terjadinya talak yang masih diragukan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang pergi meninggakan kampung halaman dalam keadaan sehat  namun bertahun-tahun tidak diketahui kabar beritanya, maka dia tetap  dihukumi sebagai orang hidup yang dengannya tidak boleh diwarisi  hartanya, sehingga datang berita yang meyakinkan bahwa dia telah  meninggal dunia atau dihukumi oleh pihak pengadilan bahwa dia telah  meninggal dunia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seorang istri yang ditinggal suaminya pergi, maka dia tetap dihukumi  sebagai seorang istri, yang atas dasar ini maka dia tidak boleh menikah  lagi, kecuali kalau datang berita meyakinkan bahwa suaminya telah  meninggal dunia atau telah menceraikannya atau dia mengajukan gugatan  cerai ke pengadilan lalu pengadilan memutuskan untuk memisahkannya  hubungan pernikahan dengan suaminya yang hilang beritanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang yakin bahwa dirinya telah berhutang, lalu dia ragu-ragu  apakah dia sudah melunasinya ataukah belum, maka dia wajib melunasinya  lagi kecuali kalau pihak yang menghutangi menyatakan bahwa dia telah  melunasi hutang atau ada bukti kuat bahwa sudah lunas, misalkan ada dua  orang saksi yang menyatakan bahwa hutangnya telah lunas.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Wallohu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://ahmadsabiq.com/2010/02/24/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang-dengan-keraguan/"&gt; Berupaya Menghidupkan Sunnah di Atas Jalan Nubuwwah &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-3202223847919249104?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/3202223847919249104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/3202223847919249104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/3202223847919249104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/sesuatu-yang-yakin-tidak-bisa-hilang.html' title='Sesuatu yang Yakin Tidak Bisa Hilang dengan Keraguan'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-8034382150321052267</id><published>2011-06-30T11:56:00.004+09:00</published><updated>2011-06-30T14:51:26.337+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Bolehkah aku memanggilnya Abi? Dan dia memanggilku Ummi?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQkz8jCn7NUJI__quO1qp4Q7wX_Q297hlJnt50JCTlRj-dRx2iW" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="203" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQkz8jCn7NUJI__quO1qp4Q7wX_Q297hlJnt50JCTlRj-dRx2iW" width="248" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memanggil zaujiy dengan kata "abi" terkadang muncul pertanyaan di benakku "Bolehkah panggilan ini dalam pandangan syariat?". Apakah ini tidak bermakna zhihar (menganggap pasangan&amp;nbsp; sebagai &lt;i&gt;mahram, &lt;/i&gt;sehingga haram untuk dinikahi). Namun sulit juga bagi saya untuk menghindari sapaan ini, begitu juga suami saya memanggil saya dengan sapaan Ummi, dan sapaan ini insyaAllah untuk membiasakan anak-anak memanggil kami dengan kata Ummi Abi.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Alhamdulillah ketemu artikel di bawah ini, yang membahas masalah sapaan Ummi dan Abi, mau tahu jawabannya? silahkan dibaca^^...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suami Memanggil ISTRI dengan panggilan UMMI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="postentry"&gt;&lt;i&gt;Bismillaah… walhamdulillah… was sholaatu was salaamu alaa rosuulillaah… wa alaa aalihii wa shohbihii wa maw waalaah…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah, fatwa Syeikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin  tentang masalah di atas, semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi penulis  &amp;nbsp;dan pembacanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;السؤال&lt;/b&gt;: هل يجوز للرجل أن يقول لزوجته يا أختي بقصد المحبة فقط , أو&lt;b&gt; يا أمي&lt;/b&gt; بقصد المحبة فقط&lt;span id="more-1754"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;فأجاب&lt;/b&gt;: نعم , يجوز له أن يقول لها يا أختي, &lt;b&gt;أو يا أمي&lt;/b&gt;,  وما أشبه ذلك من الكلمات التي توجب المودة والمحبة, وإن كان بعض أهل العلم  كره أن يخاطب الرجل زوجته بمثل هذه العبارات, ولكن لا وجه للكراهة, وذلك  لأن الأعمال بالنيات, وهذا الرجل لم ينو بهذه الكلمات أنها أخته بالتحريم  والمحرمية, وإنما أراد أن يتودد إليها ويتحبب إليها, وكل شيء يكون سبباً  للمودة بين الزوجين, سواء كان من الزوج أو الزوجة فإنه أمر مطلوب&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan&lt;/b&gt;: Bolehkan suami memanggil isterinya “Ya Ukhti” (wahai saudariku) atau “&lt;b&gt;Ya Ummi&lt;/b&gt;” (wahai ibuku) karena dorongan kecintaan saja?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Beliau menjawab&lt;/b&gt;: Ya, dibolehkan bagi suami untuk memanggil isterinya dg panggilan “Ya Ukhti”, atau “&lt;b&gt;Ya Ummi&lt;/b&gt;“, atau panggilan-panggilan lain yg dapat mendatangkan rasa sayang dan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sebagian ulama me-&lt;i&gt;makruh&lt;/i&gt;-kan bila seorang suami memanggil istrinya dg panggilan-panggilan yg seperti ini, namun hukum &lt;i&gt;makruh &lt;/i&gt;ini  tidaklah tepat, karena setiap amalan itu tergantung niatnya, dan orang  ini tidaklah meniatkan dg panggilan-panggilan itu, bahwa istrinya adalah  saudarinya yg diharamkan atau&lt;i&gt; mahrom&lt;/i&gt;-nya. Tidak lain ia hanya  bermaksud menampakkan rasa sayang dan cintanya, dan setiap sesuatu yg  menjadikan/mendatangkan rasa sayang antara dua mempelai, baik dilakukan  oleh suami atau istri, maka hal itu adalah sesuatu yg dianjurkan.  (Sumber: Fatawa Nurun Alad Darb hal: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitabnya &lt;b&gt;Syarhul Mumti’&lt;/b&gt;, beliau juga mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;فإذا قال: &lt;b&gt;يا أمي&lt;/b&gt; تعالي، أصلحي الغداء فليس بظهار، لكن ذكر الفقهاء -رحمهم الله- أنه يكره للرجل أن ينادي زوجته باسم محارمه، فلا يقول: يا أختي، &lt;b&gt;يا أمي&lt;/b&gt;،  يا بنتي، وما أشبه ذلك، وقولهم ليس بصواب؛ لأن المعنى معلوم أنه أراد  الكرامة، فهذا ليس فيه شيء، بل هذا من العبارات التي توجب المودة والمحبة  والألفة.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Jika seorang suami mengatakan kepada isterinya: “&lt;b&gt;ya Ummi&lt;/b&gt;! Kemarilah, siapkan makan siang”, ini bukanlah “&lt;i&gt;zhihar&lt;/i&gt;“.&lt;br /&gt;Namun para ahli fikih -&lt;i&gt;rohimahumulloh&lt;/i&gt;- menyebutkan bahwa: di-&lt;i&gt;makruh&lt;/i&gt;-kan  bagi seorang suami memanggil isterinya dg sebutan mahrom-mahromnya,  sehingga tidak boleh baginya memanggil istrinya: “ya Ukhti”, “&lt;b&gt;ya ummi&lt;/b&gt;“,  “ya binti”, dan yg semisalnya. Perkataan mereka ini tidaklah benar,  karena makna dari panggilan itu sudah maklum, bahwa si suami bermaksud  memuliakan istrinya, maka ini tidaklah mengapa, bahkan  panggilan-panggilan seperti ini dapat mendatangkan rasa sayang, cinta,  dan keakaraban. (Sumber: Syarhul Mumti’ 13/236)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian, &lt;i&gt;wa subhanakalloohumma wa bihamdika, asyhadu allaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaiik…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="snap_nopreview sharing robots-nocontent"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://addariny.wordpress.com/2011/02/17/suami-memanggil-istri-dengan-panggilan-ummi/#more-1754"&gt;ADDARINY'S CENTRE &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-8034382150321052267?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/8034382150321052267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/bolehkah-aku-memanggilnya-abi-ummi.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/8034382150321052267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/8034382150321052267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/bolehkah-aku-memanggilnya-abi-ummi.html' title='Bolehkah aku memanggilnya Abi? Dan dia memanggilku Ummi?'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-952930269688626951</id><published>2011-06-24T08:21:00.001+09:00</published><updated>2011-06-24T17:28:04.567+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>8 Manfaat Membaca</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://publications.mcgill.ca/reporter/files/orig/4108-teaching101-300x300.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://publications.mcgill.ca/reporter/files/orig/4108-teaching101-300x300.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sungguh mengherankan mendengarkan kaum muslimin  mengatakan bahwa mereka bosan membaca!  Padahal membaca adalah salah  satu hobi terbaik yang dimiliki oleh seseorang. Namun sungguh  menyedihkan ketika mengetahui bahwa kebanyakan dari kita tidaklah  diperkenalkan dengan buku-buku yang menakjubkan dunia. Ini adalah  beberapa alasan bagi kita untuk memulai kebiasaan ini… sebelum Anda  tertinggal di belakang dalam segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;1. Membaca merupakan proses mental secara aktif.&lt;/b&gt;  Tidak seperti duduk di depan sebuah kotak idiot (TV, Plasystation,  dll), membaca membuat Anda menggunakan otak Anda. Ketika membaca, Anda  akan dipaksa untuk memikirkan banyak hal yang Anda belum mengetahuinya.  Dalam proses ini, Anda akan menggunakan sel abu-abu otak Anda untuk  berfikir dan menjadi semakin pintar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="more-77"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;2. Membaca akan meningkatkan kosakata Anda. &lt;/b&gt;Anda  dapat belajar bagaimana mengira suatu makna dari suatu kata (yang belum  Anda ketahui) dengan membaca konteks dari kata-kata lainnya di sebuah  kalimat. Buku, terutama yang menantang, akan menampakkan kepada Anda  begitu banyak kata yang mungkin sebaliknya belum Anda ketahui&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;3. Membaca akan meningkatkan konsentrasi dan fokus&lt;/b&gt;.  Anda perlu untuk bisa fokus terhadap buku yang sedang Anda baca untuk  waktu yang cukup lama. Tidak seperti majalah, internet atau email yang  hanya berisi potongan kecil informasi, buku akan menceritakan  keseluruhan cerita. Oleh sebab Anda perlu berkonsentrasi untuk membaca.  Seperti otot, Anda akan menjadi lebih baik di dalam berkonsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;4 .Membangun kepercayaan diri. &lt;/b&gt;Semakin  banyak yang Anda baca, semakin banyak pengetahuan yang Anda dapatkan.  Dengan bertambahnya pengetahuan, akan semakin membangun kepercayaan  diri. Jadi hal ini merupakan reaksi berantai. Karena Anda adalah seorang  pembaca yang baik, orang-orang akan mencari Anda untuk mencari suatu  jawaban. Perasaan Anda terhadap diri Anda sendiri akan semakin baik.  [Namun ingat, ikhlas tetap merupakan jalan untuk mencapai kesuksesan,  dan berhati-hatilah dari sikap merasa bangga diri. Bersyukurlah selalu  kepada Alloh atas secuil pengetahuan yang Anda miliki].&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;5. Meningkatkan memori. &lt;/b&gt;Banyak  penelitian yang menunjukkan bahwa jika Anda tidak menggunakan memori  anda, Anda bisa kehilangannya. Teka-teki silang adalah salah satu contoh  permainan kata yang dapat mencegah penyakit Alzheimer. Membaca,  walaupun bukan sebuah permainan, akan membantu Anda meregangkan “otot”  memori Anda dengan cara yang sama. Membaca itu memerlukan ingatan  terhadap detail, fakta dan gambar pada suatu literatur, alur, tema atau  karakter cerita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;6. Meningkatkan kedisplinan. &lt;/b&gt;Mencari  waktu untuk membaca adalah sesuatu yang kita sudah mengetahuinya untuk  dilakukan. Namun, siapa yang membuat jadwal untuk membaca buku setiap  harinya? Hanya sedikit sekali. Karena itulah, menambahkan aktivitas  membaca buku ke dalam jadwal harian Anda dan berpegang dengan jadwal  tersebut akan meningkatkan kedisiplinan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;7. Meningkatkan kretivitas. &lt;/b&gt;Membaca  tentang keanekaragaman kehidupan dan membuka diri Anda terhadap ide dan  informasi baru akan membantu perkembangan sisi kreatif otak Anda, karena  otak Anda akan menyerap inovasi tersebut ke dalam proses berfikir Anda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;8. Mengurangi kebosanan. &lt;/b&gt;Salah satu  kebiasaan yang saya miliki adalah, apabila saya merasa bosan, maka saya  akan mengambil buku dan mulai membacanya. Apa yang saya temukan dengan  berpegang kepada kebiasaan ini adalah, saya menjadi semakin tertarik  dengan suatu bahasan buku dan saya sudah tidak bosan lagi. Maksud saya,  jika Anda merasa bosan, Anda akan merasa lebih baik dengan membaca buku  yang bagus, bukan? Jika Anda ingin memecahkan rasa malas yang monoton,  dan kehidupan yang tidak kreatif dan membosankan, maka pergi dan  ambillah satu buku yang menarik. Bukalah halaman-halamannya dan jelajahi  dunia baru yang penuh dengan informasi dan kecerdasan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Terima kasih telah membaca.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;S&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;umber: &lt;a href="http://rachdie.blogdetik.com/2011/02/05/8-manfaat-membaca/"&gt;A Journal of Life&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-952930269688626951?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/952930269688626951/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/8-manfaat-membaca.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/952930269688626951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/952930269688626951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/8-manfaat-membaca.html' title='8 Manfaat Membaca'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-7609799175024437543</id><published>2011-06-21T17:22:00.000+09:00</published><updated>2011-06-21T17:22:56.303+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><title type='text'>Berbagai Alasan Enggan Berjilbab</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ccjmmmRrWRo/TgBULx6Vd1I/AAAAAAAAAMs/Ql6QZWZ3N-0/s1600/pilihmana.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://3.bp.blogspot.com/-ccjmmmRrWRo/TgBULx6Vd1I/AAAAAAAAAMs/Ql6QZWZ3N-0/s320/pilihmana.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;mau pilih yang mana saudariku?&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika diri ini dulu belum memahami pentingnya syariat berjilbab (tidak mengetahui bahwa itu adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan), selalu yang ada di pikiranku adalah tidak mengapa dengan penampilanku saat itu. Toh, saya tidak berpakaian minim ,tetap sopan dengan kemeja dan celana jeansku, dan nggak mungkinlah menimbulkan fitnah, astaghfirullaah!! Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah... syukurku kepada Mu Ya Rabb, bahwa Engkau masih Menyayangi hamba-Mu yang jahil ini. Sungguh sebuah kenikmatan ketika akhirnya diri ini dapat mengenakan pakaian taqwa tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, berbagai alasan memang sering dilontarkan oleh wanita yang mengaku muslimah namun masih enggan berhijab (semoga Allah memberi hidayah kepada mereka dan juga meneguhkan kita di atas hidayah ini..aamiin) yang semua itu berangkat dari kejahilan akan perkara Dien yang mulia ini. Dan berikut ini ada tulisan menarik yang mengulas beberapa alasan yang paling umum diketengahkan oleh mereka. Semoga dapat memberi pencerahan dan menggugah jiwa-jiwa kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;******&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berbagai Alasan Enggan Berjilbab&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah ketahui bersama bahwa berjilbab adalah suatu hal yang  wajib bagi setiap muslimah. Namun seperti itulah wanita, selalu beri  berbagai alasan untuk tidak menutup auratnya. Coba perhatikan beberapa  alasan mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;: Yang penting hatinya dulu yang dihijabi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan,   semacam ini sama saja dengan alasan orang yang malas shalat  lantas   mengatakan, “Yang penting kan hatinya.” Inilah alasan orang yang  punya   pemahaman bahwa yang lebih dipentingkan adalah amalan hati, tidak    mengapa seseorang tidak memiliki amalan badan sama sekali. Inilah    pemahaman aliran sesat “Murji’ah” dan sebelumnya adalah “Jahmiyah”. Ini    pemahaman keliru, karena pemahaman yang benar sesuai dengan pemahaman    Ahlus Sunnah wal Jama’ah, “Din dan Islam itu adalah perkataan dan    amalan, yaitu [1] perkataan hati, [2] perkataan lisan, [3] amalan hati,    [4] amalan lisan dan [5] amalan anggota badan.” (Matan Al ‘Aqidah Al  Wasithiyah, Ibnu Taimiyah)&lt;br /&gt;Imam Asy Syaafi’i &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; menyatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الإيمان قول وعمل يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat&lt;/i&gt;.” (Hilyatul Awliya’, Abu Nu’aim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tidak cukup iman itu dengan hati, namun harus dibuktikan pula dengan amalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;: Bagaimana jika berjilbab namun masih menggunjing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan   seperti ini pun sering dikemukakan. Perlu diketahui, dosa  menggunjing   (ghibah) itu adalah dosa tersendiri. Sebagaimana seseorang  yang rajin   shalat malam, boleh jadi dia pun punya kebiasaan mencuri. Itu  bisa   jadi. Sebagaimana ada kyai pun yang suka menipu. Ini pun nyata  terjadi.&lt;br /&gt;Namun   tidak semua yang berjilbab punya sifat semacam itu. Lantas  kenapa ini   jadi alasan untuk enggan berjilbab? Perlu juga diingat bahwa  perilaku   individu tidak bisa menilai jeleknya orang yang berjilbab  secara  umum.  Bahkan banyak wanita yang berjilbab dan akhlaqnya sungguh  mulia.  Jadi  jadi kewajiban orang yang hendak berjilbab untuk tidak   menggunjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;: Belum siap mengenakan jilbab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau   tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun  lagi?   Apa nanti jika sudah pipi keriput dan rambut beruban? Setan dan  nafsu   jelek biasa memberikan was-was semacam ini, supaya seseorang    menunda-nunda amalan kebaikan.&lt;br /&gt;Ingatlah kita belum tentu tahu jika   besok shubuh kita masih diberi  kehidupan. Dan tidak ada seorang pun   yang tahu bahwa satu jam lagi, ia  masih menghirup nafas. Oleh karena   itu, tidak pantas seseorang  menunda-nunda amalan. “Oh nanti saja, nanti   saja”. Ibnu ‘Umar &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhuma &lt;/i&gt;memberi nasehat yang amat bagus,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;إِذَا    أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ    تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ    حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“&lt;i&gt;Jika engkau berada di waktu sore,   janganlah menunggu-nunggu  waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi,   janganlah menunggu-nunggu  waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu   sebelum datang masa sakitmu.  Manfaatkan pula masa hidupmu sebelum   datang kematianmu&lt;/i&gt;” (HR. Bukhari no. 6416).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat ini amat bagus  bagi kita agar tidak menunda-nunda amalan dan tidak panjang angan-angan.  (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali)&lt;br /&gt;Jika   tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan  besok   lagi. Seorang da’i terkemuka mengatakan nasehat 3 M,&lt;b&gt; “&lt;i&gt;Mulai dari  diri  sendiri, mulai dari saat ini, mulai dari hal yang kecil”&lt;/i&gt;.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Wallahu waliyyut taufiq.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://remajaislam.com/islam-dasar/pojok-muslimah/104-berbagai-alasan-enggan-berjilbab.html"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;a href="http://remajaislam.com/undefined/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-7609799175024437543?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/7609799175024437543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/berbagai-alasan-enggan-berjilbab.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/7609799175024437543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/7609799175024437543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/berbagai-alasan-enggan-berjilbab.html' title='Berbagai Alasan Enggan Berjilbab'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ccjmmmRrWRo/TgBULx6Vd1I/AAAAAAAAAMs/Ql6QZWZ3N-0/s72-c/pilihmana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-8472371454160315503</id><published>2011-06-21T16:33:00.000+09:00</published><updated>2011-06-21T16:33:03.195+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hukum Bedah dan Otopsi Jenazah Muslim</title><content type='html'>Penulis: Ust. Ahmad Sabiq Abu Yusuf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ULX_MdQG8jg/TgBIsSIDJGI/AAAAAAAAAMk/bTTvbY2G6o0/s1600/ruang%2Bbedah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-ULX_MdQG8jg/TgBIsSIDJGI/AAAAAAAAAMk/bTTvbY2G6o0/s320/ruang%2Bbedah.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek yang dilakukan oleh fakultas kedokteran untuk mengetahui  seluk beluk organ tubuh manusia agar bisa mendeteksi setiap organ tubuh  yang tidak normal dan terserang penyakit serta mengobatinya sedini  mungkin atau untuk tujuan lainnya adalah dengan membedah jasad mayat  manusia. Apakah ini dibolehkan dalam pandangan syara’ ataukah tidak ?  Karena praktek ini dilakukan hampir di semua fakultas kedokteran maka  dengan memohon taufiq kepada Alloh Ta’ala, saya turunkan pembahasan ini  dengan mengacu pada tulisan Lajnah Hai’ah Kibarul Ulama’ Arab Saudi  dengan beberapa tambahan.&lt;span id="more-197"&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Tulisan ini saya bagi menjadi beberapa pokok pembahasan :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kehormatan seorang muslim baik hidup maupun mati&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Macam-macam tujuan membedah jenazah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum membedah perut mayat wanita untuk menyelamatkan bayi yang masih dalam perut&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum memakan mayat dalam keadaan terpaksa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum otopsi jenazah untuk tujuan belajar ilmu kedokteran&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum membongkar kuburan seorang muslim&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Allahumma, tunjukanlah kepada kami jalan yang Engkau ridloi dan jauhkanlah kami dari jalan yang Engkau murkai.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Kehormatan seorang muslim baik hidup maupun mati&lt;/h3&gt;Termasuk sesuatu yang sangat jelas hukumnya dalam syariat islam  adalah kehormatan seorang muslim baik hidup maupun mati. Maka tidak  boleh membunuh, melukai dan menyakitinya serta tidak boleh mematahkan  tulang atau mencincang tubuhnya setelah dia meninggal. Banyak dalil yang  berhubungan dengan hal ini, diantaranya :&lt;br /&gt;1. Alloh Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Dan barang siapa yang membunuh seorang  mu’min dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahannam, kekal ia  didalamnya dan Alloh murka kepadanya dan mengutuknya serta menyediakan  adzab yang besar baginya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(QS. An Nisa’ : 93)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;2. Dari &lt;b&gt;Ibnu Umar&lt;/b&gt; berkata :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Rosululloh  bersabda : “Saya  diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa  tiada TuhanYang Berhak disembah kecuali Alloh dan Muhamad adalah utusan  Nya, mendirikan sholat serta menunaikan zakat. Maka apabila mereka  melaksanakannya niscaya akan terjada darah dan harta mereka kecuali  dengan hak islam dan hisab mereka pada Alloh.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(HR. Bukhori 1/70, Muslim 22)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;3. Dari &lt;b&gt;Abdulloh bin Mas’ud&lt;/b&gt; berkata :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Tidak halal darah seorang muslim yang  bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Alloh dan saya  adalah utusannya kecuali dengan karena tiga perkara : 1. Orang yang  membunuh maka diqishos, 2. Orang yang pernah menikah lalu berzina, 3.  Orang yang murtad dari agama (islam) dan meninggalkan jamaah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(HR. Bukhori Muslim)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;4. Dari &lt;b&gt;Aisyah&lt;/b&gt; berkata :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Rosululloh  bersabda : “Sesungguhnya  mematahkan tulang seorang mu’min yang sudah meninggal seperti mematahkan  tulangnya saat dia masih hidup.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(HR. Abu Dawud 2/69, Ibnu Majah 1/492,  Ibnu Hibban 776, Baihaqi 4/58, Ahmad 6/58 dengan sanad shohih, lihat  Ahkamul Janaiz Imam Al Albani hal : 295)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Berkata &lt;b&gt;Al Hafidl Ibnu Hajar&lt;/b&gt; dalam Fathul Bari :  “Hadits ini menunjukkan bahwa kehormatan seorang mu’min setelah dia  meninggal sama sebagaimana tatkala dia masih hidup.”&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Macam-macam tujuan membedah jenazah&lt;/h3&gt;Dilihat dari tujuannya praktek bedah dan otopsi mayat ada beberapa  macam. Namun yang paling sering dilakukan ada tiga macam, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian saat terjadi tindakan kriminalitas&lt;br /&gt;Untuk keperluan ini seorang dokter melakukan otopsi jenazah. Apakah  memang dia meninggal karena tindakan kriminalitas atau karena mati  biasa, kalau memang karena tindakan kriminalitas maka akan dicari  tanda-tanda yang memungkinkan akan bisa mengungkap siapa pelakunya.  Namun jika meninggal dengan cara yang wajar maka berarti tidak perlu  dicari pelakunya atau kalau mungkin sudak ditangkap pihak kepolisian  bisa segera di bebaskan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian secara umum&lt;br /&gt;Dengan otopsi ini seorang dokter bisa mengetahui penyakit yang  menyebabkan kematian pasien, sehingga kalau memang ini adalah sebuah  wabah dan dikhawatirkan terjangkit pada masyarakat lainnya bisa segera  dilakukan tindakan preventif agar tidak menyebar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Otopsi untuk keperluan praktek ilmu kedokteran.&lt;br /&gt;Otopsi ini diperlukan mahasiswa fakultas kedokteran untuk mengetahui  seluk beluk organ tubuh manusia. Ini sangat diperlukan sekali agar bisa  mengetahui adanya penyakit pada organ tubuh tertentu secara tepat.&lt;br /&gt;Dan masih banyak tujuan-tujuan lain.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Secara umum hukum dari masalah ini berangkat dari apakah otopsi  jenazah seorang muslim itu memang terpaksa harus dilakukan ? karena pada  dasarnya tidak boleh melukai, mematahkan tulang dan lainnya dari jasad  seorang muslim berdasarkan hadits &lt;b&gt;Aisyah&lt;/b&gt; diatas  terkecuali kalau memang dalam keadaan dlorurot harus melakukan itu maka  boleh dilakukan berdasarkan firman Alloh Ta’ala tentang makanan yang  haram dimakan :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Tetapi barang siapa dalam keadan  terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula  melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(QS. Al Baqoroh : 173)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;juga berdasarkan sebuah kaidah fiqh yang masyhur bahwasannya &lt;b&gt;keadaan dlorurot (terpaksa) itu bisa menghalalkan sesuatu yang haram&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;Namun untuk memprediksikan apakah ini sudah dalam keadaan dlorurot  ataukah belum sering terjadi perbedaan pandangan diantara para ulama’  yang menjadikan merekapun berselisih dalam hukumnya. Untuk lebih  jelasnya, kita bahas satu persatu permasalahan yang ada :&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hukum membedah perut mayat wanita untuk menyelamatkan bayi yang dikandungnya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apabila ada ibu meningal dunia dalam keadaan mengandung  sedangkan  bayi yang dikandungnya masih hidup, para ulama berselisih apakah harus  di bedah perut ibu atau bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Imam Malik&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Ahmad&lt;/b&gt; mengatakan  tidak boleh di bedah perut seorang wanita meskipun bayi yang ada dalam  pertnya masih hidup namun dikeluarkan dengan cara diambil dari jalan  farji oleh tenaga medis. (Lihat Syarah Mukhtashor Kholil Syaikh Ahmad  Dirdir dan Al Inshof Imam Al Mardawi 2/556, Kasyaful Qina’ 2/130).&lt;br /&gt;Berkata &lt;b&gt;Imam Ibnu Qudamah&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Hal ini karena bayi itu belum pasti  masih hidup dan memang biasanya tidak bisa hidup, maka tidak  diperbolehkan melanggar suatu yang sudah jelas keharamannya demi sesuatu  yang masih belum jelas.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Rosululloh  bersabda : “Mematahkan tulang orang mu’min yang telah  meninggal sama seperti mematahkan tulang seorang mu’min yang masih  hidup.” Juga karena Rosululloh  melarang untuk mencincang mayat.&lt;br /&gt;Namun &lt;b&gt;Imam Syafi’i&lt;/b&gt;,&lt;b&gt; Ibnu Hazm&lt;/b&gt; dan  sebagian ulama’ Malikiyah mengatakan bahwa dalam keadaan seperti itu  dibedah perut ibu demi keselamatan bayi yang masih dalam kandungannya.  (Lihat Al Majmu’ Syarah Muhadzab Imam Nawawi 5/301, Al Muhalla 5/166)  Dan ini adalah madzhab yang Rojih insya Alloh.&lt;br /&gt;Berkata &lt;b&gt;Syaikh Rosyid Ridlo&lt;/b&gt; menanggapi madzhab &lt;b&gt;Imam Malik&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Ahmad&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Berdalil dengan hadits Aisyah untuk  membiarkan bayi yang masih hidup dalam perut ibu sampai meninggal adalah  sesuatu yang aneh bila ditinjau dari dua segi :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bahwasannya membedah perut tidak akan mematahkan tulangnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahwasannya hidupnya janin apabila telah sempurna bentuknya lalu  dikeluarkan dengan jalur oprasi bedah. Hal ini sering terjadi. Dari sini  ada dua hal yang bertentangan antara menyelamatkan nyawa bayi itu  ataukah menjaga kehormatan sang ibu untuk tidak dilakukan pembedahan dan  mematahkan tulangnya ? tidak diragukan lagi bahwa kemungkinan pertana  itulah yang lebih rajih. Ditambah lagi bahwasannya pembedahan perut sang  ibu untuk tujuan ini bukanlah sebuah bentuk penghinaan terhadap mayat.  Maka  yang benar adalah pendapat yang mewajibkan pembedahan perut ibu  jika para dokter menguatkan kemungkinan bayi itu bisa hidup selepas  operasi bedah tersebut.”&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;Berkata &lt;b&gt;Syaikh Al Albani&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Apa yang  dipilih oleh Syaikh Rosyid  Ridlo adalah madzhab Syafi’iyah sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi,  dan beliau mengatakan bahwa ini adalah madzhab Abu Hanifah dan jumhur  ulama’ juga madzhab Ibnu Hazm dan ini adalah sesuatu yang benar Insya  Alloh.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Lihat Ahkamul Janaiz  hal : 297)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Berkata &lt;b&gt;Syaikh Ahmad Syakir&lt;/b&gt; dalam Ta’liq Al Muhalla :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Adapun mengeluarkan bayi yang masih  hidup dalam kandungan sang ibu maka hal ini wajib dilakukan. Adapun  bagaimana caranya, hal itu terserah kepada para ahlinya baik seorang  dokter maupun dukun bayi.”&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h3&gt;Hukum memakan mayat dalam keadaan terpaksa&lt;/h3&gt;Jika ada seseorang dalam keadaan sangat kelaparan yang mana kalau  tidak makan akan meninggal dunia lalu dia tidak menemukan apa-apa  kecuali daging mayat manusia, maka para ulama’ berselisih pendapat  apakah boleh baginya memakan dagingnya ataukah tidak ?&lt;br /&gt;Berkata &lt;b&gt;Imam Nawawi&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Boleh memakan daging manusia yang tidak  ma’shum,(1) semacam orang kafir harbi,(2) orang murtad, pezina muhshon  dan lainnya. Adapun orang yang terjaga kehormatannya seperti mayat  muslim, kafir dzimmi atau musta’man (3) maka haram  memakan daging  mereka. Terkecuali kalau memang tidak mendapatkan apa-apa kecuali daging  mayat manusia yang ma’shum maka dibolehkan memakan dagingnya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Lihat Roudlotut Tholibin 2/284 dengan ringkas)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Berkata &lt;b&gt;Syaikh Ahmad Dirdir&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Tidak boleh bagi orang yang dalam  keadaan terpaksa memakan daging manusia meskipun mayat itu orang kafir.  Namun Imam Ibnu Arafah membolehkannya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Lihat Syarah Kabir Ala Mukhtashor Al Kholil 1/)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Berkata &lt;b&gt;Imam Ibnu Qudamah&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Ulama’ madzhab Hambali mengharamkan  memakan daging manusia yang ma’shum karena kehormatannya meskipun dalam  keadaan terpaksa, namun boleh memakan daging mayat orang kafir harbi dan  orang murtad karena keduanya tidak memiliki kehormatan baik dia temukan  dalam keadaan sudah meninggal atau dia membunuhnya terlebih dahulu.  Imam Syafi’I dan sebagian Hanafiyah berkata : “boleh memakan daging  manusia ma’shum.” Dan pendapat inilah yang lebih benar karena kehormatan  orang yang masih hidup lebih utama daripada kehormatan yang telah  meninggal.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Al Mughni 11/79 dengan ringkas dan lihat pula Al Inshof oleh Al Mardawi 10/376)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Berkata &lt;b&gt;Imam Ibnu Hazm&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Semua yang diharamkan baik berupa  makanan ataupun minuman seperti babi, binatang buruan di daerah haram,  bangkai, darah, daging binatang buas, khomer dan lainnya kalau dalam  keadaan terpaksa menjadi halal untuk memakannya selain daging manusia,  maka tidak boleh memakannya baik dalam keadaan terpaksa maupun tidak  karena kewajiban  terhadap mayat adalah menguburnya yang berarti haram  diperlakukan dengan selainnya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Al Muhalla 5/426)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;h3&gt;Hukum otopsi jenazah muslim untuk belajar ilmu kedokteran&lt;/h3&gt;Islam sebagai agama yang telah disempurnakan oleh Alloh telah  menetapkan beberapa kaedah untuk menjawab permasalahan yang belum  terjadi pada zaman Rosululloh. Diantara kaedah tersebut adalah&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;“Apabila berbenturan antara dua  kemaslahatan maka di lakukan yang paling banyak maslahatnya juga apabila  berbenturan antara dua mafsadah maka di lakukan yang paling ringan  mafsadahnya”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Lihat Al Qowaid Al Fiqhiyah  Syaikh As Sa’di hal : 45-48)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Masalah otopsi dan bedah mayat muslim atau dzimmi masuk dalam kaedah  ini, karena otopsi banyak mengandung faedah yang sangat besar seperti  mengungkap tindakan kriminalitas, mendeteksi sedini mungkin adanya wabah  menular sehingga cepat bisa diatasi dan beberapa manfaat lainnya. Juga  apa yang lakukan oleh mahasiswa kedokteran untuk melakukan bedah mayat  dalam rangka belajar banyak mengandung manfaat untuk ummat.&lt;br /&gt;Semua ini kalau bertentangan dengan maslahat menjaga kehormatan  mayat, maka harus dilihat mana yang lebih kuat masalahatnya sehingga  bisa dihukumi boleh ataukah tidak ?&lt;br /&gt;Kalau dilihat secara umum tentang keharusan menjaga kelangsungan  hidup manusia maka prektek bedah semacam ini diperbolehkan. Wallahu  A’lam&lt;br /&gt;Jika ada yang bertanya : Kenapa tidak digunakan jasad binatang saja ?&lt;br /&gt;Jawab : Ada perbedaan yang sangat tajam antara organ tubuh manusia  dengan organ tubuh binatang  yang dengannya tidak mungkin dijadikan  dasar dalam belajar kedokteran. Sebagaimana dengan sangat jelas bagi  mahasiswa fakultas kedokteran. (Lihat secara lengkap pembahasan ini di  Abhats Haiah Fatwa Kibarul Ulama’ hal :48-67)&lt;br /&gt;Namun kalau jasad yang di bedah itu mayat yang tidak ma’shum, maka itulah yang lebih selamat. Berkata &lt;b&gt;Syaikh Al Albani&lt;/b&gt; disela-sela ucapan beliau tentang keharaman membongkar kuburan muslim :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Dengan ini terjawablah pertanyaan yang  sering dilontarkan mahasiswa fakultas kedokteran yaitu : “Apakah boleh  memecahkan tulang mayat untuk dijadikan bahan penelitian kedokteran ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Jawabnya : “Tidak boleh dilakukan terhadap mayat muslim namun boleh terhadap lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Ahkamul Janaiz hal : 299)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Ada baiknya kita turunkan teks fatwa Haiah kibarul Ulama’ no 47  tanggal 20/8/1396 H tentang pandangan Hai’ah terhadap praktek otopsi dan  pembedahan mayat muslim untuk tujuan kemaslahatan medis.&lt;br /&gt;Jawab :&lt;br /&gt;Setelah ditelaah ternyata masalah ini mengandung tiga unsur, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian saat terjadi tindakan kriminalitas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Otopsi  mayat untuk mengetahui adanya wabah penyakit agar bisa diambil tindakan preventif secara dini&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Otopsi mayat untuk belajar ilmu kedokteran&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Setelah di bahas dan saling mengutarakan pendapat, maka majlis memutuskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Untuk masalah pertama dan kedua, majlis berpendapat tentang  diperbolehkannya untuk mewujudkan banyak kemaslahatan dalam bidang  keamanan, keadilan  dan tindakan preventif dari wabah penyakit. Adapun  mafsadah merusak kehormatan mayat yang di otopsi bisa tertutupi kalau  dibandingkan dengan kemaslahatannya yang sangat banyak. Maka majlis  sepakat menetapkan  diperbolehkan melakukan otopsi mayat untuk dua  tujuan ini, baik mayat itu ma’shum ataukah tidak.&lt;br /&gt;Adapun yang ketiga yaitu yang berhubungan dengan tujuan pendidikan  medis, maka memandang bahwa syariat islam datang dengan membawa serta  memperbanyak kemaslahatan dan mencegah serta memperkecil mafsadah dengan  cara melakukan mafsadah yang paling ringan serta maslahat yang paling  besar, juga karena tidak bisa diganti dengan membedah binatang juga  karena pembedahan ini banyak mengandung maslahat seiring dengan  perkembangan ilmu medis, maka majlis berpendapat bahwa secara umum  diperbolehkan untuk membedah mayat muslim. Hanya saja karena memang  islam menghormati seorang muslim baik hidup maupun mati sebagaimana yang  diriwayatkan oleh &lt;b&gt;Imam Ahmad&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Abu Dawud&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Ibnu majah&lt;/b&gt; dari &lt;b&gt;Aisyah&lt;/b&gt; bahwa Rosululloh bersabda :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Mematahkan tulang mayit sebagaimana mematahkannya tatkala masih hidup.”&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Juga melihat bahwa bedah itu mengihanakan kehormatan jenazah muslim,  padahal itu semua bisa dilakukan terhadap  jasad orang yang tidak  ma’shum, maka majlis berpendapat bahwa bedah tersebut harus Cuma  dilakukan terhadap mayat yang tidak ma’shum bukan terhadap mayat orang  yang ma’shum. Wallahul Muwaffiq.&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Faedah :&lt;/h3&gt;Karena sedikit ada keterkaitan dengan masalah ini, maka kita bahas juga masalah  :&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;Hukum membongkar kuburan muslim&lt;/h3&gt;Hadits &lt;b&gt;Aisyah&lt;/b&gt; diatas menunjukkan keharaman  membongkar kuburan seorang muslim karena akan bisa memecahkan tulangnya.  (Lihat Ahkamul Janaiz Imam Al Albani hal : 298)&lt;br /&gt;Berkata &lt;b&gt;Imam Nawawi&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Tidak boleh membongkar kuburan muslim  tanpa ada sebab syar’I. Dan dibolehkan kalau ada ada sebab syari seperti  kalau mayat dalam kuburan itu sudah hancur dan berubah menjadi tanah.  Kalau memang sudah demikian boleh mengubur orang lain di situ juga boleh  menanam tanaman atau membangun bangunan  atau lainnya jika sudah tidak  lagi terdapat tulang belulang mayat disitu. Dan untuk menentukan hal ini  tergantung pada daerah masing-masing.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Al Majmu’ :5/303)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Berkata &lt;b&gt;Syaikh Al Albani&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Dengan ini dapat diketahui haramnya  perbuatan yang dilakukan sebagian pemerintah muslim yang mana mereka  membongkar kuburan muslim untuk dijadikan perumahan atau lainnya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Ahkamul Janaiz hal : 198)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Namun jika kuburan itu kuburan orang-orang kafir maka sama sekali  tidak dilarang membongkar kuburan mereka, karena mereka sama sekali  tidak punya kehormatan, berdasarkan mafhum mukholafah dari hadits &lt;b&gt;Aisyah&lt;/b&gt; tersebut diatas. Juga berdasarkan hadits &lt;b&gt;Anas bin Malik yang&lt;/b&gt; sangat panjang yang intinya :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Tatkala Rosululloh datang ke kota  madinah, beliau memerintahakn untk membangun masjid dan beliau  mendapatkan tanah wakaf dari Bani Najjar yang didalamnya ada kuburan  orang-orang musyrik maka Rosululloh memerintahkan untuk membongkar  kuburan itu dan meratakannya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(HR. Bukhori Muslim)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Berkata &lt;b&gt;Al Hafidl Ibnu Hajar&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Dalam hadits ini terdapat hukum  dibolehkannya mengelola tanah kuburan yang didapat lewat hibah atau jual  beli, juga boleh membongkar kuburan tua apabila tidak ada kehormatannya  juga dibolehkan sholat di bekas kuburan orang-orang musyrik setelah  dibongkar dan dikeluarkan isinya juga dibolehkan membangun masjid  ditanah tersebut.”&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Wallahu A’lam&lt;br /&gt;_______________________________________&lt;br /&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li style="text-align: left;"&gt;(1) Ma’shum disini berarti orang yang terjaga harta, jiwa dan  kehormatannya, dalam artian tidak boleh dibunuh, dirampas hartanya  kecuali dengan haknya. Mereka adalah orang islam dan orang kafir yang  tidak memerangi ummat islam. (Lihat Al Qowaid Al Fiqhiyah Syaikh As  Sa’di hal : 56&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;li style="text-align: left;"&gt;(2) Yaitu orang-orang kafir yang memerangi ummat islam, mereka boleh  dibunuh dimanapun berada sebagaimana firman Nya : “Dan bunuhlah mereka  dimanapun kamu jumpai mereka.” (QS. Al Baqoroh : 191)&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;li style="text-align: left;"&gt;(3) Yaitu orang kafir yang hidup di negri muslim, mereka tunduk dan  patuh kepada pemerintah muslim dan membayar jizyah, sebagaimana firman  Alloh surat At Taubah : 29&lt;br /&gt;Kafir Musta’man adalah orang kafir yang mendapatkan jaminan keamanan  daro orang islam. Keduanya haram dibunuh dan di rampas hartanya.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="description"&gt;Sumber:&lt;a href="http://ahmadsabiq.com/2009/12/28/otopsi-bedah/"&gt; Berupaya Menghidupkan Sunnah di Atas Jalan Nubuwwah    &lt;/a&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div id="rss-big"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-8472371454160315503?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/8472371454160315503/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hukum-bedah-dan-otopsi-jenazah-muslim.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/8472371454160315503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/8472371454160315503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hukum-bedah-dan-otopsi-jenazah-muslim.html' title='Hukum Bedah dan Otopsi Jenazah Muslim'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ULX_MdQG8jg/TgBIsSIDJGI/AAAAAAAAAMk/bTTvbY2G6o0/s72-c/ruang%2Bbedah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-2155810231356749010</id><published>2011-06-20T15:34:00.005+09:00</published><updated>2011-06-30T11:07:59.022+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mobile Phone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aplikasi Hp'/><title type='text'>Aplikasi "Muslim Kids Series: Dua" Hadir di Market Android!</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-VXs91q748WE/Tf7n8_mmqUI/AAAAAAAAAMU/iqbON6VhX7o/s1600/SC20110619-224940.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-VXs91q748WE/Tf7n8_mmqUI/AAAAAAAAAMU/iqbON6VhX7o/s320/SC20110619-224940.png" width="256" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;"Muslim Kids Series: Dua" di Market Android&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin pas lagi buka situs yufid.org, saya lihat ada aplikasi menarik buat anak-anak, namanya &lt;b&gt;Muslim Kids Series: Dua&lt;/b&gt; tapi untuk I-Phone.&amp;nbsp; Saat itu suami ada di samping saya, beliau lalu bilang kalau aplikasi ini juga sudah tersedia untuk android.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tertarik dan penasaran dengan aplikasi ini, GPL ( Gak Pak Lama... hehe) saya langsung ngambil hp Galaxy Mini saya, segera buka market dan nyari aplikasi itu. Alhamdulillah ketemu :). Tapi pas download aplikasinya, agak kaget juga ternyata ukuran filenya lumayan besar sekitar 12 Mb, ah nggak apa-apa, toh kemampuan Galaxy Mini dipadu dengan layanan unlimited dari Telkom*** nggak diragukan lagi insyaAllah mantabss (bukan promosi yaa hehe), Hsdpa bo! (Jangan tanya saya apa hsdpa itu yaaah... silahkan googling ajah...wkwkwk).&amp;nbsp; Lumayan lama waktu downloadnya, maklum quota paket data unlimited saya sudah sampai titik 0, tapi tetap lancar jaya, walaupun butuh waktu, alhamdulillah akhirnya selesai juga downloadnya dan sukses ter-install di my Mini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow benar-benar aplikasi yang menarik, Muslim Kids Series: Dua, oh ya kata Dua disini bukan menunjukkan sekuel ya, tapi ini adalah ejaan dalam bahasa Inggris untuk Doa (bahasa Indonesia). Ini adalah aplikasi buatan anak negeri asli, dari Perusahaan Yufid.Inc. For your information ( halaah sok ngelinggis pula...hehe), untuk I-Phone, aplikasi ini saat baru beberapa hari launching langsung masuk Top Free di App Store, dan ini adalah aplikasi kedua dari Yufid yang masuk Top Free di App Store (sebelumnya   app KBBI di iPhone dan iPad selama sebulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi ini benar-benar dibuat untuk disukai anak-anak, dengan tampilan yang ringkas dan mudah digunakan, serta gambar-gambar yang menarik untuk setiap doanya, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Ok, untuk lebih jelasnya coba saja lihat tampilan dari aplikasi ini, yang saya ambil dari Galaxy Mini saya ^^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-_sOYEWtBcjw/Tf7jEaiD59I/AAAAAAAAAL8/v70JQEtyoDk/s1600/SC20110619-224349.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-_sOYEWtBcjw/Tf7jEaiD59I/AAAAAAAAAL8/v70JQEtyoDk/s320/SC20110619-224349.png" width="256" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;halaman awal dalam bahasa Inggris&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-T4Xdub1Bt5U/Tf7jvyZfq-I/AAAAAAAAAME/-cz3C_gX9P4/s1600/SC20110619-225720.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-T4Xdub1Bt5U/Tf7jvyZfq-I/AAAAAAAAAME/-cz3C_gX9P4/s320/SC20110619-225720.png" width="256" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;tampilan halaman awal dalam bahasa Indonesia&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Jika salah satu gambar di atas disentuh,  maka  akan memunculkan halaman yang   lebih detail yang berisi teks arab  doa  yang sesuai beserta dengan   terjemahannya. Berikut, salah satu tampilan halaman detailnya untuk&amp;nbsp; doa berbuka puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-g-pDZXWU6Us/Tf7lBNdvkqI/AAAAAAAAAMM/SYewhdRdzRM/s1600/SC20110619-230208.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-g-pDZXWU6Us/Tf7lBNdvkqI/AAAAAAAAAMM/SYewhdRdzRM/s320/SC20110619-230208.png" width="256" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;tampilan halaman untuk doa berbuka puasa&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Jika teks doa  tersebut kita klik, maka akan terdengar suara seorang  anak kecil yang  sedang  membacakannya.Oh ya, teks terjemahannya tersedia dalam bahasa Inggris dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, tunggu apa lagi, bagi muslim pengguna Android dan I-Phone sangat layak memiliki aplikasi ini, karena ini juga cocok bagi orang dewasa lho, masa kalah sama anak kecil hehe. Alhamdulillah tiga putri saya suka banget sama aplikasi ini, tapi harus diawasin, maklum masih kecil-kecil, bisa mencet sembarangan, dan bisa-bisa banyak file di hp yang berantakan :p.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;referensi:&amp;nbsp;&lt;a href="http://irgimnur.blogspot.com/2011/04/aplikasi-iphone-muslim-kids-series-dua.html"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-2155810231356749010?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/2155810231356749010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/aplikasi-muslim-kids-series-dua-hadir.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/2155810231356749010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/2155810231356749010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/aplikasi-muslim-kids-series-dua-hadir.html' title='Aplikasi &quot;Muslim Kids Series: Dua&quot; Hadir di Market Android!'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-VXs91q748WE/Tf7n8_mmqUI/AAAAAAAAAMU/iqbON6VhX7o/s72-c/SC20110619-224940.png' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-7398326727117659981</id><published>2011-06-19T08:06:00.000+09:00</published><updated>2011-06-19T08:06:05.409+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretanku'/><title type='text'>Yang Mau Komentar, Silahkan...^^</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-I4RfHr7qveo/Tf0p4nf7qxI/AAAAAAAAALw/QxazLJCpRHU/s1600/kolom+komentar.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="163" src="http://1.bp.blogspot.com/-I4RfHr7qveo/Tf0p4nf7qxI/AAAAAAAAALw/QxazLJCpRHU/s200/kolom+komentar.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Fiuuh... akhirnya dapat juga template cantik ini (yang saya pakai buat blog saya sekarang ini, cantik kaaan^^), nemunya &lt;a href="http://btemplates.com/"&gt;disini&lt;/a&gt;. Di situs itu banyak banget nyediain ribuan template yang cantik-cantik dan keren-keren buat buat blog kamu, cepetan ditengok...hehe.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sudah selesai beres-beresin blognya, saya berniat mau membalas komentar dari &lt;a href="http://ummuyusufabdurrahman.wordpress.com/"&gt;Ummu Yusuf Abdurrahman&lt;/a&gt;, teman baruku di dunia maya (berharap bisa kopdar suatu saat...aamiin), tapi ... oh tidakkk (histeris mode on, di dalam hati aja loh yaa xixixi)!! Apa yang terjadi pada blogku??!! Tak bisa menampilkan kolom komentar...hiksss. Diriku termenung, terdiam seribu bahasa (hahaha... lebaaayyyy, bisa-bisanya ngitung, wong bisanya bahasa Indonesia&amp;nbsp;thok!! eitss diriku bukan orang jawa loh yaa.. ini pengaruh pergaulan dengan komunitas teman-teman kuliah yang mayoritas suku Jawa, dulu waktu di Kota Gudeg).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sempat terlintas di benakku untuk ganti template lagi, tapi gak semudah itu. Ganti template itu membutuhkan waktu dan melelahkan, ibarat rumah sudah dibangun, eeeh mau dibongkar lagi...cape' deeh. Kembali berpikir, meras otak (emangnya cucian pake diperas-peras...hehe). Ahaaa... ketemu juga jalan pintasnya, kenapa diriku melupakan mbah Google, yang selalu setia menemani diriku di dunia maya, selalu bersedia ditanya-tanya, satu pertanyaan Si Mbah akan ngasih ratusan bahkan ribuan jawaban...hehe, thanks ya Mbah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan inilah jawaban si Mbah ketika diriku mengajukan kata kunci "Cara Menampilkan Komentar Pada Setiap Postingan Di Blogspot ketika Menggunakan Template Pihak Ketiga" (yah begitulah kira-kira kata kuncinya, panjang banget ya..hehe), si Mbah merespon dengan memberikan link-link tutorial yang berkaitan dengan tips-trik blogger. Aku coba membuka salah satu linknya, tepatnya link yang &lt;a href="http://www.blogtegal.com/2011/01/menampilkan-kotak-komentar-blogspot.html"&gt;ini&lt;/a&gt;, dan alhamdulillah akhirnya problem solving dah^^.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ada yang punya masalah seperti saya? Silahkan kunjungi link di atas... insyaAllah bisa diatasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siiip dah.... sekarang gak pusing lagi, okaaay yang mau komentar silahkan, tapi jangan buang waktu anda dengan meninggalkan spam yah... jazaakumullaahulkhoyr (semoga Allah membalas anda dengan kebaikan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-7398326727117659981?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/7398326727117659981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/yang-mau-komentar-silahkan.html#comment-form' title='20 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/7398326727117659981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/7398326727117659981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/yang-mau-komentar-silahkan.html' title='Yang Mau Komentar, Silahkan...^^'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-I4RfHr7qveo/Tf0p4nf7qxI/AAAAAAAAALw/QxazLJCpRHU/s72-c/kolom+komentar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-8621279016290346617</id><published>2011-06-18T21:40:00.000+09:00</published><updated>2011-06-18T21:40:22.322+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretanku'/><title type='text'>yang kurasa...</title><content type='html'>&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-yywQvG4D3-E/TfybmmRoh-I/AAAAAAAAALs/cGed080WjqE/s1600/I-Love-My-Husband.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-yywQvG4D3-E/TfybmmRoh-I/AAAAAAAAALs/cGed080WjqE/s320/I-Love-My-Husband.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;sahabat sejati...&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;setiap kali engkau berbenah hendak ke negeri seberang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;tuk tunaikan tugasmu...&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;ada ribuan rasa sepi menyergap jiwaku&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;yang menari-nari berpadu dengan senyapnya hatiku...&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;beberapa saat dirimupun berlalu...&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;keheningan itu semakin nyata&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;di luar sana ramai... &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;di sisiku pun ramai dengan tawa dan pekikan putri-putri kita&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;tapi semua tak terasa sempurna ...&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;tak bisa kunikmati sepenuhnya tanpamu&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;aku tahu akan tiba saatnya perpisahan kita di dunia...&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;tapi itu semua rahasia Allah...&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;dan saat ini aku tak pernah usai mengharapkan keselamatanmu&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;agar engkau dapat kembali kepada kami dengan senyum ceriamu...&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;untukmu duhai sahabat sejatiku...&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #e06666;"&gt;&lt;b&gt;"zawwadakallaahu attaqwa, wa ghofaro dzanbaka, wa yassaro laka alkhoyroo haitsu maa kunta.. aamiin"&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-8621279016290346617?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/8621279016290346617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/yang-kurasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/8621279016290346617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/8621279016290346617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/yang-kurasa.html' title='yang kurasa...'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-yywQvG4D3-E/TfybmmRoh-I/AAAAAAAAALs/cGed080WjqE/s72-c/I-Love-My-Husband.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Ternate, Indonesia</georss:featurename><georss:point>0.788068 127.37715600000001</georss:point><georss:box>-39.388133499999995 67.61153100000001 40.9642695 -172.857219</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-8887246925018984543</id><published>2011-06-08T15:24:00.001+09:00</published><updated>2011-06-08T15:32:58.964+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Kapankah Wanita Mulai Sholat Zhuhur di Hari Jumat?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-DZB-BBexq9o/Te8VTpT_c0I/AAAAAAAAALA/Dq2XHm-YtQU/s1600/wntjmt.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="94" src="http://3.bp.blogspot.com/-DZB-BBexq9o/Te8VTpT_c0I/AAAAAAAAALA/Dq2XHm-YtQU/s200/wntjmt.jpg" width="125" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kita telah mengetahui bersama bahwa shalat Jumat tidaklah wajib bagi muslimah. Sebagai gantinya, ia melaksanakan shalat Zhuhur (empat rakaat) di rumahnya. Seringkali ditanyakan oleh para wanita, kapan mulainya shalat Zhuhur tersebut? Apakah ketika telah masuk waktu Zhuhur atau barangkali menunggu sampai shalat Jumat para pria di masjid selesai? Moga artikel sederhana ini bisa sebagai jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Lajnah Ad Daimah di Kerajaan Saudi Arabia pernah ditanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa hukum menunaikan shalat jumat bagi wanita? Apakah ia melaksanakannya sebelum atau sesudah shalat para pria atau ia shalat bersama mereka (kaum pria)?”&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawaban yang disampaikan oleh para ulama komisi fatwa Al Lajnah Ad Daimah,&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita tidak wajib melaksanakan shalat Jum’at. Namun jika wanita melaksanakan shalat Jumat bersama imam shalat Jumat, shalatnya tetap dinilai sah. Jika ia shalat di rumahnya, maka ia kerjakan shalat Zhuhur empat rakaat. Ia boleh mulai mengerjakan shalat Zhuhur tadi setelah masuk waktu Zhuhur, yaitu setelah matahari tergelincir ke barat (waktu zawal). Dan sekali lagi dia tidak boleh laksanakan shalat jumat (di rumah) sebagaimana maksud keterangan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa billahit taufiq. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa di atas ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan selaku anggota dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 8/212, no. 4147, pertanyaan kedua]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, seorang wanita boleh melaksanakan shalat Zhuhur saat hari Jumat di rumah mulai sejak masuk waktu Zhuhur, tidak mesti menunggu sampai para jamaah pria selesai menunaikan shalat Jumat.  Hal yang sama berlaku bagi orang yang udzur tidak bisa melaksanakan shalat Jumat seperti orang yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga sajian singkat ini menjadi ilmu bermanfaat bagi pengunjung setia rumaysho.com sekalian. Wallahu waliyyut taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riyadh-KSA, 7 Rajab 1432 H (08/06/2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3457-kapan-wanita-mulai-shalat-zhuhur-di-hari-jumat.html?utm_source=feedburner&amp;amp;utm_medium=feed&amp;amp;utm_campaign=Feed%3A+rumaysho%2FrFAC+%28Feed+Rumaysho.com%29"&gt;www.rumaysho.com      &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-8887246925018984543?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/8887246925018984543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/kapnkah-wanita-mulai-sholat-zhuhur-di.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/8887246925018984543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/8887246925018984543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/kapnkah-wanita-mulai-sholat-zhuhur-di.html' title='Kapankah Wanita Mulai Sholat Zhuhur di Hari Jumat?'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-DZB-BBexq9o/Te8VTpT_c0I/AAAAAAAAALA/Dq2XHm-YtQU/s72-c/wntjmt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-7017163589927668281</id><published>2011-06-08T12:40:00.000+09:00</published><updated>2011-06-08T12:40:35.135+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jejak Peradaban Islam'/><title type='text'>Granada</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/--y33DEb3Y2k/Te7uinu3efI/AAAAAAAAAKw/hi_siTfySG0/s1600/granad1.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="194" src="http://2.bp.blogspot.com/--y33DEb3Y2k/Te7uinu3efI/AAAAAAAAAKw/hi_siTfySG0/s320/granad1.jpeg" width="259" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Letak geografis:&lt;br /&gt;Granada terletak di sebelah selatan kota Madrid, ibu kota Spanyol sekarang. Iklimnya sangat bagus, karena itulah dinamakan Granada. Dalam bahasa Romawi granada berarti bagus dan indah. Dari sebelah selatan, berbatasan dengan Laut Tengah dan sungai Shaniel. Tingginya lebih kurang 669 m. di atas permukaan laut. Di sinilah letak rahasia keindahannya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kaum Muslimin memasuki Granada, sewaktu penaklukan Andalusia (Spanyol sekarang), kota ini telah selesai dibangun di atas puing sebuah kota kecil yang bernama Albery. Di kemudian hari Granada menjadi ibu kota negara Dinasti Bani Ahmar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ksjFVnrUjvA/Te7u8Pp21tI/AAAAAAAAAK4/UUI126wzLyw/s1600/Granada.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-ksjFVnrUjvA/Te7u8Pp21tI/AAAAAAAAAK4/UUI126wzLyw/s320/Granada.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Granada pernah menjadi pusat ilmu keislaman terbesar dan salah satu mata rantai kebudayaan Islam yang mencakup kota-kota lain&lt;br /&gt;seperti, Kordoba, Valensia, Megrit, Asbilia, Toledo dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kiblat ilmu pengetahuan, para penuntut ilmu dari daerah-daerah tetangga, baik yang Islam maupun yang bukan banyak berdatangan. Ketika itu terkenal sekolah Yusufiah, sekolah Nasriah dan lembaga-lembaga pendikan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan ilmiah di Andalusia bersamaan dengan munculnya ahli ilmu falak dan matematika Abul Qasim Al-Magrity (397 H. / 1008 M.) yang mendirikan sekolah matematika terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objek wisata:&lt;br /&gt;Setelah posisi Bani Ahmar menguat di Granada dan di sebuah bukit di sebelah timur lautnya, mereka mulai membangun pondasi kota atau istana Alhambra. Pada mulanya, Alhambra hanya merupakan benteng sederhana hingga Badis bin Habbus, menjadi raja Granada. Dialah yang membuatnya sebagai pusat pemerintahan dan membangun pagar tinggi di sekeliling bukit itu. Dengan perjalanan waktu Alhambra menjadi benteng Granada yang kuat. Sebab penamaannya dengan Alhambra adalah karena batu-batu yang dipakai untuk membangunnya berwarna merah (dari kata al-hamra = merah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang membedakan Alhambra dengan tempat-tempat lain adalah mesjid-mesjidnya. Mesjid jami Alhambra adalah mesjid yang paling bagus dan indah. Terkenal dengan banyaknya marmer yang dipakai untuk membangunnya. Juga rumah sakit-rumah sakit yang ada di dalamnya, seperti rumah sakit Granada atau rumah sakit kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Granada yang paling terkenal:&lt;br /&gt;Granada terkenal dengan cendekiawannya di berbagai disiplin ilmu. Yang paling terkenal adalah: Imam As-Syathibi, Lisanudin Al-Khathib, Sarqisthi, Ibnu Zumrak, Muhammad bin Raqqah, Abu Yahya bin Radwan, Abu Abdillah Al-Fahham, Ibnus Syarrah, Yahya bin Hazil At-Tajbibi, As-Syaquri, Ibnu Zuhr dan dari kalangan wanita;H afshah bintil Haj, Hamdunah binti Ziad dan saudarinya, Zainab.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://blog.vbaitullah.or.id/2002/08/13/15-granada/"&gt;vbaitullah &lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-7017163589927668281?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/7017163589927668281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/granada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/7017163589927668281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/7017163589927668281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/granada.html' title='Granada'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/--y33DEb3Y2k/Te7uinu3efI/AAAAAAAAAKw/hi_siTfySG0/s72-c/granad1.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-4149227087342711124</id><published>2011-06-08T11:57:00.001+09:00</published><updated>2011-09-26T20:14:14.776+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halal Haram'/><title type='text'>Haram / Halal Daging biawak…?</title><content type='html'>Pernakah melihat biawak? atau bahkan memakannya? Haram atau halalkah daging biawak? &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5umiot6KaF8/Te7kq_5yALI/AAAAAAAAAKo/KoptJ-JEd00/s1600/biawak.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-5umiot6KaF8/Te7kq_5yALI/AAAAAAAAAKo/KoptJ-JEd00/s1600/biawak.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Banyak orang yang menyamakan biawak dengan DHABB (hewan reptil padang pasir), padahal kedua binatang tersebut berbeda..  Islam membolehkan memakan Dhabb akan tetapi Islam melarang atau mengharamkan memakan daging Biawak.. Berikut tulisan megenai perbedaan keduanya beserta dalil mengapa biawak Haram untuk dikonsumsi.&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Beda DHABB dengan BIAWAK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui apa itu dhabb, pembaca -semoga diberkahi Allah- bisa membuka Kitab Al Hayawan karya Abu ‘Utsman ‘Amr bin Bahr Al Jahizh yang terdiri dari delapan jilid atau Tajul ‘Arus karya Murtadha Az Zabidi ataupun kamus arab lainnya . Di dalam dua kitab itu disebutkan tentang apa itu dhabb terlebih lagi pada kitab yang pertama, disana kita bisa mengetahui banyak tentang dhabb.&lt;br /&gt;Dan disini penulis hanya mencukupkan beberapa keterangan saja , diantaranya:&lt;br /&gt;- Dhabb adalah hewan reptil yang hidup di gurun pasir,&lt;br /&gt;- termasuk dari hewan darat bukan laut atau air,&lt;br /&gt;- termasuk dari jenis hewan darat yang kepalanya seperti ular,&lt;br /&gt;- umurnya panjang,&lt;br /&gt;- sekali bertelur bisa mencapai 60 sampai 70 butir dan telurnya menyerupai telur burung merpati,&lt;br /&gt;- warna kulitnya bisa berubah dikarenakan perubahan cuaca panas,&lt;br /&gt;- tidak meminum air bahkan mencukupkan dirinya dengan keringat,&lt;br /&gt;- ekor adalah senjatanya,&lt;br /&gt;- gigi-giginya tumbuh berbarengan,&lt;br /&gt;- mempunyai 4 kaki yang mana semua telapaknya seperti telapak tangan manusia,&lt;br /&gt;- sebagiannya ada yang mempunyai dua lidah,&lt;br /&gt;- hewan yang dimakan hanya belalang,&lt;br /&gt;- terkadang memakan anaknya sendiri,&lt;br /&gt;- makan tetumbuhan sejenis rumput,&lt;br /&gt;- menyukai kurma,&lt;br /&gt;- sebagian orang arab merasa jijik dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah pada suatu kesempatan saya bertanya kepada Syaikhuna Shalih Abdul Aziz Al Ghusn (hafizhahullah),&lt;br /&gt;Seperti apa dhabb itu?,&lt;br /&gt;beliau menjawab: “dhabb adalah hewan barr (padang pasir) yang berjalan diatas perutnya”.&lt;br /&gt;Apakah dhabb bertaring?,&lt;br /&gt;beliau menjawab: “dhabb tidak bertaring, hewan ini memakan rerumputan dan tidak meminum air, dan sebagian orang memakan dagingnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;APA ITU BIAWAK?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan dhabb, diantara keterangan tentang biyawak adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;- biyawak adalah hewan reptil persis seperti komodo akan tetapi ukurannya lebih kecil,&lt;br /&gt;- hidup di gua-gua kecil pinggiran sungai,&lt;br /&gt;- bisa berenang di air dan berjalan di darat seperti halnya buaya,&lt;br /&gt;- makanannya adalah daging karena hewan ini termasuk dari jenis karnivora,&lt;br /&gt;- dia memangsa santapannya (hewan-hewan yang dimakannya seperti katak, tikus, ayam atau burung sekalipun) dengan gigi taring,&lt;br /&gt;- ciri fisiknya mirip dengan komodo dari mulai bentuk perut, leher, kepala, ekor, sampai gaya berjalannya.&lt;br /&gt;Penulis sengaja tidak mencari referensi tentang apa itu biyawak dari kamus-kamus binatang, dikarenakan penulis pernah langsung memelihara hewan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;DAGING DHABB HALAL DIMAKAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah beberapa hadits yang menjadi dalil akan kehalalan daging dhabb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابْن عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم:&lt;br /&gt;(الضَبُّ لَسْتُ آكِلَهُ وَلاَ أُحَرِّمُهُ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Umar -semoga Allah meridhainya-, ia berkata: telah bersabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-:&lt;br /&gt;“Aku tidak memakan dhabb dan aku tidak mengharamkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما، عَنْ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ:&lt;br /&gt;أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَيْتَ مَيْمُوْنَةَ، فَأُتِيَ بِضَبٍّ مَحْنُوْذٍ، فَأَهْوَى إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِيَدِهِ، فَقَالَ بَعْضُ النِّسْوَةِ: أَخْبِرُوْا رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَا يُرِيْدُ أَنْ يَأْكُلَ، فَقَالُوْا: هُوَ ضَبٌّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَرَفَعَ يَدَهُ، فَقُلْتُ: أَحَرَامٌ هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ: (لاَ، وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِيْ، فَأَجِدُنِيْ أَعَافُهُ). قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ، وَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَنْظُرُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas -semoga Allah meridhai keduanya-, dari Khalid bin Walid -semoga Allah meridhainya-: bahwasanya ia bersama Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- masuk ke rumah Maimunah -semoga Allah meridhainya-, lalu didatangkan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- daging dhabb panggang, kemudian Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melayangkan tangannya kearah daging tersebut, lalu sebagian kaum wanita berkata:&lt;br /&gt;“Beritahu Rasulullah atas apa yang akan dimakannya”,&lt;br /&gt;maka para sahabat berkata:&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah! Itu adalah daging dhabb”,&lt;br /&gt;kemudian Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengangkat tangannya, lalu aku -Khalid- bertanya: “Apakah daging ini haram wahai Rasulullah?”,&lt;br /&gt;kemudian Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:&lt;br /&gt;“Tidak, akan tetapi hewan ini tidak ada di tanah kaumku dan aku memperbolehkannya”,&lt;br /&gt;Khalid berkata:&lt;br /&gt;“Aku pun mengambilnya lalu memakannya dan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melihatnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنِ ابْنِ عُمَرَ. قَالَ:&lt;br /&gt;سَأَلَ رَجُلٌ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، عَنْ أَكْلِ الضَّبِّ؟ فَقَالَ:&lt;br /&gt;(لاَ آكِلُهُ وَلاَ أُحَرِّمُهُ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Umar -semoga Allah meridhai keduanya-, ia berkata:&lt;br /&gt;“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah ditanya ketika sedang berada di atas mimbar tentang memakan dhabb, lalu Beliau menjawab:&lt;br /&gt;“Aku tidak memakannya dan tidak mengharamkannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابْن عُمَرَ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ مَعَهُ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فِيْهِمْ سَعْدٌ. وَأُتُوْا بِلَحْمِ ضَبٍّ. فَنَادَتِ امْرَأَةٌ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ.&lt;br /&gt;فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (كُلُوْا، فَإِنَّهُ حَلاَلٌ. وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِيْ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu ‘Umar -semoga Allah meridhai keduanya-: bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersama beberapa orang dari sahabatnya -semoga Allah meridhai mereka-, diantaranya adalah Sa’d. Didatangkan kepada mereka daging dhabb, lalu ada seorang wanita berteriak:&lt;br /&gt;“Itu adalah daging dhabb”,&lt;br /&gt;kemudian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:&lt;br /&gt;“Makanlah oleh kalian, karena sesungguhnya daging ini halal. Akan tetapi bukan dari makananku”.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;DAGING BIAWAK HARAM DIMAKAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan dhabb, dikarenakan biyawak termasuk dari jenis hewan buas dan bertaring, maka masuk kepada larangan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana dalam hadits-hadits berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنِ الزُّهْرِيْ:&lt;br /&gt;نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Az Zuhri:&lt;br /&gt;“Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah melarang setiap yang bertaring dari hewan buas (untuk dimakan.pent)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Tsa’labah Al Khusyni:&lt;br /&gt;“Bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang untuk memakan setiap yang bertaring dari hewan buas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ :&lt;br /&gt;عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ (كُلُّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ، فَأَكْلُهُ حَرَامٌ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya-, dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwasanya bersabda:&lt;br /&gt;“Setiap yang bertaring dari hewan buas, maka memakannya adalah haram”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ:&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ. وَعَنْ كُلِّ ذِيْ مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Abbas -semoga Allah meridhai keduanya-:&lt;br /&gt;“Bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan dari setiap burung yang bercakar (yakni untuk dimakan.pent)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, bahwa kata dhabb dalam bahasa arab tidak bisa kita artikan biyawak dalam bahasa Indonesia, karena keduanya adalah hewan yang saling berbeda. Dan kita di Indonesia tidak bisa mendapatkan satu ekor pun dhabb, karena memang disini bukanlah habibatnya. Sehingga kita ketahui dengan dalil-dalil yang ada bahwa daging dhabb halal untuk dimakan, adapun biyawak tidak, yakni daging biyawak haram untuk dimakan karena masuk pada hewan bertaring yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang umatnya untuk memakannya.&lt;br /&gt;Semoga risalah ini menjadi secercah sinar yang bermanfaat untuk kaum muslimin.&lt;br /&gt;Wal ‘ilmu ‘indallah, wallahu a’lam bish shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang senantiasa mengharap ridha dan ampunan Rabbnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syuhada Abu Syakir AlIskandar AlJawaghy AsSalafy&lt;br /&gt;Hayy Ar Royyan, Ad Da`iriy Asy Syarqiy, Riyadh, KSA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari: http://adhwaus-salaf.or.id/2010/02/11/halalkah-daging-biyawak/&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sumber: &lt;a href="http://almalanji.wordpress.com/2011/06/07/327/"&gt;AlMalanji &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-4149227087342711124?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/4149227087342711124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/haram-halal-daging-biawak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/4149227087342711124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/4149227087342711124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/haram-halal-daging-biawak.html' title='Haram / Halal Daging biawak…?'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5umiot6KaF8/Te7kq_5yALI/AAAAAAAAAKo/KoptJ-JEd00/s72-c/biawak.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-5075786928658568446</id><published>2011-06-07T13:20:00.000+09:00</published><updated>2011-06-07T13:20:33.092+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sudut Hati'/><title type='text'>Kupotret Rindu Yang Tak Bertunas</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-t56Vv8PhEs0/Te2lwpJX1II/AAAAAAAAAKg/9sOq7EAfI_c/s1600/Cherry_Blossom.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-t56Vv8PhEs0/Te2lwpJX1II/AAAAAAAAAKg/9sOq7EAfI_c/s200/Cherry_Blossom.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;&lt;b&gt;Harus jujur kuakui, sulit bagiku tuk definisikan kata rindu. Namun kuserahkan saja jemariku menari untuk menyulam beberapa kalimat agar mengungkapkan apa yang kuketahui tentang rindu itu sendiri.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;&lt;b&gt;Siapapun berhak memberikan pandangan tentang rindu. Aku berpikir, kata rindu itu sendiri bersifat umum. Dan akan benar-benar bermakna serta bersifat khusus sekiranya disertai obyek yang dirindu. Obyek tersebut bisa nyata ataupun abstrak tergantung subyek atau sosok yang sedang merindu.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tak salah pula sekiranya kututurkan bahwa rindu adalah sebuah kata kerja bagi hati. Ia bukanlah kata kerja bagi anggota badan yang walaupun anggota badan kerap kali tergerak untuk melakukan sesuatu sebagai respon dari rindu itu sendiri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya sulit jua bagiku memandang rindu sebagai sebuah “penyakit”. Namun begitu, tak mudah pula kupandang rindu sebagai reaksi jiwa yang “sehat”. Bagaimana tak kuucap demikian, cobalah engkau rasakan atau bisa jadi detik ini sedang engkau rasakan letupan-letupan rindu yang bergejolak.&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2 class="title" style="color: purple;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;♥&lt;b&gt; Percikan Rindu Di Sudut Hati&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Awalnya, rindu mungkin masih tak “liar” dan sedang terlelap nyenyak di sudut ruang hati. Seiring detik berdetak, pemiliknya sering tak tersadar, angin sejuk dari manakah yang jadikan rindu itu terbangun. Tak pula diketahui, mimpi manakah yang jadikan rindu itu tiba-tiba terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring waktu pula, rindu semakin bereaksi dan “mengamuk” serta berkecamuk hebat di hati. Pada saat yang sama, terbisiklah telinga untuk segera mendengar hal-hal yang rindu inginkan. Tersapalah lidah untuk berbicara. Terayulah mata untuk memandang. Tergodalah jiwa tuk rasakan hal-hal yang ingin dikenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2 class="title" style="color: purple;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;♥ Obati Rindu&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Saat-saat seperti itulah kukatakan rindu sebagai “penyakit”. Walau tak bersifat medis, ia pula terkadang timbulkan gejala-gejala lain yang menyebabkan si empunya terbaring sakit. Karena itu, sudah seharusnya rindu itu diobati. Dan hanya perjumpaanlah yang menjadi penawar sekaligus obat utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2 class="title" style="color: purple;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;♥ Potret-Potret Rindu&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ada banyak potret-potret kerinduan yang bertaburan dalam kehidupan. Siapa yang tak pernah merindu, bisa dipastikan tak ada cinta yang ia semburatkan karena rindu tumbuh seiring suburnya tunas-tunas cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dulu, ketika engkau bayi dan ditinggal sebentar sang ibu, tangisanmu langsung meledak dan serpihannya menusuk hati sang ibu. Terkumpul bermacam rindu darimu untuk ibu. Kau rindukan air susunya. Kau rindukan pelukan hangatnya. Kau rindukan suaranya. Kau rindukan belaian sayangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun sang ibu, pada saat yang sama, ia rindukan imut wajahmu. Ia rindukan candaanmu. Ia rindukan segalanya yang ada padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Mari sejenak intip sang ayah yang sedang bekerja seharian di luar rumah. Di tengah fokusnya menyelesaikan tugas, rindu pun datang bertandang. Ia rindukan anak dan istri di rumah. Ia rindukan canda si kecil di beranda. Ia rindukan sentuhan lembut kekasih hati. Ia rindukan racikan masakan kesukaan yang selalu terhidang. Hati begitu ingin cepat pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Seorang wanita pun begitu sensitif disapa oleh rindu. Karena tak tundukan pandangan atau tak menjaga etika syari bermu’amalah, wajah seorang laki-laki pun berhasil terekam melalui mata kemudian ditransfer dan tersimpan dalam pikirannya. Lelaki itu miliki titik-titik pesona dan mampu ditangkap sang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang menjadikan sang wanita terbalut rindu penuh harap dalam alam lamunannya. rindu menjadikan telaga air matanya bergelombang riuh hingga terbulir bening bak kristal menyusuri pipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Terlebih lagi bagi mereka baik laki-laki maupun wanita yang diberikan hidayah oleh Allah untuk lepas dari hubungan tak jelas dan haram yang bernama pacaran. Datanglah rindu mencandai dua insan itu. Mereka kenang masa-masa “indah” yang telah berlalu. Syaitan pun beraksi untuk mengikis hidayah yang telah mereka raih. Ujung-ujungnya, kembali mereka jalin jalinan hingga dosa-dosa maksiat kembali tertabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dan beberapa hari lagi, salah satu kerinduan orang-orang beriman akan terobati dengan datangnya bulan Ramadhan. Tamu agung yang dinanti-nanti. Di bulan itulah orang-orang beriman menabung limpahan pahala dengan memperbaiki kualitas dan kuantitas amal. Mendekati hari pertama puasa, rindu mereka memuncak. Sebelas bulan sudah berlalu dan pada saat itu mereka rindukan nikmatnya beribadah, mereka rindukan suasana berbuka puasa, mereka rindukan suasana sahur penuh berkah, dan pula, mereka rindukan tetesan-tetesan air mata kala berdoa dan bersujud di hadapan ar-Rahman ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br style="color: #e06666;" /&gt;&lt;span style="color: #e06666;"&gt; &lt;span style="color: purple;"&gt;Baiklah, kutitip rindu buat anda semua. Semoga kan kita bersua di taman-taman surga. Amiin ya mustajiba sa ilin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="color: purple;" /&gt;&lt;span style="color: purple;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Fachrian Almer Akiera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.remajaislam.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://remajaislam.com/gaya-muda/cinta/70-kupotret-rindu-yang-tak-bertunas.html"&gt;remajaislam&lt;/a&gt;     &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-5075786928658568446?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/5075786928658568446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/kupotret-rindu-yang-tak-bertunas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/5075786928658568446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/5075786928658568446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/kupotret-rindu-yang-tak-bertunas.html' title='Kupotret Rindu Yang Tak Bertunas'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-t56Vv8PhEs0/Te2lwpJX1II/AAAAAAAAAKg/9sOq7EAfI_c/s72-c/Cherry_Blossom.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-6640117232736532736</id><published>2011-06-07T11:20:00.001+09:00</published><updated>2011-06-07T11:25:59.443+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hadiah di Hari Lahir (7), Waktu Pelaksanaan Aqiqah</title><content type='html'>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan kali ini adalah pembahasan terakhir dari kami mengenai aqiqah. Kita masuk pada pembahasan waktu pelaksanaan aqiqah dan beberapa hal lainnya. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Waktu Pelaksanaan Aqiqah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqiqah disunnahkan dilaksanakan pada hari ketujuh. Hal ini berdasarkan hadits,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama." (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa hikmah aqiqah dilaksanakan pada hari ketujuh?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid Asy Syaukani, Shidiq Hasan Khon rahimahullah menerangkan, “Sudah semestinya ada selang waktu antara kelahiran dan waktu aqiqah. Pada awal kelahiran tentu saja keluarga disibukkan untuk merawat si ibu dan bayi. Sehingga ketika itu, janganlah mereka dibebani lagi dengan kesibukan yang lain. Dan tentu ketika itu mencari kambing juga butuh usaha. Seandainya aqiqah disyariatkan di hari pertama kelahiran sungguh ini sangat menyulitkan. Hari ketujuhlah hari yang cukup lapang untuk pelaksanaan aqiqah.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Dari waktu kapan dihitung hari ketujuh?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وذهب جمهور الفقهاء إلى أنّ يوم الولادة يحسب من السّبعة ، ولا تحسب اللّيلة إن ولد ليلاً ، بل يحسب اليوم الّذي يليها&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mayoritas ulama pakar fiqih berpandangan bahwa waktu siang[2] pada hari kelahiran adalah awal hitungan tujuh hari. Sedangkan waktu malam[3] tidaklah jadi hitungan jika bayi tersebut dilahirkan malam, namun yang jadi hitungan hari berikutnya.”[4] Barangkali yang dijadikan dalil adalah hadits berikut ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Disembelih baginya pada hari ketujuh.” Hari yang dimaksudkan adalah siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya ada bayi yang lahir pada hari Senin (21/06), pukul enam pagi, maka hitungan hari ketujuh sudah mulai dihitung pada hari Senin. Sehingga aqiqah bayi tersebut dilaksanakan pada hari Ahad (27/06).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bayi tersebut lahir pada hari Senin (21/06), pukul enam sore, maka hitungan awalnya tidak dimulai dari hari Senin, namun dari hari Selasa keesokan harinya. Sehingga aqiqah bayi tersebut pada hari Senin (28/06). Semoga bisa memahami contoh yang diberikan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana jika aqiqah tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah ini terdapat silang pendapat di antara para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ulama Syafi’iyah dan Hambali, waktu aqiqah dimulai dari kelahiran. Tidak sah aqiqah sebelumnya dan cuma dianggap sembelihan biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah, waktu aqiqah adalah pada hari ketujuh dan tidak boleh sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama Malikiyah pun membatasi bahwa aqiqah sudah gugur setelah hari ketujuh. Sedangkan ulama Syafi’iyah membolehkan aqiqah sebelum usia baligh, dan ini menjadi kewajiban sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ulama Hambali berpendapat bahwa jika aqiqah tidak dilaksanakan pada hari ketujuh, maka disunnahkan dilaksanakan pada hari keempatbelas. Jika tidak sempat lagi pada hari tersebut, boleh dilaksanakan pada hari keduapuluh satu. Sebagaimana hal ini diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa aqiqah tidaklah dianggap luput jika diakhirkan waktunya. Akan tetapi, dianjurkan aqiqah tidaklah diakhirkan hingga usia baligh. Jika telah baligh belum juga diaqiqahi, maka aqiqahnya itu gugur dan si anak boleh memilih untuk mengaqiqahi dirinya sendiri.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perselisihan di atas, penulis sarankan agar aqiqah dilaksanakan pada hari ketujuh, tidak sebelum atau sesudahnya. Lebih baik berpegang dengan waktu yang disepakati oleh para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun menyatakan dialihkan pada hari ke-14, 21 dan seterusnya, maka penentuan tanggal semacam ini harus butuh dalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menyatakan bahwa aqiqah boleh dilakukan oleh anak itu sendiri ketika ia sudah dewasa sedang ia belum diaqiqahi, maka jika ini berdalil dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikatakan mengaqiqahi dirinya ketika dewasa, tidaklah tepat. Alasannya, karena riwayat yang menyebutkan semacam ini lemah dari setiap jalan. Imam Asy Syafi’i sendiri menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengaqiqahi dirinya sendiri (ketika dewasa) sebagaimana disebutkan dalam salah satu kitab fiqih Syafi’iyah Kifayatul Akhyar[6]. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah Disunnahkan Aqiqah pada Bayi yang Keguguran?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- pernah ditanya, “Seorang bayi yang dilahirkan dan ketika ia lahir langsung meninggal dunia, apakah diwajibkan baginya aqiqah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab, “Jika bayi dilahirkan setelah bayi dalam kandungan sempurna empat bulan, ia tetap diaqiqahi dan diberi nama. Karena bayi yang telah mencapai empat bulan dalam kandungan sudah ditiupkan ruh dan ia akan dibangkitkan pada hari kiamat.”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan yang lain, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya, “Jika seorang anak mati setelah ia lahir beberapa saat, apakah mesti diaqiqahi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, “Jika anak termasuk mati beberapa saat setelah kelahiran, ia tetap diaqiqahi pada hari ketujuh. Hal ini disebabkan anak tersebut telah ditiupkan ruh saat itu, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat. Dan di antara faedah aqiqah adalah seorang anak akan memberi syafa’at pada kedua orang tuanya. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa jika anak tersebut mati sebelum hari ketujuh, maka gugurlah aqiqah. Alasannya, karena aqiqah barulah disyariatkan pada hari ketujuh bagi anak yang masih hidup ketika itu. Jika anak tersebut sudah mati sebelum hari ketujuh, maka gugurlah aqiqah. Akan tetapi, barangsiapa yang dicukupkan rizki oleh Allah dan telah diberikan berbagai kemudahan, maka hendaklah ia menyembelih aqiqah. Jika memang tidak mampu, maka ia tidaklah dipaksa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penanya bertanya lagi, “Apakah ketika itu ia diberi nama?” Jawaban beliau, “Iya diberi nama jika ia keluar setelah ditiupkannya ruh yaitu bila genap empat bulan dalam kandungan.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dianjurkan Daging Aqiqah untuk Dimasak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi Asy Syafi’i menyatakan dalam matan Minhajuth Tholibin, “(Daging aqiqah) disunnahkan untuk dimasak (sebelum dibagikan).”[9] Dengan dimasaknya sembelihan aqiqah ini menunjukkan seseorang itu berbuat baik dengan bertambahnya nikmat dari Allah. Hal ini juga menunjukkan akhlaq mulia dan tanda kedermawanan.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Kifayatul Akhyar –Taqiyuddin Abu Bakr rahimahullah- menjelaskan, “Hendaklah hasil sembelihan hewan aqiqah tidak disedekahkan mentahan, namun dalam keadaan sudah dimasak. Inilah yang lebih tepat. Lebih baik lagi jika dihidangkan dengan bumbu manis menurut pendapat yang lebih tepat.”[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengundang Makan-Makan Aqiqah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqiyuddin Abu Bakr rahimahullah menjelaskan, “Yang lebih afdhol hasil sembelihan aqiqah tersebut yang dikirim kepada orang miskin. Inilah pendapat dari Imam Asy Syafi’i. Namun jika mesti mengundang orang untuk menikmatinya (di rumah), itu juga tidak mengapa.”[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dibolehkan jika seseorang mengundang orang lain untuk menyantap hasil sembelihan aqiqah dan dinikmati sebagaimana pada walimahan ketika nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ pernah ditanya, “Apa hukum peraayaan aqiqah dan mengadakan walimah untuk aqiqah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama tersebut menjawab, “Yang dimaksud aqiqah adalah sesuatu yang disembelih untuk si anak pada hari ketujuh setelah kelahiran. Sedangkan walimah adalah makanan yang disajikan pada suatu pesta berupa sembelihan atau yang lainnya. Aqiqah dan walimah adalah dua perkara yang disunnahkan. Berkumpul-kumpul untuk menikmati makanan semacam ini dan sama-sama bersuka cita serta mengumumkan pernikahan ketika itu adalah suatu hal yang baik.”[13]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tidak Mengapa Tulang Sembelihan Aqiqah Dipecah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama memang melarang hal ini karena jika tulang itu tidak dihancurkan, dianggap bahwa tulang-tulang si anak pun nantinya akan selamat.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ulama Syafi’iyah, Asy Syarbini rahimahullah mengatakan, “Tidak dimakruhkan jika daging sembelihan aqiqah dipecah karena tidak ada dalil yang melarang hal ini.”[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, tidak terlarang memecah tulang hasil sembelihan aqiqah karena tidak ada dalil shahih yang melarang hal ini.[16]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tidak Perlu Mengusapkan Darah Hewan Aqiqah pada Bayi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah perbuatan masa Jahiliyah yang terlarang dilakukan di saat Islam itu datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Buraidah, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُنَّا فِى الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وُلِدَ لأَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَلَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا فَلَمَّا جَاءَ اللَّهُ بِالإِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَنَحْلِقُ رَأْسَهُ وَنَلْطَخُهُ بِزَعْفَرَانٍ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu kami pada masa jahiliyah apabila salah seorang di antara kami lahir anaknya, maka ia menyembelih seekor kambing dan melumuri kepala anaknya tersebut dengan darah sembelihan. Kemudian tatkala Allah datang membawa Islam maka kami menyembelih seekor kambing dan mencukur rambutnya serta melumurinya dengan za'faran.” (HR. Abu Daud no. 2843. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, usai sudah bahasan kami tentang aqiqah. Semoga bermanfaat bagi pengunjung Rumaysho.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan di Panggang-GK, 7 Rajab 1431 H, 20/06/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Roudhotun Nadiyah Syarh Ad Duroril Bahiyah, Shidiq Hasan Khon, hal. 349, terbitan Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, 1422 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Waktu siang dihitung dari Shubuh hingga Maghrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Waktu malam dihitung dari Maghrib hingga Shubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/11011, Mawqi’ Ahlalhdeeth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/11011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Lihat Kifayatul Akhyar,hal. 705.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Liqo-at Al Bab Al Maftuh, kaset 2, no. 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Liqo-at Al Bab Al Maftuh, kaset 14, no. 42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Minhajuth Tholibin wa ‘Umdatul Muftin, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, hal. 538, Darul Minhaj, cetakan pertama, 1426 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/384.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Kifayatul Akhyar,hal. 706&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Idem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaak keempat dari Fatawa no. 6779, 11/443. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai ketua; Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai wakil ketua; Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud sebagai anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 706.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Mughnil Muhtaj, hal. 392.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/384&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3090--hadiah-di-hari-lahir-7-waktu-pelaksanaan-aqiqah.html"&gt;rumaysho.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-6640117232736532736?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3090--hadiah-di-hari-lahir-7-waktu-pelaksanaan-aqiqah.html' title='Hadiah di Hari Lahir (7), Waktu Pelaksanaan Aqiqah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/6640117232736532736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-7-waktu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/6640117232736532736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/6640117232736532736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-7-waktu.html' title='Hadiah di Hari Lahir (7), Waktu Pelaksanaan Aqiqah'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-1001510114058762234</id><published>2011-06-07T11:10:00.002+09:00</published><updated>2011-06-07T11:27:26.832+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hadiah di Hari Lahir (6), Jumlah dan Jenis Hewan Aqiqah</title><content type='html'>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, saat ini kita masih melanjutkan pembahasan hadiah di hari lahir. Kita sudah masuk pada pembahasan aqiqah. Pada kesempatan kali ini kami akan melanjutkan pada pembahasan jenis dan jumlah hewan yang diaqiqahi. Semoga bermanfaat bagi pembaca setia Rumaysho.com.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Perselisihan Ulama Mengenai Jumlah Hewan yang Diaqiqahi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang disembelih ketika aqiqah adalah satu ekor kambing atau dua ekor, di sini terdapat silang pendapat di antara para ulama. Imam Malik berpendapat bahwa laki-laki dan perempuan diaqiqahi dengan masing-masing satu kambing. Adapun Imam Asy Syafi’i, Abu Tsaur, Abu Daud, dan Imam Ahmad berpendapat bahwa laki-laki hendaknya diaqiqahi dengan dua ekor kambing, sedangkan perempuan dengan satu ekor kambing.[1]&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perselisihan di atas berasal dari perbedaan dalil dalam masalah tersebut. Ada beberapa dalil yang digunakan, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil pertama: Hadits Ummu Kurz Al Ka’biyyah radhiyallahu ‘anha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أُمِّ كُرْزٍ الْكَعْبِيَّةِ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ سَمِعْتُ أَحْمَدَ قَالَ مُكَافِئَتَانِ أَىْ مُسْتَوِيَتَانِ أَوْ مُقَارِبَتَانِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ummu Kurz Al Ka'biyyah, ia berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu wa 'alaihi wa sallam bersabda, "Untuk anak laki-laki dua kambing yang sama dan untuk anak perempuan satu kambing." Abu Daud berkata, saya mendengar Ahmad berkata, “Mukafiatani yaitu yang sama atau saling berdekatan.” (HR. Abu Daud no. 2834 dan Ibnu Majah no. 3162. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil kedua: Hadits Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka, untuk anak laki-laki aqiqah dengan dua ekor kambing dan anak perempuan dengan satu ekor kambing.” (HR. Tirmidzi no. 1513. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hadits ini dengan jelas membedakan antara aqiqah anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki dengan dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan dengan satu ekor kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil ketiga: Hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain, masing-masing satu ekor domba.” (HR. Abu Daud no. 2841. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Akan tetapi riwayat yang menyatakan dengan dua kambing, itu yang lebih shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam riwayat An Nasai lafazhnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain, masing-masing dua ekor domba.” (HR. An Nasai no. 4219. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadit ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Ibnu ‘Abbas yang dikeluarkan oleh Abu Daud, itulah yang jadi pegangan Imam Malik untuk menyatakan bahwa aqiqah anak laki-laki sama dengan anak perempuan yaitu dengan satu ekor kambing. Manakah yang tepat dalam masalah ini?&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Terkuat dalam Masalah Jumlah Hewan Aqiqah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai hadits Ibnu ‘Abbas yang dikeluarkan oleh Abu Daud di atas, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صحيح لكن في رواية النسائي : كبشين كبشين . وهو الأصح&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hadits Ibnu ‘Abbas yang dikeluarkan oleh Abu Daud itu shahih. Akan tetapi dalam riwayat An Nasai dikatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih masing-masing dua kambing. Inilah riwayat yang lebih shahih.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَهَذِهِ الْأَحَادِيث حُجَّة لِلْجُمْهُورِ فِي التَّفْرِقَة بَيْن الْغُلَام وَالْجَارِيَة ، وَعَنْ مَالِك هُمَا سَوَاء فَيَعُقّ عَنْ كُلّ وَاحِد مِنْهُمَا شَاة ، وَاحْتَجَّ لَهُ بِمَا جَاءَ " أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ الْحَسَن وَالْحُسَيْن كَبْشًا كَبْشًا " أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَلَا حُجَّة فِيهِ فَقَدْ أَخْرَجَهُ أَبُو الشَّيْخ مِنْ وَجْه آخَر عَنْ عِكْرِمَة عَنْ اِبْن عَبَّاس بِلَفْظِ " كَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ " وَأَخْرَجَ أَيْضًا مِنْ طَرِيق عَمْرو بْن شُعَيْب عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدّه مِثْله ، وَعَلَى تَقْدِير ثُبُوت رِوَايَة أَبِي دَاوُدَ فَلَيْسَ فِي الْحَدِيث مَا يُرَدّ بِهِ الْأَحَادِيث الْمُتَوَارِدَة فِي التَّنْصِيص عَلَى التَّثْنِيَة لِلْغُلَامِ ، بَلْ غَايَته أَنْ يَدُلّ عَلَى جَوَاز الِاقْتِصَار ، وَهُوَ كَذَلِكَ ، فَإِنَّ الْعَدَد لَيْسَ شَرْطًا بَلْ مُسْتَحَبّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hadits-hadits ini (semacam hadits Ummu Kurz, -pen) menjadi argumen yang kuat bagi jumhur (mayoritas) ulama dalam membedakan aqiqah untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Namun Imam Malik berpendapat bahwa aqiqah pada keduanya itu sama. Imam Malik beralasan dengan hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain masing-masing dengan satu ekor kambing. Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud, namun tidak bisa dijadikan argumen. Ada pula riwayat yang dikeluarkan oleh Abusy Syaikh dari jalur lain dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas dengan lafazh “masing-masing dua ekor kambing”. Dikeluarkan pula dari jalan ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya riwayat yang semisalnya.  Berdasarkan riwayat Abu Daud tadi, hadits tersebut bukanlah menafikan hadits-hadits mutawatir yang menjelaskan dengan tegas bahwa aqiqah bagi anak laki-laki adalah dengan dua ekor kambing. Akan tetapi riwayat tersebut menunjukkan bolehnya aqiqah kurang dari dua ekor kambing. Itulah maksudnya. Sehingga dari sini, jumlah kambing (yaitu dua ekor kambing bagi laki-laki, pen) bukanlah syarat dalam aqiqah, namun hanya sekedar disunnahkan (dianjurkan) saja.”[3] Hal yang sama dikatakan pula oleh Ash Shon’ani dalam Subulus Salam[4].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ الْغُلَامِ ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ .هَذَا قَوْلُ أَكْثَرِ الْقَائِلِينَ بِهَا وَبِهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ ، وَعَائِشَةُ ، وَالشَّافِعِيُّ ، وَإِسْحَاقُ ، وَأَبُو ثَوْرٍ .وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُول : شَاةٌ شَاةٌ عَنْ الْغُلَامِ وَالْجَارِيَةِ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aqiqah untuk anak laki-laki dan anak perempuan boleh sama, yaitu dengan satu ekor kambing. Inilah pendapat kebanyakan ulama. Inilah yang dipilih oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Aisyah, Asy Syafi’i, Ishaq dan Abu Tsaur. Bahkan Ibnu ‘Umar sendiri pernah berkata, “Aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan masing-masing dengan seekor kambing.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فإن لم يجد الإنسان ، إلا شاة واحدة أجزأت وحصل بها المقصود ، لكن إذا كان الله قد أغناه ، فالاثنتان أفضل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika seseorang  tidak mendapati hewan aqiqah kecuali satu saja, maka maksud aqiqah tetap sudah terwujud. Akan tetapi, jika Allah memberinya kecukupan harta, aqiqah dengan dua kambing (untuk anak laki-laki) itu lebih afdhol.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama yang duduk di komisi fatwa Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ menerangkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Disunnahkan aqiqah bagi anak laki-laki adalah dua ekor kambing yang semisal, sedangkan bagi anak perempuan adalah satu ekor kambing. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Anak laki-laki diaqiqahi dengan dua ekor kambing yang semisal, sedangkan anak perempuan dengan satu ekor kambing” (HR. At Tirmidzi 794, Ahmad 5/40. At Tirmidzi menshahihkannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain masing-masing satu ekor kambing” (HR. Tirmidzi 794, Ahmad 5/39). Namun dalam riwayat Abu Daud dan An Nasai dikatakan bahwa aqiqah yang dilakukan pada Al Hasan dan Al Husain masing-masing dengan dua ekor kambing. Inilah yang lebih afdhol. Adapun jika dikatakan sah dengan satu ekor kambing, jawabannya tetap sah sebagaimana berlaku pada daging sembelihan lainnya.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pendapat yang menyatakan bahwa anak perempuan tidak perlu diaqiqahi sebagaimana yang dipegang oleh Al Hasan Al Bashri dan Qotadah[8] adalah pendapat yang lemah karena bertentangan dengan dalil yang mensyariatkan aqiqah bagi anak perempuan dengan seekor kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan, aqiqah pada anak laki-laki dianjurkan dengan dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan dengan satu ekor kambing. Namun jika tidak mampu, boleh pula bagi anak laki-laki dengan satu ekor kambing dan itu dianggap sah. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Apakah Aqiqah Boleh dengan Selain Kambing?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memperhatikan dalil-dalil yang membicarakan aqiqah, maka kita dapati bahwa aqiqah dikhususkan dengan kambing atau domba, tidak dengan hewan lainnya. Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Ummu Kurz,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk anak laki-laki dua kambing yang sama dan untuk anak perempuan satu kambing." Dan juga dapat kita lihat dalam hadits Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hadits muthlaq semacam dari Salman bin ‘Amir yang dikeluarkan dalam Shahih Bukhari,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَتُهُ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الأَذَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“"Pada (setiap) anak laki-laki (yang lahir) harus diaqiqahi, maka sembelihlah (aqiqah) untuknya dan hilangkan gangguan darinya", hadits muthlaq ini dibawa kepada hadits muqoyyad, yaitu semacam pada hadits Ummu Kurz. Sehingga dari sini, tidak boleh aqiqah kecuali dengan kambing saja. Tidak boleh dengan sapi, unta, atau bahkan ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pendapat terkuat dalam masalah ini[9], berbeda dengan madzhab Hanafi, Hambali dan Syafi’iyah yang membolehkan dengan selain kambing, yaitu masih dibolehkan dengan al an’am (sapi dan unta)[10]. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Hewan Aqiqah Terlepas dari ‘Aib&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hewan yang diaqiqahi tidak sah jika memiliki ‘aib, hewan tersebut harus terlepas dari ‘aib. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (٢٦٧)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Baqarah: 267)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali dari yang thoyyib” (HR. Muslim no. 1015). Thoyyib di sini bermakna selamat dari kejelekan (cacat)[11].&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan Pemilihan Hewan Aqiqah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hewan aqiqah boleh jantan atau betina, namun yang lebih afdhol adalah jantan.&lt;br /&gt;Syarat hewan aqiqah sama dengan hewan udhiyah (hewan qurban).&lt;br /&gt;Lebih bagus memilih hewan aqiqah yang berwarna putih sebagaimana ketentuan dalam hewan qurban.&lt;br /&gt;Dianjurkan memilih yang gemuk, yang besar, dan yang paling bagus.&lt;br /&gt;Jika yang disembelih adalah dua ekor kambing untuk anak laki-laki, maka hendaklah dua kambing tersebut semisal (di antaranya dalam umur, -pen[12]).[13]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah Aqiqah Diganti dengan Hanya Membeli Daging Saja?&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak dibenarkan. Yang benar haruslah hewan aqiqah itu disembelih, tidak hanya dengan sekedar membeli daging kambing di pasar lalu dibagikan pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ Kerajaan Saudi Arabia pernah ditanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bolehkah penyembelihan kambing aqiqah diganti dengan membeli beberapa kilo daging ataukah aqiqah harus dengan jalan menyembelih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban: Tidak boleh. Aqiqah harus dengan jalan menyembelih seekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sajian kami mengenai aqiqah pada kesempatan kali ini. Tulisan ini masih kami lanjutkan pada tulisan terakhir yang berkaitan dengan pelaksanaan aqiqah. Semoga Allah mudahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan di Panggang-GK, 7 Rajab 1431 H, 19/06/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd Al Maliki, hal. 421, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan ketiga, 1428 H dan At Tamhid, Ibnu ‘Abdil Barr, 4/314, Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Lihat Takhrij Syaikh Al Albani terhadap Sunan Abi Daud. Lihat Shahih Abi Daud no. 2458.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Fathul Bari, 9/592&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Subulus Salam, 4/335-336&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, 11/120, Darul Fikr, 1405&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Syarhul Mumthi’, 7/492.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan ketiga no. 2191, 11/438. Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selakuk anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Lihat Al Mughni, 11/120.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/383.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/11012, Mawqi’ ahlalhdeeth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Lihat Al Minhaj Syarh Muslim bin Al Hajaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 7/100, Dar Ihya’ At Turots, 1392.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Lihat ‘Aunul Ma’bud, Al ‘Azhim Abadi, 8/25, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan kedua, 1415.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Lihat ketentuan ini di Al Mughni, 11/120.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan kesepuluh no. 8052, 11/440. Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selakuk anggota.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;sumber: &lt;a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3088-hadiah-di-hari-lahir-6-jumlah-dan-jenis-hewan-aqiqah.html"&gt;rumaysho.com &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-1001510114058762234?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3088-hadiah-di-hari-lahir-6-jumlah-dan-jenis-hewan-aqiqah.html' title='Hadiah di Hari Lahir (6), Jumlah dan Jenis Hewan Aqiqah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/1001510114058762234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-6-jumlah-dan-jenis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/1001510114058762234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/1001510114058762234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-6-jumlah-dan-jenis.html' title='Hadiah di Hari Lahir (6), Jumlah dan Jenis Hewan Aqiqah'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-6042496902606006675</id><published>2011-06-07T11:01:00.001+09:00</published><updated>2011-06-07T11:10:08.305+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hadiah di Hari Lahir (5), Sunnah Aqiqah Bagi Si Buah Hati</title><content type='html'>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala karunia dan nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta setiap orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan kali ini adalah kelanjutan artikel hadiah di hari lahir. Saat ini kita akan masuk pada pembahasan aqiqah. Untuk serial aqiqah pertama ini, kami angkat pembahasan seputar hukum aqiqah dan siapa yang dituntut melaksanakan aqiqah. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Aqiqah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pengertian aqiqah disebutkan dalam kitab-kitab para ulama –semisal dalam kitab fiqh Syafi’iyah-, yaitu aqiqah berasal dari kata (عَقَّ يَعِقُّ). Secara bahasa, aqiqah adalah sebutan untuk rambut yang berada di kepala si bayi ketika ia lahir. Sedangkan secara istilah, aqiqah berarti sesuatu yang disembelih ketika menggundul kepala si bayi. Aqiqah dinamakan dengan sebabnya karena menyembelihnya berarti  (يُعَقُّ), yaitu memotong, sedangkan rambut kepala si bayi dicukur pula ketika itu.[1]&lt;span class="fullpost"&gt; Pensyariatan Aqiqah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqiqah adalah sesuatu amalan yang disyari’atkan oleh kebanyakan ulama semacam Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah, para fuqoha tabi’in, dan para ulama di berbagai negeri. Dalil pensyariatan aqiqah adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Hadits Salman bin ‘Amir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِّىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَتُهُ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الأَذَى »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Salman bin 'Amir Adh Dhabbi, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pada (setiap) anak laki-laki (yang lahir) harus diaqiqahi, maka sembelihlah (aqiqah) untuknya dan hilangkan gangguan darinya." (HR. Bukhari no. 5472)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Hadits Samuroh bin Jundub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama." (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Hadits –Ummul Mukminin- ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ أَنَّهُمْ دَخَلُوا عَلَى حَفْصَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَسَأَلُوهَا عَنِ الْعَقِيقَةِ فَأَخْبَرَتْهُمْ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ. قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنْ عَلِىٍّ وَأُمِّ كُرْزٍ وَبُرَيْدَةَ وَسَمُرَةَ وَأَبِى هُرَيْرَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَأَنَسٍ وَسَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَائِشَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَحَفْصَةُ هِىَ بِنْتُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيقِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Yusuf bin Mahak, mereka pernah masuk menemui Hafshah binti 'Abdirrahman. Mereka bertanya kepadanya tentang hukum aqiqah. Hafshah mengabarkan bahwa 'Aisyah pernah memberitahu dia, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk menyembelih dua ekor kambing yang hampir sama (umurnya[2]) untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkata, "Dalam bab ini ada hadits serupa dari Ali dan ummu Kurz, Buraidah, Samurah, Abu Hurairah, Abdullah bin Amru, Anas, Salman bin Amir dan Ibnu Abbas." Abu Isa berkata, "Hadits 'Aisyah ini derajatnya hasan shahih, sementara maksud Hafshah dalam hadits tersebut adalah (Hafshah) binti 'Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq." (HR. Tirmidzi no. 1513. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Hadits Ibnu ‘Abbas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain, masing-masing satu ekor gibas (domba jantan).” (HR. Abu Daud no. 2841. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih[3])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hukum Aqiqah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita melihat hadits-hadits tentang pensyariatan aqiqah di atas, lantas apakah hukum aqiqah itu sendiri? Wajib ataukah sunnah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai masalah ini, para ulama terdapat silang pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَتُهُ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Salman bin 'Amir Adh Dhabbi, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pada (setiap) anak laki-laki (yang lahir) harus diaqiqahi, maka sembelihlah (aqiqah) untuknya" (HR. Bukhari no. 5472), juga berdasarkan hadits lainnya, sebagian ulama menyatakan bahwa hukum aqiqah itu wajib semacam ulama Zhohiriyah (Daud, Ibnu Hazm, dkk), dan Al Hasan Al Bashri. Sedangkan jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah sunnah. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum aqiqah itu tidak wajib dan juga tidak sunnah. –Demikian dikatakan oleh Asy Syaukani dalam Nailul Author-[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits dari jumhur ulama yang menyatakan hukum aqiqah adalah sunnah berpegang pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang senang untuk mengaqiqahi anaknya, maka lakukanlah.”[5] Hadits ini menunjukkan bahwa aqiqah itu tidak wajib karena di sini dikatakan boleh memilih. Dalil ini adalah indikasi yang memalingkan perintah yang disebutkan dalam hadits-hadits yang memerintahkan aqiqah kepada perintah sunnah.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikutnya yang menyatakan bahwa hukum aqiqah tidak wajib dan tidak pula sunnah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Mundzir –sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Al Fath- mengatakan, “Ulama Hanafiyah (ashabur ro’yi) yang mengingkari sunnahnya aqiqah telah menyelisihi hadits-hadits shahih mengenai hal ini. Sebagian mereka berdalil dengan hadits riwayat Imam Malik dalam Al Muwatho’ dari Zaid bin Aslam dari seorang Bani Dhomroh dari ayahnya, ia menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai aqiqah. Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا أُحِبّ الْعُقُوق&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak menyukai aqiqah”, seakan-akan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai penamaan aqiqah. Lalu beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَد فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسَك عَنْهُ فَلْيَفْعَلْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa saja yang dilahirkan anak untuknya, maka ia suka dinusuk (diaqiqahi), maka lakukanlah.”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Sa’id bin Manshur, dari Sufyan, dari Zaid bin Aslam dari seorang Bani Dhomroh dari pamannya, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai aqiqah sedangkan beliau di mimbar di Arofah, lalu beliau menyebutkan semacam tadi.” Hadits ini pun memiliki penguat dari hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, dikeluarkan oleh Abu Daud. Dua hadits ini dikuatkan satu dan lainnya. Abu ‘Umr mengatakan, “Aku tidak mengetahui hadits tersebut marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) kecuali dari dua riwayat ini.” Al Bazzar dan Abusy Syaikh juga telah mengeluarkan hadits tentang aqiqah dari Abu Sa’id, namun hadits tersebut bukanlah jadi hujjah bagi yang menyatakan tidak disyari’atkannya aqiqah. Bahkan akhir hadits jelas-jelas menetapkan disyariatkannya aqiqah. Sedangkan yang dimaksud dalam hadits adalah lebih utama menyebut aqiqah dnegan nasikah atau dzabihah, dan dilarang menyebutnya dengan aqiqah. Telah dinukil dari Ibnu Abid Dam dari beberapa sahabat mengenai penamaan semacam ini sebagaimana tidak disukai pula menyebut Isya dengan ‘atamah.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan: Aqiqah adalah suatu yang disyariatkan tidak sebagaimana pendapat ulama Hanafiyah. Hukumnya berkisar antara wajib dan sunnah. Sedangkan kami sendiri lebih cenderung pada pendapat jumhur (mayoritas) ulama yang menyatakan hukum aqiqah adalah sunnah. Namun sudah sepantasnya bagi orang yang mampu yang diberi kelebih rizki oleh Allah Ta’ala tidak meninggalkan syari’at yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Sabiq -rahimahullah- memiliki perkataan yang amat baik. Beliau berkata, “Hukum aqiqah adalah sunnah muakkad (sunnah yang amat dianjurkan), walaupun si ayah (yang membiayai aqiqah) adalah orang yang dalam keadaan sulit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap melakukan aqiqah , begitu pula sahabatnya. Telah diriwayatkan oleh penyusun kitab sunan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain masing-masing dengan satu ekor kambing. Sedangkan ulama yang mewajibkan aqiqah adalah Al Laits dan Daud Azh Zhohiri.”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Sabiq menyatakan bahwa jika si ayah dalam keadaan sulit sekalipun hendaklah melakukan aqiqah. Apa yang beliau utarakan senada dengan perkataan Imam Ahmad -rahimahullah-. Imam Ahmad pernah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ مَا يَعُقُّ ، فَاسْتَقْرَضَ ، رَجَوْت أَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، إحْيَاءَ سُنَّةٍ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika seseorang tidak memiliki kemampuan untuk mengaqiqahi (buah hatinya), maka hendaklah ia mencari utangan. Aku berharap ia mendapatkan ganti di sisi Allah karena ia berarti telah menghidupkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manfaat Aqiqah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits disebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berselisih pendapat mengenai maksud hadits di atas. Imam Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa jika seorang anak tidak diaqiqahi, dia tidak akan memberikan syafa’at kepada kedua orang tuanya.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin juga pernah menjelaskan maksud hadits di atas. Beliau –rahimahullah- mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagian ulama mengartikan “setiap anak digadaikan dengan aqiqahnya” bahwasanya aqiqah adalah sebab anak tersebut terlepas dari kegelisahan dalam maslahat agama dan dunianya. Hatinya akan begitu lapang setelah diaqiqahi. Jika seorang anak tidak diaqiqahi maka keadaannya akan selalu gelisah layaknya orang yang berutang dan menggadaikan barangnya. Inilah pendapat yang lebih tepat tentang maksud hadits tersebut. Jadi, aqiqah adalah sebab seorang anak akan mendapatkan kemaslahatan, hatinya pun tidak begitu gelisah dan semakin mudah dalam aktivitasnya.”[12]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang Dituntut Melaksanakan Aqiqah?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqiqah dituntut pada ayah selaku penanggung nafkah. Aqiqah ini diambil dari harta ayah dan bukan harta anak. Selain ayah boleh menanggung biaya aqiqah, namun dengan seizin ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana disebutkan dalam Subulus Salam, Ash Shon’ani -rahimahullah- mengatakan, “Menurut Imam Asy Syafi’i, aqiqah itu dituntut dari setiap orang yang menanggung nafkah si bayi. Sedangkan menurut ulama Hambali, aqiqah itu dituntut khusus dari ayah, kecuali jika ayahnya tersebut mati atau terhalang tidak bisa memenuhi aqiqah.”[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah ini berarti ada perselisihan pendapat, siapakah yang dituntut melaksanakan aqiqah. Namun tentu saja yang utama adalah ayah yang menanggung biaya ini, apalagi ayahlah yang sudah jelas penanggung nafkah keluarga. Sehingga kurang tepat jika aqiqah dibebankan pada anak atau ibu yang sama sekali bukan orang yang bertanggung jawab mencari nafkah keluarga. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimanakah dengan aqiqah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap cucunya –Al Hasan dan Al Husain-?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijawab oleh salah seorang ulama Syafi’iyah, Asy Syarbini -rahimahullah-, “Aku jawab bahwa yang dimaksud dengan aqiqah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada keduany adalah perintah beliau kepada kedua orang tuanya, atau boleh jadi pula beliau yang memberikan hewan yang akan dijadikan aqiqah, atau barangkali lagi Al Hasan dan Al Husain menjadi tanggungan nafkah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kedua orang tua mereka adalah orang yang kurang mampu. Namun jika aqiqah itu diambil dari harta anak, maka itu tidak dibolehkan bagi wali (orang tua) untuk melakukannya. Karena aqiqah itu termasuk pemberian cuma-cuma (tabarru’) dari orang tua sehingga tidak boleh hewan aqiqah diambil dari harta anak. ”[14]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Jika Tidak Mampu Aqiqah? Apakah Harus Mengaqiqahi Diri Sendiri Ketika Dewasa?&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aqiqah tentu saja melihat pada kemampuan orang yang  bertanggung jawab untuk aqiqah. Karena Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian” (QS. At Taghobun: 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy Syarbini –rahimahullah- menjelaskan, “Jika orang tua tidak mampu melakukan aqiqah pada saat kelahiran, namun setelah itu ia mendapati kemudahan pelaksanaan aqiqah sebelum hari ketujuh kelahiran, maka ketika itu ia disunnahkan melaksanakan aqiqah. Jika orang tua mendapati kemudahan pelaksanaan aqiqah setelah hari ketujuh dan masih tersisa sedikit waktu istri mengalami nifas, maka sebagian ulama belakangan tidak memerintahkan untuk dilaksanakan aqiqah. Akan tetapi ulama Syafi’iyah menganjurkan dilaksanakannya aqiqah jika masih dalam masa nifas, inilah pendapat yang dikuatkan oleh Al Anwar.”[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana jika bayi sebenarnya mampu diaqiqahi ketika lahir, namun sampai dewasa, ia belum juga diaqiqahi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ulama Syafi’iyah, orang tua yang mampu mengaqiqahi, ia tetap dianjurkan mengaqiqahi anaknya meskipun anaknya sudah dewasa. Jika sampai dewasa, anak tersebut belum juga diaqiqahi, maka ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri. Sedangkan sebagian orang yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengaqiqahi dirinya sendiri setelah diangkat sebagai Nabi, dalam Al Majmu’ disebut sebagai pendapat yang batil.[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pula dikatakan dalam salah satu kitab ulama Syafi’iyah, Kifayatul Akhyar, “Riwayat yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi dirinya sendiri setelah diangkat menjadi Nabi adalah riwayat yang dho’if (lemah) dari setiap jalannya.”[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang bagus tentang masalah ini diterangkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin. Ada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan kepada beliau –rahimahullah-, “Apabila seseorang tidak diaqiqahi ketika kecil, apakah ia tetap dianjurkan untuk diaqiqahi ketika dewasa? Apa saja batasan masih dibolehkannya aqiqah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau -rahimahullah- memberikan jawaban –di antaranya-,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila orang tuanya dahulu adalah orang yang tidak mampu pada saat waktu dianjurkannya aqiqah, maka ia tidak punya kewajiban apa-apa walaupun mungkin setelah itu orang tuanya menjadi kaya. Sebagaimana apabila seseorang miskin ketika waktu pensyariatan zakat, maka ia tidak diwajibkan mengeluarkan zakat, meskipun setelah itu kondisinya serba cukup. Jadi apabila keadaan orang tuanya tidak mampu ketika pensyariatan aqiqah, maka aqiqah menjadi gugur karena ia tidak memiliki kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan jika orang tuanya mampu melaksanakan aqiqah ketika ia lahir, namun ia menunda aqiqah hingga anaknya dewasa, maka pada saat itu anaknya tetap diaqiqahi walaupun sudah dewasa.”[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, untuk masalah ini kembali ke kemampuan sang ayah ketika bayi itu lahir. Jika ayahnya di hari kelahiran termasuk orang yang tidak mampu untuk melaksanakan aqiqah, maka aqiqahnya jadi gugur termasuk pula ketika ia dewasa. Sedangkan jika sang ayah adalah orang yang mampu ketika itu, maka sampai dewasa pun si anak dituntut untuk diaqiqahi. Adapun jika si anak mengaqiqahi dirinya ketika dewasa, maka ini pendapat yang perlu dikritisi. Karena Imam Asy Syafi’i sendiri menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengaqiqahi dirinya sendiri (ketika dewasa) sebagaimana disebutkan dalam salah satu kitab fiqih Syafi’iyah Kifayatul Akhyar[19].Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan aqiqah tidak hanya sampai di sini, kita masih melanjutkan beberapa hal lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan aqiqah. Semoga Allah mudahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi wa taimmush sholihaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggang-GK, 25 Jumadits Tsani 1431 H, 07/06/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhi Al Minhaj (Kitab Syarh Minhaj Ath Tholibin), Muhammad  bin Al Khotib Asy Syarbini, 4/390, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, 1418 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Sebagaimana keterangan dari Sayyid Sabiq dalam catatan kaki kitab Fiqh Sunnah, 3/327, Darul Kutub Al ‘Arobi, Beirut-Lebanon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Namun pembahasan mengenai hadits ini -insya Allah- akan disinggung selanjutnya pada pembahasan “hewan yang diaqiqahi” dalam tulisan serial kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Nailul Author, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 8/154, Mawqi’ Al Waroq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Ahmad 2/182. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Nailul Author, 8/154.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] HR. Ahmad 5/430 dan Abu Daud 2842. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 9/588, Darul Ma’rifah, 1379.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, 3/326, Darul Kutub Al ‘Arobi, Beirut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, 11/120, Darul Fikr, cetakan pertama, 1405&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Subulus Salam Syarh Bulughil Marom, Muhammad bin Isma’il Ash Shon’ani, Ta’liq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, 4/337, Maktabah Al Ma’arif, cetakan pertama, tahun 1427 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Liqo-at Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin, kaset 95, no. 19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Idem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Mughnil Muhtaj, 4/391.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Idem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Lihat Mughnil Muhtaj, 4/391.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Kifayatul Akhyar fii Halli Ghoyatil Ikhtishor, Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad bin Al Husaini Al Hushni Ad Dimasyqi Asy Syafi’i, hal. 705, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1422 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] Liqo-at Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin, kaset 234, no. 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19] Lihat Kifayatul Akhyar,hal. 705. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3077-hadiah-di-hari-lahir-5-sunnah-aqiqah-bagi-si-buah-hati.html"&gt;rumaysho.com &lt;/a&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-6042496902606006675?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3077-hadiah-di-hari-lahir-5-sunnah-aqiqah-bagi-si-buah-hati.html' title='Hadiah di Hari Lahir (5), Sunnah Aqiqah Bagi Si Buah Hati'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/6042496902606006675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-5-sunnah-aqiqah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/6042496902606006675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/6042496902606006675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-5-sunnah-aqiqah.html' title='Hadiah di Hari Lahir (5), Sunnah Aqiqah Bagi Si Buah Hati'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-462902014443601171</id><published>2011-06-07T10:52:00.000+09:00</published><updated>2011-06-07T10:52:02.505+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hadiah di Hari Lahir (4), Menggundul Rambut Kepala Bayi pada Hari Ketujuh</title><content type='html'>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi berbagai karunia dan nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta setiap orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya di hari kelahiran yang bisa dipraktekkan yaitu menggundul kepala si buah hati. Anjuran ini dilaksanakan nantinya di hari ketujuh. Hikmahnya di antaranya adalah agar rambut kepala bayi tersebut di kemudian hari tidak mudah rontok, rusak, botak atau kerusakan lainnya pada rambut kepala. Semoga tulisan berikut ini bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pensyariatan Menggundul Rambut Kepala&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, digundul rambutnya dan diberi nama." (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;span class="fullpost"&gt; Dari ‘Ali bin Abu Thalib ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْحَسَنِ بِشَاةٍ وَقَالَ « يَا فَاطِمَةُ احْلِقِى رَأْسَهُ وَتَصَدَّقِى بِزِنَةِ شَعْرِهِ فِضَّةً ». قَالَ فَوَزَنَتْهُ فَكَانَ وَزْنُهُ دِرْهَمًا أَوْ بَعْضَ دِرْهَمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengakikahi Hasan dengan seekor kambing." Kemudian beliau bersabda, "Wahai Fatimah, gundullah rambutnya lalu sedekahkanlah perak seberat rambutnya." Ali berkata, "Aku kemudian menimbang rambutnya, dan beratnya sekadar uang satu dirham atau sebagiannya." (HR. Tirmidzi no. 1519. Abu Isa berkata; "Hadits ini derajatnya hasan gharib dan sanadnya tidak bersambung. Dan Abu Ja'far Muhammad bin Ali bin Al Husain belum pernah bertemu dengan Ali bin Abu Thalib." Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini telah di-washol-kan/disambungkan oleh Al Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Al Irwa’ 1175)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Salman bin ‘Ami Adh-Dhobbi, dia berkata bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَةٌ ، فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الأَذَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada anak lelaki ada perintah 'aqiqah, maka potongkanlah hewan sebagai akikah dan buanglah keburukan darinya.” (HR. Bukhari no. 5472). Al Hasan Al Bashri mengatakan bahwa “imathotul adza” (membuang keburukan) dalam hadits ini adalah mencukur rambut bayi. (HR. Abu Daud no. 2840. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih, namun hanya maqthu’, yaitu perkataan tabi’in).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat terakhir ini menunjukkan bahwa mencukur rambut bayi akan membuat bayi tersebut terbebas dari kotoran. Berarti bayi yang tidak dicukur rambutnya adalah kebalikan dari hal tersebut. Renungkanlah!&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Aturan dalam Mencukur Rambut Kepala&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Menggundul rambut kepala disunnahkan dilakukan pada hari ketujuh sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits di atas. Ini berlaku untuk bayi laki-laki dan perempuan karena syariat untuk laki-laki berlaku juga untuk perempuan kecuali jika ada dalil pembeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Tidak boleh mencukur sebagian kepala saja dan meninggalkan sebagian lainnya, disebut qoza’. Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - نَهَى عَنِ الْقَزَعِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang qoza’.” (HR. Bukhari no. 5921 dan Muslim no. 2120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Ibnu ‘Umar mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْقَزَعِ. قَالَ قُلْتُ لِنَافِعٍ وَمَا الْقَزَعُ قَالَ يُحْلَقُ بَعْضُ رَأْسِ الصَّبِىِّ وَيُتْرَكُ بَعْضٌ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang qoza’.” Aku (Umar bin Nafi’) berkata pada Nafi’, “Apa itu qoza’?” Nafi’ menjawab, “Qoza’ adalah menggundul sebagian kepala anak kecil dan meninggalkan sebagian lainnya.” (HR. Muslim no. 2120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi qoza’ sebagaimana yang diterangkan oleh Nafi’ di atas, yaitu menggundul sebagian kepala saja dan meninggalkan yang lainnya secara mutlak. Inilah yang dipilih oleh An Nawawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para ulama berijma’ (sepakat) bahwa qoza’ itu dimakruhkan jika rambut yang digundul tempatnya berbeda-beda (misalnya: depan dan belakang gundul, bagian samping tidak gundul, pen) kecuali jika dalam kondisi penyembuhan penyakit dan semacamnya. Yang dimaksud makruh di sini adalah makruh tanzih (artinya: sebaiknya ditinggalkan). ... Madzhab Syafi’iyah melarang qoza’ secara mutlak termasuk laki-laki dan perempuan.”[1]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Bersedekah Seberat Timbangan Rambut dengan Perak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ‘Ali bin Abi Tholib di atas terdapat pelajaran untuk bersedekah dari rambut bayi yang telah dicukur (digundul). Caranya adalah rambut bayi tersebut ditimbang, setelah itu sedekah dengan perak sesuai dengan hasil timbangan tadi, atau boleh pula sedekah dengan uang seharga perak. Misalnya berat rambut yang telah digundul adalah 1 gram, berarti sedekahnya adalah dengan 1 gram perak. Atau boleh pula dengan uang seharga 1 gram perak tadi. Misalnya harga 1 gram perak ketika itu adalah Rp. 5.650[2], berarti sedekahnya adalah dengan Rp. 5.650,-. Sedekah ini diserahkan kepada fakir miskin yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembahasan kami tentang bekal bagi si buah hati serial keempat. Masih ada pembahasan lainnya yang cukup penting yang belum dibahas yaitu tentang aqiqah. Semoga Allah mudahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggang-GK, 28 Jumadil Awwal 1431 H (12/05/2010)&lt;br /&gt;Artikel www.rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber:&lt;a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3040-hadiah-di-hari-lahir-4-menggundul-rambut-kepala-bayi-pada-hari-ketujuh.html"&gt;rumaysho.com &lt;/a&gt;     &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-462902014443601171?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3040-hadiah-di-hari-lahir-4-menggundul-rambut-kepala-bayi-pada-hari-ketujuh.html' title='Hadiah di Hari Lahir (4), Menggundul Rambut Kepala Bayi pada Hari Ketujuh'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/462902014443601171/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-4-menggundul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/462902014443601171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/462902014443601171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-4-menggundul.html' title='Hadiah di Hari Lahir (4), Menggundul Rambut Kepala Bayi pada Hari Ketujuh'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-2643717028601490521</id><published>2011-06-07T10:42:00.003+09:00</published><updated>2011-06-07T11:28:28.413+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hadiah di Hari Lahir (3), Nama-Nama Yang Terlarang Untuk Si Buah Hati</title><content type='html'>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi berbagai karunia dan nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta setiap orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pada pertemuan sebelumnya kami mengangkat pembahasan “Nama Terbaik untuk Si Buah Hati”, saat ini kita akan membahas beberapa nama yang terlarang yang harusnya dihindari atau jika sudah terlanjur seharusnya diganti dengan nama yang lebih baik. Simak pembahasan berikut ini, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nama-nama yang Diharamkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Pertama&lt;/b&gt;: Setiap nama yang terdapat bentuk penghambaan kepada selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu menggunakan kata ‘Abdul tetapi disandarkan bukan pada nama Allah, namun pada selain Allah. Ini adalah nama yang diharamkan. Seperti: ‘Abdur Rasul (hamba Rasul), ‘Abdu ‘Ali (hamba ‘Ali), ‘Abdul Hasan (hamba Hasan), ‘Abdul Husain (hamba Husain), ‘Abdul Harits (hamba Harits), ‘Abdul ‘Uzza (hamba ‘Uzza), ‘Abdul Masih (hambanya Isa Al Masih), ‘Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah).[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada nama-nama penghambaan (memakai Abdul) yang dinilai keliru karena disandarkan bukan pada nama Allah seperti ‘Abdul Maqshud, ‘Abdus Sataar, ‘Abdul Mawjud, ‘Abdul Mursil, ‘Abdul Ma’bud, ‘Abdul Wahid, ‘Abduth Tholib. Nama-nama ini adalah nama-nama yang keliru ditinjau dari dua sisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama yang disandarkan tersebut bukanlah nama Allah karena nama Allah itu tauqifiyah (butuh dalil).&lt;br /&gt;Ini adalah penghambaan kepada sesuatu yang Allah tidak menamakan diri-Nya dengan nama tersebut, begitu pula dengan Rasul-Nya.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b style="color: red;"&gt;Kedua&lt;/b&gt;: Nama yang khusus untuk nama Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama ini hanya khusus untuk Allah Ta’ala, tidak boleh digunakan oleh makhluk. Seperti: Al Kholiq (Sang Pencipta), Ar Rahman (Maha Penyayang), Al Ahad (Maha Esa), Ash Shomad (Bersandarnya seluruh makhluk pada-Nya), Ar Roziq (Maha Pemberi Rizki).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Ketiga&lt;/b&gt;: Nama dari barat yang merupakan nama khusus untuk orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh nama tersebut: Imanuel, George, Robert, Susan, Alberto, Diana, Susan. Nama-nama seperti ini haram digunakan dan sudah seharusnya untuk diganti dengan nama yang Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mau membedakan muslim dan kafir, jika seorang anak diberi nama dengan nama yang jelas-jelas itu nama orang kafir?&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;Keempat&lt;/b&gt;: Nama yang merupakan nama berhala yang disembah selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti: Laata, ‘Uzza, Isaf, Nailah, Hubal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Kelima&lt;/b&gt;: Nama yang bukan menunjukkan yang dinamai, mengandung penyucian diri bahkan kedustaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah terdapat dalam hadits yang shahih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَخْنَعَ اسْمٍ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya nama yang paling jelek di sisi Allah Ta'ala ialah nama "Malikul Amlak" (Maha Raja Diraja)”. (HR. Bukhari no. 6206 dan Muslim no. 2143)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama yang diqiyaskan (dianalogikan) dengan  Malikul Amlak adalah Sulthon As Salaathin (Sultan dari segala sultan), Hakimul Haakim (Hakim dari para hakim), Qodhi Al Qudhot (Qodhi dari para Qodhi). Nama-nama ini adalah nama yang haram karena mengandung penyucian diri dan kedustaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang semisal itu dan diharamkan adalah sayyidunnaas (penghulu para manusia), sayyidul kulli (penghulu seluruh manusia). Sedangkan “Sayyid Waladi Adam” diharamkan untuk digunakan kecuali pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Muhammad bin 'Amru bin 'Atha dia berkata, "Aku menamai anak perempuanku 'Barrah' (yang artinya: baik). Maka Zainab binti Abu Salamah berkata kepadaku, 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang memberi nama anak dengan nama ini. Dahulu namaku pun Barrah, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kamu menganggap dirimu telah suci, Allah Ta'ala-lah yang lebih tahu siapa saja sesungguhnya orang yang baik atau suci di antara kamu.” Para sahabat bertanya, “Lalu nama apakah yang harus kami berikan kepadanya? “ Beliau menjawab, “Namai dia Zainab.” (HR. Muslim no. 2142)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; Keenam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;: Nama yang merupakan nama-nama setan . Seperti: Khinzab, A’war, Walhan, Ajda’.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-Nama yang Dimakruhkan (Tidak Disukai)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Pertama&lt;/b&gt;: Memberi nama dengan nama-nama yang arti dan lafazhnya tidak disukai oleh jiwa, lebih-lebih menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperbagus nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh dari nama semacam ini adalah Huyam dan Suham (jenis penyakit pada unta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath Thobari rahimahullah mengatakan, “Tidak sepantasnya seseorang memakai nama dengan nama yang jelek maknanya atau menggunakan nama yang mengandung tazkiyah (menetapkan kesucian dirinya), dan tidak boleh pula dengan nama yang mengandung celaan. Seharusnya nama yang tepat adalah nama yang menunjukkan tanda bagi seseorang saja dan bukan dimaksudkan sebagai hakikat sifat.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Kedua&lt;/b&gt;: Memberi nama dengan nama-nama yang menimbulkan syahwat. Seperti: Fatin (wanita penggoda), Syadi atau Syadiyah (biduanita).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Ketiga&lt;/b&gt;: Memberi nama dengan nama orang fasiq (yang gemar maksiat). Seperti: Madona, Britney.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Keempat&lt;/b&gt;: Memberi nama yang menunjukkan dosa dan maksiat. Seperti: Zhalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Kelima&lt;/b&gt;: Memberi nama dengan nama-nama orang yang terkenal sombong. Seperti: Fir’aun, Haamaan, Qorun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Keenam&lt;/b&gt;: Memberi nama dengan nama yang tidak memotivasi diri. Seperti: Hazn (sedih), Zahm (sempit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Ketujuh&lt;/b&gt;: Memberi nama dengan nama-nama hewan. Seperti: Himar (keledai), Kalb atau Kulaib (anjing), Bagong.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; Kedelapan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;: Memberi nama dengan nama yang disandarkan pada lafazh “ad diin” dan “al islam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti: Muhyiddin (yang menghidupkan agama), Nuruddin (cahaya agama), Dhiyauddin (cahaya agama), Syamsuddin (cahaya agama), Qomaruddin (cahaya agama), Saiful Islam (pedang Islam), Nurul Islam (cahaya Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penamaan seperti di atas terlarang karena kebesaran kedua lafazh Islam dan Diin. Oleh karena itu mengaitkan nama tersebut pada Islam dan Diin adalah suatu kebohongan. Ambil misal orang yang namanya Muhyiddin, artinya orang yang menghidupkan agama. Pertanyaannya, kapan orang tersebut menghidupkan agama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi rahimahullah tidak suka dipanggil dengan Muhyiddin. Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak suka dipanggil Taqiyuddin (penjaga agama). Beliau berkata, “Keluargaku sudah sering memanggilku seperti itu dan akhirnya panggilan seperti itu tersebar luas.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Kesembilan&lt;/b&gt;: Menggunakan nama yang bersusun (terdiri lebih dari dua kata atau lebih), sehingga menimbulkan kerancuan apakah yang dinamai tersebut satu atau beberapa orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti: Muhammad Firdaus, Muhammad Ahmad, Muhammad Haris. Nanti akan dikira bahwa nama-nama ini terdiri dari dua orang, ada Muhammad sendiri, ada Firdaus sendiri. Apalagi jika nama tersebut terdiri dari tiga kata atau bahkan sampai tujuh kata?!&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh&lt;/b&gt;: Sebagian ulama tidak menyukai memberi nama dengan nama para Malaikat yang khusus bagi mereka. Seperti: Jibril, Mikail, Isrofil. Kecuali Malik, nama ini bersekutu antara manusia dan malaikat, dan ada sebagian sahabat yang menggunakan nama Malik.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menamai anak perempuan dengan nama malaikat, ini jelas haram karena ini sama halnya kelakukan orang musyrik yang menjadikan malaikat sebagai anak perempuan Allah.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Kesebelas&lt;/b&gt;: Sebagian ulama (di antaranya Imam Malik) tidak menyukai memberi nama dengan nama-nama surat dalam Al Quran, seperti: Yasin, dan Thoha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأما يذكره العوام أن يس وطه من أسماء النبي فغير صحيح ليس ذلك في حديث صحيح ولا حسن ولا مرسل ولا أثر عن صاحب وإنما هذه الحروف مثل الم وحم والر ونحوها&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun yang biasa disebut oleh orang awam bahwa “Yasin” dan “Thoha” adalah di antara nama-nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu tidaklah benar. Tidak ada satu pun hadits shahih, hadits hasan, hadits mursal atau pun atsar sahabat yang menyatakan demikian. Yasin dan Thoha hanyalah huruf biasa sebagaimana alif laam miim, haamiim, alif laam roo dan semacamnya.”[7]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Mengganti Nama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang nama tersebut adalah di antara nama yang haram dan tidak disukai, maka hendaknya diganti dengan nama yang baik sesuai syari’at yang sudah kami terangkan dalam tulisan sebelumnya. Dalil mengenai hal ini adalah praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang mengganti nama beberapa sahabat. Perhatikan dalil-dalil berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُغَيِّرُ الاِسْمَ الْقَبِيحَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengganti (merubah) nama yang jelek.” (HR. Tirmidzi no. 2839. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu 'Umar, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- غَيَّرَ اسْمَ عَاصِيَةَ وَقَالَ « أَنْتِ جَمِيلَةُ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengganti nama 'Ashiyah (artinya: wanita yang suka bermaksiat) seraya berkata; "Nama kamu adalah Jamilah (artinya: wanita yang cantik)." (HR. Muslim no. 2139)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Usamah bin Akhdari, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَجُلاً يُقَالُ لَهُ أَصْرَمُ كَانَ فِى النَّفَرِ الَّذِينَ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا اسْمُكَ ». قَالَ أَنَا أَصْرَمُ. قَالَ « بَلْ أَنْتَ زُرْعَةُ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada seseorang bernama Ashrom, ia bersama sekelompok orang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Siapa namamu?” Ia menjawab, “Ashrom”. Beliau bersabda, “Sekarang namamu berganti menjadi Zur’ah.” (HR. Abu Daud no. 4954. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ashrom artinya terpotong, sedangkan Zur’ah artinya tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah menceritakan kepada kami Hisyam bahwa Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada orang-orang, katanya; telah mengabarkan kepadaku Abdul Hamid bin Jubair bin Syaibah dia berkata; saya duduk di hadapan Sa'id bin Musayyib maka dia menceritakan kepadaku, bahwa kakeknya datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan sedih, lalu beliau bertanya; "Siapakah namamu?" Dia menjawab; "Namaku Hazn, " Beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَلْ أَنْتَ سَهْلٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang namamu adalah Sahl." Namun dia berkata; "Tidak, aku tidak akan merubah nama yang pernah di berikan oleh ayahku." Ibnu Musayyib berkata, "Sesudah itu keluarga terus menerus dalam keadaan khuzunah." (HR. Bukhari no. 6193). Ibnu Tiin mengatakan bahwa khuzunah adalah kerasnya akhlaq. Ahli nasab menyebutkan bahwa keturunan Hazn ini terkenal dengan akhlaknya yang keras.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Baththol mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ الْأَمْر بِتَحْسِينِ الْأَسْمَاء وَبِتَغْيِيرِ الِاسْم إِلَى أَحْسَن مِنْهُ لَيْسَ عَلَى الْوُجُوب&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perintah untuk memperbagus nama dan merubah nama menjadi yang lebih baik bukanlah suatu yang wajib.”[9] Namun merubahnya adalah sesuatu yang lebih afdhol (lebih baik), apalagi jika nama tersebut jelas-jelas nama yang haram untuk digunakan.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembahasan kami mengenai nama untuk si buah hati. Semoga bermanfaat bagi setiap orang yang ingin menyambut buah hatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Panggang-GK, 27 Jumadil Awwal 1431 H (11/05/2010)&lt;br /&gt;Artikel www.rumaysho.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sumber:&lt;a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3037-hadiah-di-hari-lahir-3-nama-nama-yang-terlarang-untuk-si-buah-hati.html"&gt; rumaysho.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-2643717028601490521?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3037-hadiah-di-hari-lahir-3-nama-nama-yang-terlarang-untuk-si-buah-hati.html' title='Hadiah di Hari Lahir (3), Nama-Nama Yang Terlarang Untuk Si Buah Hati'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/2643717028601490521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-3-nama-nama-yang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/2643717028601490521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/2643717028601490521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-3-nama-nama-yang.html' title='Hadiah di Hari Lahir (3), Nama-Nama Yang Terlarang Untuk Si Buah Hati'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-994995587858558662</id><published>2011-06-07T10:17:00.001+09:00</published><updated>2011-06-07T10:52:46.900+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hadiah di Hari Lahir (2), Nama Terbaik Untuk Si Buah Hati</title><content type='html'>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kesempatan yang lalu kami telah mengangkat pembahasan hadiah bagi si buah hati (serial pertama), yaitu mengenai tahnik (mengunyah makanan manis di saat bayi itu lahir). Sekarang kami akan mengutarakan pembahasan lainnya yaitu memberi nama terbaik bagi si buah hati. Pembahasan ini insya Allah masih berlanjut pada posting selanjutnya. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Urgensi Pemberian Nama Terbaik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama dalam bahasa Arab disebut dengan isim. Makna isim bisa jadi adalah ‘alamat (tanda). Isim juga bisa bermakna as samuu (sesuatu yang tinggi). Sehingga isim (nama) adalah tanda yang tertinggi (mencolok) pada seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nama inilah akan membedakan seseorang dan lainnya. Di antara maksud inilah para ulama bersepakat (berijma’) tentang wajibnya pemberian nama pada laki-laki dan perempuan.[1] Sehingga tidak boleh seseorang pun di muka bumi ini yang tidak memiliki nama. Karena jika tidak punya nama, bagaimana bisa membedakannya dari manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pentingnya seseorang memiliki nama, sampai-sampai para pakar hadits ketika menemukan hadits terdapat seorang perowi yang mubham (tidak dikenal namanya), mereka pun mendhoifkan hadits tersebut sampai diketahui jelas siapa nama perowi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara urgensi pemberian nama terbaik disebabkan nama dapat membawa pengaruh pada orang yang diberi nama. Oleh karena itu, orang Arab mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِكُلِّ مُسَمَّى مِنْ اِسْمِهِ نَصِيْبٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya.”&lt;span class="fullpost"&gt; Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kesempatan yang lalu kami telah mengangkat pembahasan hadiah bagi si buah hati (serial pertama), yaitu mengenai tahnik (mengunyah makanan manis di saat bayi itu lahir). Sekarang kami akan mengutarakan pembahasan lainnya yaitu memberi nama terbaik bagi si buah hati. Pembahasan ini insya Allah masih berlanjut pada posting selanjutnya. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Urgensi Pemberian Nama Terbaik&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nama dalam bahasa Arab disebut dengan isim. Makna isim bisa jadi adalah ‘alamat (tanda). Isim juga bisa bermakna as samuu (sesuatu yang tinggi). Sehingga isim (nama) adalah tanda yang tertinggi (mencolok) pada seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nama inilah akan membedakan seseorang dan lainnya. Di antara maksud inilah para ulama bersepakat (berijma’) tentang wajibnya pemberian nama pada laki-laki dan perempuan.[1] Sehingga tidak boleh seseorang pun di muka bumi ini yang tidak memiliki nama. Karena jika tidak punya nama, bagaimana bisa membedakannya dari manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pentingnya seseorang memiliki nama, sampai-sampai para pakar hadits ketika menemukan hadits terdapat seorang perowi yang mubham (tidak dikenal namanya), mereka pun mendhoifkan hadits tersebut sampai diketahui jelas siapa nama perowi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara urgensi pemberian nama terbaik disebabkan nama dapat membawa pengaruh pada orang yang diberi nama. Oleh karena itu, orang Arab mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِكُلِّ مُسَمَّى مِنْ اِسْمِهِ نَصِيْبٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menunjukkan bahwa jika nama yang diberikan adalah nama yang terbaik, maka atsarnya (pengaruhnya) pun baik. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa nama yang terbaik adalah ‘Abdullah karena nama tersebut menunjukkan penghambaan murni pada Allah. Begitu pula, dalam beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memberi nama dengan nama yang buruk seperti ‘Ashiyah (wanita yang bermaksiat, dengan huruf ‘ain dan shod), Hazn (sedih) dan Zahm (sempit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, nama begitu pengaruh dalam diri orang yang diberi nama. Coba bayangkan bagaimana jika seorang anak diberi nama dengan Hazn (sedih), pasti ia akan jadi orang yang terus-terusan bersedih karena mengingat namanya tersebut. Itulah urgensi penting dalam pemberian nama bagi si buah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh lainnya lagi, dari nama terbaik, seseorang dapat mengetahui bagaimanakah orang tuanya. Orang tuanya dapat diketahui dari nama anaknya, apakah ortunya itu sholih atau tholih (lawan dari sholih). Sebagaimana orang arab pun mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مِنْ اِسْمِكَ أَعْرِفُ أَبَاكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari namamu, aku bisa mengetahui bagaimanakah ayahmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari nama yang baik pula, seseorang bisa menyebarkan kebaikan. Lihatlah bagaimana jika seseorang diberi nama “Musa”. Dari nama ini, setiap orang yang mendengar nama tersebut bisa mengingat bagaimanakah sifat dan akhlaq mulia dari Nabi Musa ‘alaihis salam. Oleh karena itu, pemberian nama yang baik di sini termasuk menyebar sunnah hasanah di tengah-tengah umat. Maksud kami ini sebagaimana disebutkan dalam hadits,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu.” (HR. Muslim no. 1017)[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah di antara urgensi memberi nama yang baik.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Waktu Terbaik dalam Pemberian Nama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai waktu terbaik dalam pemberian nama dapat kita lihat dalam hadits-hadits berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وُلِدَ لِىَ اللَّيْلَةَ غُلاَمٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِى إِبْرَاهِيمَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semalam telah lahir anakku dan kuberi nama seperti ayahku yaitu Ibrahim.” (HR. Muslim no. 2315)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Musa, ia mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وُلِدَ لِى غُلاَمٌ ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ ، وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ ، وَدَفَعَهُ إِلَىَّ ، وَكَانَ أَكْبَرَ وَلَدِ أَبِى مُوسَى .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak laki-lakiku lahir, kemudian aku membawanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau lalu memberinya nama Ibrahim, beliau menyuapinya dengan kunyahan kurma dan mendoakannya dengan keberkahan, setelah itu menyerahkannya kepadaku." Ibrahim adalah anak tertua Abu Musa.” (HR. Bukhari no. 5467, 6198 dan Muslim no. 2145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, dicukur rambutnya dan diberi nama." (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits Abu Musa di atas, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa Abu Musa bersegera membawa bayinya yang baru lahir kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ditahnik setelah diberi nama sebelumnya. Dalil ini menunjukkan bahwa bersegera dalam pemberian nama pada si buah hati itu lebih baik, dan tidak mesti menunggu pemberian nama pada hari ketujuh.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Baihaqi mengatakan, “Hadits yang membicarakan pemberian nama pada si buah hati di hari kelahiran lebih shahih daripada hadits yang menunjukkan pemberian nama pada hari ketujuh.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya Tasmiyatul Mawlud mengatakan, “Terdapat dalam sunnah Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam bahwa pemberian nama itu ada tiga waktu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari kelahiran,&lt;br /&gt;Sampai hari ketiga dari hari kelahiran,&lt;br /&gt;Di hari ketujuh dari kelahiran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan ini adalah perbedaan variatif dan dalam hal ini ada kelonggaran untuk memilih salah satunya.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disebutkan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid sama halnya dengan yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Tuhfatul Mawdud[6]. Namun sebagaimana kata Ibnu Hajar di atas, dalam pemberian nama lebih cepat itu lebih baik yaitu lebih bagus memberi nama pada hari pertama. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pemberian Nama dan Nasab Menjadi Hak Ayah (Bukan Ibu)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,”Mengenai pemberian nama menjadi hak ayah itu tidak ada perselisihan di antara para ulama. Hadits-hadits sebelumnya (yang membicarakan tentang pemberian nama, pen) juga menunjukkan akan hal ini. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Sebagaimana tidak ada perselisihan bahwa ayah yang berhak memberi nama, maka tidak ada perselisihan pula mengenai masalah anak dipanggil dengan nama ayahnya bukan dengan nama ibunya. Sehingga anak tersebut dipanggil dengan fulan bin fulan (dan bukan fulan bin fulanah, pen). Di antara dalil yang menunjukkan hal ini, firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Panggilah mereka dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka.” (QS. Al Ahzab: 5). Anak hanyalah mengikuti ibunya dalam masalah merdeka atau budak. Sedangkan ia tetap mengikuti ayahnya dalam nasab dan dalam pemberian nama.” [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil lain yang dapat kita lihat adalah hadits dari Ibnu Umar, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ فَقِيلَ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلاَنِ بْنِ فُلاَنٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apabila Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terakhir kelak di hari Kiamat, maka akan dikibarkan bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan, 'Ini adalah bendera si fulan bin fulan'." (HR. Muslim no. 1735). Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama bapak mereka (fulan bin fulan), bukan nama ibu mereka (fulan bin fulanah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Urutan Nama Terbaik Bagi Si Buah Hati[8]&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan pertama: Nama Abdullah dan Abdurrahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ktab Al Adzkar, Imam An Nawawi Asy Syafi’i rahimahullah menyebutkan Bab “Penjelasan nama yang paling dicintai oleh Allah”. Lantas beliau bawakan dua hadits berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya nama kalian yang paling dicintai di sisi Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.”(HR. Muslim no. 2132)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وُلِدَ لِرَجُلٍ مِنَّا غُلاَمٌ فَسَمَّاهُ الْقَاسِمَ فَقُلْنَا لاَ نَكْنِيكَ أَبَا الْقَاسِمِ وَلاَ كَرَامَةَ . فَأَخْبَرَ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ « سَمِّ ابْنَكَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang laki-laki di antara kami ada yang memiliki anak, kemudian dia memberi nama "Al Qasim”. Maka kami berkata, "Kami tidak akan menjuluki kamu dengan Abu Al Qasim dan kami tidak akan memuliakannya. Lalu orang tersebut memberitahukan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, "Berilah anakmu nama Abdurrahman." (HR. Bukhari no. 6186)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua nama ini memiliki keunggulan dari segi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Nama ini mengandung sifat penghambaan yang khusus antara hamba dan Allah dibanding dengan nama-nama (yang bersandar pada asmaul husna) lainnya. Karena nama ‘Abdullah mengandung sifat ubudiyah (penghambaan dalam ibadah) dan ini hanya ada kaitannya antara Allah dan hamba. Begitu pula nama ‘Abdurrahman mengandung sifat ubudiyah (penghambaan) karena sifat Ar Rahman adalah sifat rahmat yang khusus antara hamba dan Allah.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Nama berupa penghambaan yang terdapat dalam kedua nama tersebut dikhususkan dalam Al Qur’an dari nama-nama terbaik lainnya. Semisal dapat ayat-ayat berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bahwasanya tatkala Abdullah (yaitu hamba Allah, Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al Jin: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al Furqon: 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)” (QS. Al Isro’: 110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nama pada anak pamannya (Al ‘Abbas) dengan nama Abdullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Sekitar 300 sahabat Nabi memiliki nama Abdullah.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan kedua: Nama bentuk penghambaan pada asmaul husna lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Abdul ‘Aziz, ‘Abdul Malik, Abdur Rozaq, Abdul Halim, dan Abdul Muhsin.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan ketiga: Nama para Nabi dan Rasul Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Adam, Nuh, Musa, Ibrahim, Isa dan Muhammad, yang intinya ada 25 nama Nabi yang disebutkan dalam Al Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al Mughirah bin Syu'bah ia berkata, “Ketika aku mendatangi kota Najran, para penduduknya bertanya kepadaku: Sesungguhnya kalian membaca "Wahai saudara Harun". Padahal Musa hidup sebelum Isa berjarak beberapa tahun. Maka ketika aku datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, aku menanyakan hal itu kepada beliau, dan beliau pun menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu mereka memberi nama dengan nama-nama para Nabi mereka dan orang-orang shaleh dari kaum sebelum mereka.” (HR. Muslim no. 2135)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil lainnya adalah bolehnya memiliki nama seperti nama “Muhammad”, nama Nabi kita. Bahkan nama inilah yang terbaik dari nama para Nabi ‘alaihimus salam lainnya[12]. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَسَمَّوْا بِاسْمِى وَلاَ تَكَنَّوْا بِكُنْيَتِى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berilah nama dengan namaku (Muhammad) dan janganlah kalian berkunyah dengan kunyahku (Abul Qosim)”. (HR. Bukhari no. 6187 dan Muslim no. 2134)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi membawakan hadits-hadits di atas dalam Bab “Larangan berkunyah dengan Abul Qosim dan penjelasan mengenai nama-nama yang disunnahkan.” Hal ini menunjukkan bahwa nama para Nabi dan Rasul adalah di antara nama terbaik yang bisa digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan, “Dari hadits ini sekelompok ulama berdalil bahwa bolehnya memberi nama dengan nama para Nabi ‘alaihimus salaam, bahkan ini adalah ijma’ (kesepakatan) ulama. Kecuali Umar bin Khottob yang berpendapat agak sedikit berbeda dalam hal ini.”[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan keempat: Nama orang sholeh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil hal ini sudah disebutkan sebelumnya dalam hadits Al Mughirah bin Syu'bah. Yang paling baik digunakan adalah nama para sahabat karena merekalah generasi terbaik dari umat ini. Seutama-utama dari mereka adalah para Khulafaur Rosyidin, yaitu Abdullah (Abu Bakr), ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk anak perempuan bisa menggunakan nama istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ummahatul Mukminin). Menurut pendapat yang kuat, istri yang dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada 11[14] :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah binti Khuwailid;&lt;br /&gt;Saudah binti Zum’ah;&lt;br /&gt;Aisyah binti Abu Bakar Ash Shidiq;&lt;br /&gt;Hafshoh binti Umar bin Al Khaththab;&lt;br /&gt;Zainab binti Khuzaimah;&lt;br /&gt;Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah;&lt;br /&gt;Zainab binti Jahsy bin Rayyab;&lt;br /&gt;Juwairiyyah binti Al Harits;&lt;br /&gt;Ummu Habibah Romlah binti Abu Sufyan;&lt;br /&gt;Shofiyah binti Huyai bin Akhthab;&lt;br /&gt;Maimunah binti Al Harits.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh yang menggunakan nama sahabat adalah anak-anak Az Zubair bin Al ‘Awam. Beliau menamakan sembilan anaknya dengan nama para sahabat yang mengikuti perang Badar. Anak-anaknya tersebut diberi nama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Abdullah&lt;br /&gt;Al Mundzir&lt;br /&gt;‘Urwah&lt;br /&gt;Hamzah&lt;br /&gt;Ja’far&lt;br /&gt;Mush’ab&lt;br /&gt;‘Ubaidah&lt;br /&gt;Kholid&lt;br /&gt;‘Umar[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutan kelima: Nama lainnya yang memenuhi syarat dan adab&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Syarat dalam pemberian nama sebagai berikut:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Pertama: Menggunakan bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, menunjukkan terlarangnya menggunakan nama-nama bukan Arab seperti Joseph, Robert, Markus, Julia dan Diana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Kedua: Memiliki susunan dan makna yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dari sini tidak boleh menggunakan nama makruh dan terlarang. Begitu juga terlarang menggunakan nama yang mengandung celaan dan mengandung tazkiyah (menetapkan kesucian dirinya). Oleh karena itu, nama semacam ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai merubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath Thobari rahimahullah mengatakan, “Tidak sepantasnya seseorang memakai nama dengan nama yang jelek maknanya atau menggunakan nama yang mengandung tazkiyah (menetapkan kesucian dirinya), dan tidak boleh pula dengan nama yang mengandung celaan. Seharusnya nama yang tepat adalah nama yang menunjukkan tanda bagi seseorang saja dan bukan dimaksudkan sebagai hakikat sifat. Akan tetapi, dihukumi makruh jika seseorang bernama dengan nama yang langsung menunjukkan sifat dari orang yang diberi nama. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengganti beberapa nama ke nama yang benar-benar menunjukkan sifat orang tersebut. Beliau melakukan semacam itu bukan maksud melarangnya, akan tetapi untuk maksud ikhtiyar (menunjukkan pilihan yang lebih baik).”[17]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Adab dalam pemberian nama yang sebisa mungkin dilakukan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Menggunakan nama sesuai urutan terbaik yang telah kami jelaskan di awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Menggunakan nama yang terdiri dari huruf yang jumlahnya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Menggunakan nama yang mudah diucapkan di lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Memudahkan orang yang mendengar untuk mengingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Menggunakan nama yang cocok dengan orang yang diberi nama dan tidak keluar dari kebiasaan yang dipakai dalam agamanya atau masyarakat sekitarnya.[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan adab tambahan ini menunjukkan bahwa nama yang kurang bagus adalah nama yang terdiri dari banyak kata seperti: Andika Syarifudin Guntur Prasetyo, Linggar Simping Pembayun Retno Utami. Nama ini kurang disukai karena orang-orang akan beranggapan bahwa satu nama ini terdiri dari beberapa orang. Inilah sisi kurang bagusnya untuk nama-nama semisal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah, untuk pembahasan ini kami masih lanjutkan dalam tulisan selanjutnya yaitu mengenai nama yang haram dan makruh untuk digunakan. Semoga Allah mudahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi siapa saja yang menanti buah hatinya. Semoga Allah beri keberkahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan di waktu ‘Ashar, 11 Jumadil Awwal 1431 H (25/04/2010), Panggang-GK.&lt;br /&gt;Artikel www.rumaysho.com&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;sumber: &lt;a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3016-hadiah-di-hari-lahir-2-nama-terbaik-untuk-si-buah-hati.html"&gt;rumaysho.com &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-994995587858558662?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3016-hadiah-di-hari-lahir-2-nama-terbaik-untuk-si-buah-hati.html' title='Hadiah di Hari Lahir (2), Nama Terbaik Untuk Si Buah Hati'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/994995587858558662/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-2-nama-terbaik.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/994995587858558662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/994995587858558662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-2-nama-terbaik.html' title='Hadiah di Hari Lahir (2), Nama Terbaik Untuk Si Buah Hati'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-2611985985423143370</id><published>2011-06-07T10:07:00.000+09:00</published><updated>2011-06-07T10:07:18.424+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Hadiah di Hari Lahir (1), Mengunyah Kurma (Tahnik) Bagi Si Bayi</title><content type='html'>Artikel ini saya copas dari web ust. Muh. Abduh Tuasikal, artikel ini tersusun dari 7 bagian, dengan penjelasan yang mudah dipahami Insya Allah, semoga Allah memberkahi penulis, dan bagi yang ingin membaca artikel-artikel Islam yang ditulis oleh Ust. Muh. Abduh Tuasikal, silahkan berkunjung ke web beliau di &lt;a href="http://www.rumaysho.com/"&gt;www.rumaysho.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengunyah Kurma (Tahnik) Bagi Si Bayi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengunjung setia Rumaysho.com yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Pada kesempatan kali ini dan beberapa kesempatan lainnya, kami akan banyak mengupas mengenai hadiah bagi si buah hati di hari lahirnya. Artinya di sini, kita akan membahas amalan-amalan apa saja yang disyariatkan atau dituntunkan bagi orang tua untuk si buah hatinya ketika ia lahir. Semoga pembahasan kami ini walaupun ringkas dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang Dimaksud Tahnik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahnik adalah melumurkan kurma ke langit-langit mulut bayi setelah kurma tersebut dilumat.[1] An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para pakar bahasa menyatakan bahwa tahnik adalah mengunyah kurma atau semacamnya, kemudian menggosokkannya ke langit-langit mulut si bayi”.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Tujuan mentahnik di sini adalah agar si bayi terlatih mengunyah makanan dan menguatkannya untuk makan.[3]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Bukti Tuntunan Tahnik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Musa, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan anak kecil, lalu beliau mendoakan mereka dan mentahnik mereka.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi menyebutkan dua hadits di atas dalam Shahih Muslim pada Bab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;استحباب تحنيك المولود عند ولا دته وحمله إلى صالح يحنكه وجواز تسميته يوم ولا دته واستحباب التسمية بعبدالله وإبراهيم وسائر أسماء الأنبياء عليهم السلام&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dianjurkan mentahnik bayi yang baru lahir, bayi tersebut dibawa ke orang sholih untuk ditahnik. Juga dibolehkan memberi nama pada hari kelahiran. Dianjurkan memberi nama bayi dengan Abdullah, Ibrahim dan nama-nama nabi lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran Penting Tentang Tahnik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Para ulama sepakat tentang disunnahkannya (dianjurkannya) mentahnik bayi yang baru lahir dengan kurma. Jadi tahnik dilakukan di hari pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Jika tidak mendapati kurma untuk mentahnik, maka bisa digantikan dengan yang lainnya yang manis-manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Cara mentahnik adalah orang yang mentahnik mengunyah kurma hingga agak cair dan mudah ditelan, lalu ia membuka mulut si bayi, lalu ia menggosokkan kunyahan kurma tadi di langit-langit mulutnya sehingga si bayi akan mencernanya ke dalam kerongkongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Hendaknya yang melakukan tahnik adalah orang sholih sehingga bisa diminta do’a keberkahannya, terserah yang mentahnik tersebut laki-laki atau perempuan. Jika orang sholih tersebut tidak hadir, maka hendaklah bayi tersebut yang didatangkan ke orang sholih tersebut.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai yang mentahnik boleh seorang wanita sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim bahwa Imam Ahmad bin Hambal ketika lahir salah satu bayinya, beliau menyuruh seorang wanita untuk mentahnik bayinya tersebut.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ulama yang memberi penjelasan urutan makanan yang dijadikan bahan untuk mentahnik: tamr (kurma kering); kalau tidak ada, barulah rothb (kurma basah); kalau tidak ada, barulah makanan manis yaitu yang jadi pilihan adalah madu; dan setelah itu adalah makanan yang tidak disentuh api.[8]&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Di Samping Mentahnik, Minta Do’a Keberkahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping mentahnik, penjelasan di atas juga menunjukkan setelah ditahnik hendaknya orang yang mentahnik mendoakan keberkahan pada si bayi dan lebih utama yang mentahnik dan mendoakan adalah orang sholih. Yang dimaksud keberkahan adalah tetapnya dan bertambahnya kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a keberkahan di sini seperti do’a: Allahumma baarik fiih (Ya Allah, berkahilah dia), atau boleh pula dengan do’a keberkahan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembahasan ringkas dalam serial pertama mengenai hadiah di hari lahir yang bisa kami sajikan. Nantikan pembahasan selanjutnya insya Allah. Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direvisi ulang, 5 Rabi’ul Akhir 1431 H, 19/03/2010 di Panggang-GK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/3716, Multaqo Ahlil Hadits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 3/194, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 9/588, Darul Ma’rifah, 1379.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] HR. Muslim no. 2145.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Muslim no. 2147.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Keempat point ini diolah dari penjelasan An Nawawi rahimahullah dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/122-123.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/3716&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 9/588. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/2964-hadiah-di-hari-lahir-1-mengunyah-kurma-tahnik-ke-mulut-si-bayi.html"&gt;rumaysho.com &lt;/a&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-2611985985423143370?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/2611985985423143370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-1-mengunyah-kurma.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/2611985985423143370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/2611985985423143370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hadiah-di-hari-lahir-1-mengunyah-kurma.html' title='Hadiah di Hari Lahir (1), Mengunyah Kurma (Tahnik) Bagi Si Bayi'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-2692437807477030797</id><published>2011-06-06T18:18:00.000+09:00</published><updated>2011-06-06T18:18:51.623+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Hari Gene Masih Percaya Dukun??? Cape' deeh...</title><content type='html'>&lt;b&gt;Perdukunan? No Way!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-RXZQ965E5yg/TeybSn8sr9I/AAAAAAAAAKY/sKO8i1eoQLw/s1600/sihir-perdukunan.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="125" src="http://1.bp.blogspot.com/-RXZQ965E5yg/TeybSn8sr9I/AAAAAAAAAKY/sKO8i1eoQLw/s200/sihir-perdukunan.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHUTBAH PERTAMA:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.&lt;br /&gt;“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.&lt;br /&gt;“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.&lt;br /&gt;“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.&lt;br /&gt;أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jama’ah Jumat rahimakumullah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ta’ala dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara potret keindahan ajaran Islam, selain mengajarkan karakter tawakkal, agama kita juga memotivasi umatnya agar berikhtiar, berdaya upaya dan berusaha untuk menggapai keinginan serta cita-citanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Guna mendulang rezeki misalnya, Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“لَأَنْ يَحْتَزِمَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً مِنْ حَطَبٍ، فَيَحْمِلَهَا عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا؛ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا يُعْطِيهِ أَوْ يَمْنَعُهُ”&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; “Seseorang mencari seikat kayu bakar lalu dipanggul di atas pundaknya dan dijual, lebih mulia dibandingankan dia meminta-minta kepada orang lain, diberi atau tidak.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dengan redaksi Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sakit dan menginginkan kesembuhan, diperintahkan Islam untuk berobat. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“تَدَاوَوْا! فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ؛ الْهَرَمُ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berobatlah! Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidaklah menurunkan penyakit melainkan menciptakan obatnya. Kecuali satu penyakit, yaitu penyakit tua.” (HR. Abu Dawud (IV/125 no. 3855) dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzy (hal. 461 no. 2039)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, dalam hal ikhtiar, Islam tidaklah membebaskan umatnya berlaku sekehendaknya tanpa aturan. Justru agama kita membuat rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar. Yang pada hakikatnya bertujuan untuk kemaslahatan insan, dalam perkara duniawi maupun ukhrawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara rambu-rambu ikhtiar, yang amat disayangkan masih sering dilanggar, termasuk di negeri kita, larangan Islam untuk memanfaatkan ‘jasa’ dukun, paranormal, tukang sihir dan yang semisal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit di antara anggota masyarakat kita, dengan berbagai strata kehidupan, beragam latar belakang ideologi, tingkatan pendidikan dan kebutuhan, masih menganggap pergi ke dukun sebagai bentuk ikhtiar yang lazim. Padahal di KTP mereka tertulis beragama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat yang menginginkan kelanggengan kedudukannya.&lt;br /&gt;Tokoh politik yang membidik kursi panas jabatan.&lt;br /&gt;Bos yang berhasrat disegani dan terlihat berwibawa di depan karyawannya.&lt;br /&gt;Bawahan yang bercita-cita naik pangkat.&lt;br /&gt;Pedagang yang mengharapkan kelancaran rezekinya.&lt;br /&gt;Pengusaha yang berkeinginan untuk menjatuhkan saingan bisnisnya.&lt;br /&gt;Orang yang apes karena rumahnya disatroni maling dan ingin agar hartanya ditemukan kembali.&lt;br /&gt;Remaja yang ingin mengintip masa depan ‘cintanya’.&lt;br /&gt;Bujangan yang mengincar wanita idamannya.&lt;br /&gt;Istri yang berharap suaminya tidak melirik ‘rumput tetangga’.&lt;br /&gt;Rumah tangga yang bermimpi memiliki keturunan.&lt;br /&gt;Bahkan, siswa sekolah yang menginginkan kelulusan dalam ujiannya.&lt;br /&gt;Banyak di antara mereka tergopoh-gopoh datang mengetuk pintu para dukun, menghiba bantuannya. Mereka melakukannya, sekali lagi, atas nama “ikhtiar”!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sejak empat belas abad lalu, panutan kita Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah mengingatkan dengan tegas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ؛ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mendatangi peramal, lalu ia bertanya tentang sesuatu padanya; maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.” (H.R. Muslim (IV/1751 no. 2230) dari sebagian istri Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits lain memberikan statemen yang lebih keras lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ سَاحِراً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ؛ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang sihir lalu mempercayai apa yang dikatakannya; maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.” (H.R. Al-Bazzar (V/315 no. 1931) dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ’anhu dan sanad-nya dinilai sahih oleh Ibnu Katsir [lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (I/393)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin dan hadirat rahimakumullah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ada sebagian kalangan yang bertanya-tanya, mengapa Islam begitu ‘keras’ dalam hal ini? Toh, para dukun mereka hanya ingin berbuat baik kepada sesama, dengan memberdayakan ‘daya linuwih’ yang dimiliki. Lantas apa salahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjawab kebimbangan di atas, satu hal yang seharusnya selalu diingat setiap insan, manakala Islam melarang suatu perbuatan, pasti perbuatan tersebut memuat kerusakan fatal atau mengakibatkan bahaya besar bagi pelakunya, baik di dunia maupun akhirat. Sekalipun barangkali perbuatan itu mengandung beberapa manfaat. Jika dicermati ulang dengan teliti, ternyata manfaat tadi bila dibandingan dengan keburukan yang ditimbulkannya, jelas tidak ada apa-apanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala yang berbau perdukunan, maupun praktik sihir memuat berbagai sisi negatif. Di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Demi menjalankan aktivitasnya, para dukun melakukan ritual kesyirikan dan praktik kekufuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali para dukun dan tukang sihir bisa melakukan atraksi-atraksi ajaib yang mencengangkan. Orang yang beriman tidak mudah termakan; karena ia tahu bahwa sejatinya mereka telah berkolaborasi dengan setan untuk melakukan atraksi tersebut [lihat: Kitab an-Nubuwwât karya Ibn Taimiyyah (II/830-831)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan tidak mungkin membantu para tukang sihir dalam hal itu, kecuali setelah mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat, sebagai bentuk kompensasi bantuan tersebut [lihat: Al-Furqân baina Auliyâ’ ar-Rahmân wa Auliyâ’ asy-Syaithân karya Ibn Taimiyyah (hal. 331-332)]. Semakin perbuatan yang dipersembahkan kufur atau syirik, maka bantuan yang diberikan setan semakin besar [lihat: At-Tafsîr al-Qayyim (hal. 581)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini bukanlah isapan jempol belaka atau fitnah murahan, namun fenomena tersebut diakui oleh para mantan dukun yang telah bertaubat. Mereka bersaksi bahwa untuk menggapai ‘kesaktian’ yang dimiliki, mereka diharuskan untuk melakukan kesyirikan dan kekufuran. Ada yang mengatakan bahwa mereka dulunya memohon bantuan kepada iblis, ada yang tidak menunaikan shalat lima waktu dan berpuasa Ramadhan, ada yang menempelkan lembaran-lembaran mushaf al-Qur’an di tembok WC dan berbagai tindak kekufuran lainnya [lihat: Majalah Ghoib, edisi khusus “Dukun-dukun Bertaubat” (hal. 12-14, 17, 19, 20, 22, 43), edisi 32 (hal. 5), edisi 56 (hal. 11), edisi 70 (hal. 8)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kolaborasi para dukun dengan setan telah dijelaskan para ulama Islam sejak dulu kala. Sebagaimana dipaparkan antara lain oleh Imam Syafi’i (w. 204 H) [lihat: Tafsir al-Qurthuby (II/274)], al-Baidhawy (w. 685 H) [lihat: Tafsir al-Baidhawy (hal. 21)] dan Ibn Hajar al-‘Asqalany (w. 852 H) [lihat: Fath al-Bary (X/222)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Tukang ramal dan paranormal telah menabrak salah satu prinsip dasar akidah Islam, yakni keyakinan bahwa Dzat yang mengetahui hal ghaib hanyalah Allah ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak fakta yang membuktikan bahwa para pelaku perdukunan telah mengklaim dirinya mengetahui hal-hal ghaib. Salah satu contoh nyatanya, lihatlah apa yang bermunculan di media massa, elektronik maupun cetak, setiap datang penghujung tahun? Para dukun dan ‘spiritualis’ berlomba meramal kejadian tahun depan! Ini hanyalah satu contoh, dan masih banyak contoh lainnya yang senada. Bahkan ada pula yang berani meramal kapan datangnya hari kiamat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dalam al-Qur’an, begitu gamblang dijelaskan bahwa pengetahuan tentang hal ghaib hanyalah dimiliki Allah tabaraka wa ta’ala, Rabb semesta alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّه”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak ayat lain serta hadits nabawi yang senada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Pergi ke dukun dan paranormal membentuk mentalitas pemalas dalam diri seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemikiran yang mistik mencerminkan mentalitas jalan pintas. Orang yang tidak mau kerja keras, tidak mau berencana, dan hanya mengharapkan solusi dengan cara gaib. Mistik membuat orang malas, tidak ulet dan tidak bermental tangguh.” (Perkataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagaimana dalam buku Harus Bisa – Seni Memimpin ala SBY,  karya Dr. Dino Patti Djalal (hal.127)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menginginkan umatnya ulet, tangguh, rajin berkerja, bersungguh-sungguh dalam berusaha, serta tidak bergantung pada sesuatu yang fiktif dan terbuai dengan angan-angan kosong. Islam juga sangat membenci karakter pemalas. Karenanya di antara doa yang kerap dilantunkan Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari ketidakberdayaan, kemalasan, sifat pengecut dan lanjut usia. Aku memohon perlindungan-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian. Serta aku memohon perlindungan-Mu dari azab kubur.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang Jumat yang diberkahi Allah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan di atas bukan hanya membidik para dukun yang notabene beraliran hitam. Yang  biasanya ditandai dengan blangkon atau iket di kepala dan pakaian serba hitam. Tidak lupa menyelipkan sebilah keris di pinggang, serta menyalakan kemenyan dan dupa di depannya. Namun peringatan di atas juga terarah kepada mereka yang menamakan diri dukun putih. Yang kerap berbusana bak seorang wali, dengan sorban di kepala dan jubah putih, serta tidak lupa bersenjatakan seuntai tasbih yang biji-bijinya terkadang mengalahkan besarnya bola pingpong. Mereka semua sama! [Pembahasan lebih lanjut baca di buku Dukun Hitam Dukun Putih – Menguak Rahasia Kehebatan Sekutu Setan, karya Abu Umar Abdillah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya kaum muslimin bersikap cerdas dalam menilai sesuatu. Tidak mudah terkecoh dengan tipuan penampilan. Justru dia tetap menjadikan substansi sesuatu sebagai tolok ukur penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم، وبسنة سيد المرسلين.&lt;br /&gt;أقول قولي هذا، وأستغفره العظيم الجليلَ لي ولكم، ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه؛ إنه هو الغفور الرحيم…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHUTBAH KEDUA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله الواحد القهار، الرحيمِ الغفار، أحمده تعالى على فضله المدرار، وأشكره على نعمه الغِزار، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الجبار، وأشهد أن نبينا محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الأطهار، وإخونه الأبرار، وأصحابه الأخيار، ومن تبعهم بإحسان ما تعاقب الليل والنهار.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin dan muslimat yang kami cintai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tutup khutbah sederhana ini dengan fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) pusat berkenaan dengan permasalahan di atas, yang diputuskan pada Musyawarah Nasional MUI VII:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fatwa tentang Perdukunan (Kahânah) dan Peramalan (‘Irâfah)&lt;br /&gt;1.    Segala bentuk praktek perdukunan (kahânah) dan peramalan (‘irâfah) hukumnya haram.&lt;br /&gt;2.    Mempublikasikan praktek perdukunan (kahânah) dan peramalan (‘irâfah) dalam bentuk apapun hukumnya haram.&lt;br /&gt;3.    Memanfaatkan, menggunakan dan/atau mempercayai segala praktek perdukunan (kahânah) dan peramalan (‘irâfah) hukumnya haram”.&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jakarta, 21 Jumadal Akhir 1426 / 28 Juli 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Lihat: http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=95:perdukunan-kahanah-dan-peramalan-irafah&amp;amp;catid=25:fatwa-majelis-ulama-indonesia].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fatwa telah diputuskan. Tinggallah komitmen kita sebagai umat Islam di negeri ini mematuhi dan menaati keputusan yang dibuat forum tertinggi umat Islam di negeri ini. Jangan sampai keputusan komisi fatwa itu hilang maknanya, lantaran ketidakseriusan kita sendiri sebagai umat Islam untuk menyebarkan dan menerangkannya kepada masyarakat.” [Majalah Ghoib, edisi 66 (hal. 44)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ألا وصلوا وسلموا -رحمكم الله- على المصطفى المختار؛ كما أمركم بذلك العزيز الغفار، فقال تعالى قولا كريما: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.&lt;br /&gt;اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.&lt;br /&gt;ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين&lt;br /&gt;ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم&lt;br /&gt;ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب&lt;br /&gt;ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار&lt;br /&gt;وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين&lt;br /&gt;وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Rabi’uts Tsani 1432 / 25 Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://muslim.or.id/aqidah/perdukunan-no-way.html"&gt;muslim.or.id&lt;/a&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-2692437807477030797?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/2692437807477030797/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hari-gene-masih-percaya-dukun-cape-deeh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/2692437807477030797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/2692437807477030797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/hari-gene-masih-percaya-dukun-cape-deeh.html' title='Hari Gene Masih Percaya Dukun??? Cape&apos; deeh...'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-RXZQ965E5yg/TeybSn8sr9I/AAAAAAAAAKY/sKO8i1eoQLw/s72-c/sihir-perdukunan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-8087360328248807310</id><published>2011-06-06T16:16:00.000+09:00</published><updated>2011-06-06T16:16:23.399+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Jika Terlanjur Salah Dalam Mengeluarkan Zakat Kepada Golongan yang Tidak Berhak Menerimanya</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-oRZPhyvvmpA/Tex-XDQ8RzI/AAAAAAAAAKQ/9FCvb7jrejg/s1600/sedekah.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="196" src="http://3.bp.blogspot.com/-oRZPhyvvmpA/Tex-XDQ8RzI/AAAAAAAAAKQ/9FCvb7jrejg/s200/sedekah.jpeg" width="192" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda memberikan zakat kepada seseorang, lalu dikemudian hari baru anda ketahui bahwa sebenarnya orang yang anda beri zakat tersebut tidak berhak menerima zakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana solusinya? Perlukah mengulangi mengeluarkan zakat yang salah tadi? Ataukah itu sudah mencukupi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak jawaban asy-Syaikh asy-Syaikh Abu Abdil Mu’iz Muhammad Ali Farkus hafidzohulloh berikut ini:&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: asy-Syaikh Abu Abdil Mu’iz Muhammad Ali Farkus hafidzohulloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kewajiban zakat telah gugur bagi orang yang keliru dalam mengeluarkannya, ia memberikan zakatnya kepada orang yang tidak berhak menerimanya (bukan mustahiq)? Terkhusus jika ia mengeluarkan zakat tersebut berdasarkan fatwa sebagian imam masjid? Maka diharapkan adanya penjelasan dan perincian dalam masalah ini jika memungkinkan, jazakumulloh khoiron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصَحْبِهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمّا بعد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang wajib bagi seorang muslim adalah hendaknya ia ber-tatsabbut (mencari kejelasan) dalam menyerahkan zakatnya, jika ia mengeluarkan zakat kepada orang yang ia kira berhak menerimanya, lalu ia ternyata salah menyerahkannya sedangkan ia (sebelumnya) tidak mengetahui hakekat yang sebenarnya tentang orang yang menerima tersebut dikarenakan ia mencukupi dengan mengetahui kondisi zhohirnya saja atau berdasarkan petunjuk orang yang mengetahui kondisinya, kemudian dia baru tahu bahwa orang tersebut tidak berhak menerimanya, maka kewajiban zakat telah gugur darinya, berdasarkan hadits Ma’an bin Yazid rodhiyallohu anhu, ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَايَعْتُ رسولَ الله صَلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّم أنا وأبي وجدِّي، وخطب عليَّ فأنكحني وخاصمت إليه، وكان أبي يزيد أخرج دنانير يتصدَّق بها، فوضعها عند رجلٍ في المسجد، فجئت فأخذتها فأتيته بها، فقال: والله ما إياك أردت، فخاصمته إلى رسول الله صَلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّم، فقال: لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku, ayahku dan kakekku berbaiat kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa aailihi wa sallam. Beliau meminangkan aku dan menikahkanku. Dan aku mengadukan perkara kepada beliau, bahwa ayahku -Yazid- mengeluarkan beberapa uang dinar untuk shodaqoh, lalu ia titipkan pada seorang laki-laki di masjid. Aku datang ke Masjid tersebut dan mengambil shodaqoh dari orang itu, lalu akupun datang kepada ayahku sambil membawa uang itu. Ayahku berkata, ‘Demi Alloh, aku tidak bermaksud memberikannya kepadamu’. Maka aku mengadukannya kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa aailihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Bagimu apa yang telah kamu niatkan wahai Yazid, dan bagimu apa yang telah kamu ambil wahai Ma’an!”. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan al-Imam al-Bukhori membuat bab untuk hadits ini dengan judul: “Bab: Jika Seseorang Bershodaqoh Kepada Anaknya Sedangkan Ia Tidak Menyadarinya”[2].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu, bahwa Rosululloh shollallohu alaihi wa aailihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَجُلٌ: لأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَةٍ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ، لأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَةٍ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ زَانِيَةٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، لأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ غَنِيٍّ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ، اللَّهمَّ لَكَ الحَمْدُ عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ، فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ: أَمَّا صَدَقَتُكَ عَلَى سَارِقٍ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعِفَّ عَنْ سَرِقَتِِهِ، وَأَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ عَنْ زِنَاهَا، وَأَمَّا الغَنِيُّ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَعْتَبِرَ، فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki berkata: “Sungguh aku akan mengeluarkan shodaqoh”. Lalu ia keluar membawa shodaqohnya dan diberinya ke tangan seorang pencuri. Pada pagi harinya, orang-orang membicarakan: “Shodaqoh diberikan kepada seorang pencuri”, ia pun berkata: “Ya Alloh, segala puji bagi-Mu, sungguh aku akan bershodaqoh lagi!”, lalu ia keluar membawa shodaqohnya dan diberinya ke tangan seorang wanita pezina. Pada pagi harinya, orang-orang membicarakan: “Tadi malam shodaqoh diberikan kepada seorang wanita pezina”, ia pun berkata: “Ya Alloh, segala puji bagi-Mu, shodaqohku jatuh kepada wanita pezina, sungguh aku akan bershodaqoh lagi!”, Lalu ia keluar lagi membawa shodaqohnya dan diberinya ke tangan seorang yang kaya. Pada pagi harinya, orang-orang membicarakan: “Shodaqoh diberikan kepada seorang yang kaya”, ia pun berkata: “Ya Alloh, segala puji bagi-Mu, shodaqohku jatuh kepada pencuri, wanita pezina dan orang kaya”, lau ia didatangi (Malaikat) dan dikatakan kepadanya: “Adapun shodaqohmu kepada seorang pencuri, boleh jadi ia (karena shodaqohmu) akan menghentikan perbuatan mencurinya. Adapun wanita pezina, boleh jadi ia akan menghentikan perbuatan zinanya. Adapun orang kaya, boleh jadi ia akan sadar dan iapun akan berinfak dengan harta yang diberikan Alloh kepadanya.” [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan al-Bukhori memberi judul bab terhadap hadits ini dengan judul: “Bab: Jika Seseorang Bershodaqoh Kepada Orang kaya Sedangkan Ia Tidak Mengetahui.” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni: shodaqohnya tetap diterima. [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, dan hukum ini juga berhubungan dengan fatwa seorang mufti tentang sah-nya mengeluarkan zakat kepada beberapa golongan, lalu seseorang mengeluarkan zakatnya kepada golongan tersebut berdasarkan fatwa ini. Kemudian setelah itu ia baru mengetahui bahwa fatwa tersebut salah, maka sesungguhnya telah gugur kewajiban zakat tersebut baginya dan ia tidak dituntut untuk mengulangi mengeluarkan zakatnya lagi, karena persangkaan kuatnya telah mencukupi dan ia mendapat apa yang ia niatkan. Berdasarkan sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa aailihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini berbeda jika seseorang telah mengetahui bahwa orang yang meminta zakat bukanlah orang yang berhak menerimanya, maka kewajiban zakat tidak gugur baginya dan ia tidaklah keluar dari tuntutan untuk melaksanakannya melainkan dengan mengeluarkan zakatnya kepada orang yang berhak menerimanya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang selainnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَجُلَيْنِ أَتَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي حَجَّةِ الوَدَاعِ وَهُوَ يُقَسِّمُ الصَّدَقَةَ فَسَأَلاَهُ مِنْهَا، فَرَفَعَ فِينَا النَّظَر وَخَفَضَهُ فَرَآنَا جَلْدَيْنِ، فَقَالَ: إِنْ شِئْتُمَا أَعْطَيْتُكُمَا وَلاَ حَظَّ فِيهَا لِغَنِيٍّ وَلاَ لِقَوٍّي مُكْتَسِبْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada dua orang laki-laki mendatangi Rosululloh shollallohu alaihi wa aailihi wa sallam pada haji Wada’ ketika beliau membagi-bagikan shodaqoh (zakat), lalu keduanya minta bagian kepada beliau. Lalu beliau mengangkat pandangannya dan memperhatikan kami, lalu beliau kembali menundukkan pandangannya. Beliau melihat kami berdua masih kuat[7], maka beliau bersabda: “jika kalian mau, aku akan beri kalian harta, tapi tidak ada bagian zakat bagi orang yang kaya dan tidak pula bagi orang yang kuat yang mampu bekerja.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والعلمُ عند اللهِ تعالى، وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jaza’ir, 16 Jumadil Uula 1429 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertepatan dengan: 21/5/2008 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan kaki:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Diriwayatkan oleh al-Bukhori dalam Shohih-nya, di kitabuz zakaah, bab idza tashoddaqo ‘ala ibnihi wa huwa laa yasy’ur (no. 1356), ad-Darimi dalam Sunan-nya (no. 1595), Ahmad dalam Musnad-nya (no. 15433) dari hadits Ma’an bin Yazid rodhiyallohu anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Shohih al-Bukhori dengan Syarah Fathul Bari (3/291).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Diriwayatkan oleh al-Bukhori dalam Shohih-nya, di kitabuz zakaah, bab idza tashoddaqo ‘ala ghoniy wa huwa laa ya’lam (no. 1355), Muslim dalan Shohih-nya di kitabuz Zakaah, bab tsubutu ajril mutashoddiq wa in waqo’at ash-shodaqoh fii yadi fasiq wa nahwihi (no. 2363) dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Shohih al-Bukhori dengan Syarah fathul Bari (3/290).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Fathul Bari (3/290), oleh Ibnu Hajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Diriwayatkan al-Bukhori dalam Shohih-nya Kitab Bad’il Wahyi, bab kaifa kaana bad’ul wahyi ilaa Rosulillah (no. 1), dan Muslim dalam Shohih-nya di kitab al-Imaroh, bab qouluhu innamal a’maalu bin niyyah (no. 4927) dari hadits Umar bin al-Khoththob rodhiyallohu anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]. al-Jalad (الجَلَد): kekuatan dan kesabaran. [an-Nihayah libnil Atsir (1/284)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]. Diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunan-nya di kitabuz zakaah, bab man yu’tho minash shodaqoh wa hadd al-ghoniy (no. 1633), an-Nasaa’i dalam Sunan-nya di kitabuz zakaah, bab mas’alah al-qowiy al-muktasib (no. 2598), Ahmad dalam Musnad-nya (no. 17511), al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro (no. 13436) dari hadits Abdulloh bin ‘Adiy bin al-Khiyaar bahwa dua orang laki-laki mengabarkan kepadanya. Berkata penulis at-tanqiih: “hadits ini shohih dan para perawinya tsiqoh”, Imam Ahmad rodhiyallohu anhu berkata: “diantara hadits yang baik, ini adalah yang paling baik sanadnya”, lihat: Nashbur Royah karya az-Zaila’i (2/401), dan hadits ini dishohihkan oleh al-Albani dalam al-Irwa’ (3/381).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tholib.wordpress.com *** tholib.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan dari: website resmi asy-Syaikh Muhammad Ali Farkus hafidzohulloh http://www.ferkous.net/rep/Bf24.php - artikel tholib.wordpress.com – Ramadhan 1431H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;في إخراج الزكاة خطأ لغير أهل الاستحقاق&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;السـؤال:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هل تسقط الزكاة على من أخطأ في دفعها، فأعطاها إلى غير المستحقِّين لها؟ وخاصَّة إذا كان إخراجها بناءً على فتوى بعض أئمَّة المساجد؟ فيُرجى التوضيح والتفصيل إن أمكن وجزاكم الله خيرًا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الجـواب:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصَحْبِهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمّا بعد:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فالواجبُ على المسلم التثبُّت من دفع الزكاة، فلو دفع زكاته لمن يظنُّه مُستحِقًّا لها فأعطاها خطأ وهو لا يعلم بحقيقة أمره، اكتفاءً بظاهر حاله، أو بتوجيهٍ ممَّن يعرف حالَه، فبان غيرَ مستحِقٍّ لها؛ فإنَّ الزكاة تسقُط عنه، لحديث مَعْنٍ بنِ يزيد رضي الله عنه قال: «بَايَعْتُ رسولَ الله صَلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّم أنا وأبي وجدِّي، وخطب عليَّ فأنكحني وخاصمت إليه، وكان أبي يزيد أخرج دنانير يتصدَّق بها، فوضعها عند رجلٍ في المسجد، فجئت فأخذتها فأتيته بها، فقال: والله ما إياك أردت، فخاصمته إلى رسول الله صَلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّم، فقال: لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ»(١)، وبوَّب له البخاري: «باب إذا تصدّق على ابنه وهو لا يشعر»(٢)، ولحديث أبي هريرة رضي الله عنه أنَّ رسول الله صَلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّم قال: «قَالَ رَجُلٌ: لأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَةٍ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ، لأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَةٍ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ زَانِيَةٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، لأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ غَنِيٍّ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ، اللَّهمَّ لَكَ الحَمْدُ عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ، فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ: أَمَّا صَدَقَتُكَ عَلَى سَارِقٍ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعِفَّ عَنْ سَرِقَتِِهِ، وَأَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ عَنْ زِنَاهَا، وَأَمَّا الغَنِيُّ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَعْتَبِرَ، فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللهُ»(٣)، والحديث بوَّب له البخاريُّ: «باب إذا تصدق على غني وهو لا يعلم»(٤)، أي: فصدقته مقبولة(٥).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا، ويلحقُ الحكمُ -أيضًا- بما أفتاه له المفتي من صِحة إخراج الزكاة لبعض الأصناف فأخرجها بناءً على الفتوى، ثمَّ تبيَّن له خطؤُها فإنه تسقط عنه الزكاة، ولا يُطالَب بإعادةِ إخراجها، اكتفاءً بغلبةِ الظنِّ، وله ما نوى، لقوله صَلَّى اللهُ عليه وآله وسَلَّم: «وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»(٦)، وهذا بخلاف العالمِ بعدمِ أهلية السائل فلا تسقط عنه، ولا يخرج من عهدة الامتثال إلاَّ بإخراجها لأهلها، لما أخرجه أبو داود وغيره: «أَنَّ رَجُلَيْنِ أَتَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي حَجَّةِ الوَدَاعِ وَهُوَ يُقَسِّمُ الصَّدَقَةَ فَسَأَلاَهُ مِنْهَا، فَرَفَعَ فِينَا النَّظَر وَخَفَضَهُ فَرَآنَا جَلْدَيْنِ(٧)، فَقَالَ: إِنْ شِئْتُمَا أَعْطَيْتُكُمَا وَلاَ حَظَّ فِيهَا لِغَنِيٍّ وَلاَ لِقَوٍّي مُكْتَسِبْ»(٨).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والعلمُ عند اللهِ تعالى، وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الجزائر في: 16 جمادى الأولى 1429ﻫ&lt;br /&gt;الموافق ﻟ: 21/05/2008م&lt;br /&gt;١- أخرجه البخاري في «صحيحه» كتاب الزكاة، باب إذا تصدق على ابنه وهو لا يشعر: (1356)، والدارمي في «سننه»: (1595)، وأحمد في «مسنده»: (15433)، من حديث معن بن يزيد رضي الله عنه.٢- «صحيح البخاري بشرح فتح الباري»: (3/291).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;٣- أخرجه البخاري في «صحيحه» كتاب الزكاة، باب إذا تصدق على غني وهو لا يعلم: (1355)، ومسلم في «صحيحه» كتاب الزكاة، باب ثبوت أجر المتصدق وإن وقعت الصدقة في يد فاسق ونحوه: (2362)، من حديث أبي هريرة رضي الله عنه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;٤- «صحيح البخاري بشرح فتح الباري»: (3/290).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;٥- «فتح الباري» لابن حجر: (3/290).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;٦- أخرجه البخاري في «صحيحه» كتاب بدء الوحي، باب كيف كان بدء الوحي إلى رسول الله: (1)، ومسلم في «صحيحه» كتاب الإمارة، باب قوله إنما الأعمال بالنية: (4927)، من حديث عمر بن الخطاب رضي الله عنه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;٧- الجَلَد: القوة والصبر. [«النهاية» لابن الأثير: (1/284)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;٨- أخرجه أبو داود في «سننه» كتاب الزكاة، باب من يعطى من الصدقة وحد الغني: (1633)، والنسائي في «سننه»، كتاب الزكاة، باب مسألة القوي المكتسب: (2598)، وأحمد في «مسنده»: (17511)، والبيهقي في «السنن الكبرى»: (13436)، من حديث عبد الله بن عدي بن الخيار أن رجلين أخبراه. قال صاحب “التنقيح”: حديث صحيح، ورواته ثقات، قال الإمام أحمد رضي الله عنه: «ما أجوده من حديث هو أحسنها إسنادا» انظر: نصب الراية للزيلعي: (2/401)، والحديث صححه الألباني في «الإرواء»: (3/381).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://tholib.wordpress.com/2010/09/06/jika-terlanjur-salah-dalam-mengeluarkan-zakat-kepada-golongan-yang-tidak-berhak-menerimanya/#more-856"&gt;Tholib &lt;/a&gt;     &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-8087360328248807310?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/8087360328248807310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/jika-terlanjur-salah-dalam-mengeluarkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/8087360328248807310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/8087360328248807310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/jika-terlanjur-salah-dalam-mengeluarkan.html' title='Jika Terlanjur Salah Dalam Mengeluarkan Zakat Kepada Golongan yang Tidak Berhak Menerimanya'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-oRZPhyvvmpA/Tex-XDQ8RzI/AAAAAAAAAKQ/9FCvb7jrejg/s72-c/sedekah.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-3319322255880432146</id><published>2011-06-04T17:13:00.001+09:00</published><updated>2011-06-22T16:51:05.230+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretanku'/><title type='text'>Tiga Putriku...♥♥♥</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-PUEuDkCoRE0/TendjmoEAEI/AAAAAAAAAKI/ltGmf_BgX6A/s1600/uhibbuka-fillah-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="151" src="http://2.bp.blogspot.com/-PUEuDkCoRE0/TendjmoEAEI/AAAAAAAAAKI/ltGmf_BgX6A/s200/uhibbuka-fillah-1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #d5a6bd;"&gt;Bak bunga-bunga indah di taman hatiku&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #d5a6bd; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #d5a6bd; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Pelengkap kebahagiaan dan kedamaianku sebagai seorang ibu&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #d5a6bd; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #d5a6bd; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Merekalah teman-temanku sehari-hari&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #d5a6bd; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #d5a6bd; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Pelipur laraku dengan senyuman polos dan tawa riang mereka&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #d5a6bd; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #d5a6bd; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Sekaligus menguji kesabaranku dengan 'ngeyel' nya mereka^^&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="fullpost" style="color: #d5a6bd;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: magenta;"&gt;Fathimah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; azZahro, putri pertama kami, anak yg manis dan rajin.. di usianya yg sudah 6 tahun ini dia semakin bisa nunjukkin kemampuannya untuk membantu umminya... dia dah pandai nyuci piring, tapi kalau dia lagi mood aja ◦°◦◦°◦нзнзнзнз◦°◦◦° , nyapu lantai, bahkan nyebokin dan mandiin hafshoh pun bisa... "Mi nanti kalau umi udah tua-tua, imah yang masak kan mi?" Tanya Fathimahku di suatu hari, Jazaakillaahilkhoyr ya sayang. Tahun ini Imah mw msk SD,dia semakin semangat, alhamdulillah Imah insya Allah sdh lebih siap... baarakallaahu fiik ya bintiy..&lt;br /&gt;&lt;b style="color: magenta;"&gt;&lt;br /&gt;Maryam&lt;/b&gt; ashShobiroh... putri kedua kami yg agak lebih keras sedikit wataknya dan gampang ngamuk... tapi dia putri yg manis dan suka nggemesin kalau lagi berceloteh...  "Mi anak sholehah itu kasih habis makannya kan mi?"...hehe,anak yg lucu dg postur tubuh yg agak gendut... sampe ibu tetangga gemes dan manggil dia "am bombat." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: magenta;"&gt;Hafshoh&lt;/b&gt; Amaturrohman... putri ketiga kami yg diberi tahi lalat cantik di pipi... yup kalau kedua kakaknya diberi pemanis lesung pipi oleh Pencipta nya... dara ketigaku ini alhamdulillah dianugrahi tahi lalat yg semakin membuat wajahnya manis^^ ...&lt;b style="color: #38761d;"&gt;Ya Allah sebagaimana Engkau Baguskan Penciptaan mereka Baguskanlah akhak-akhlak mereka..aamiin.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hafshoh yang super lincah... yang tingkahnya sering membuat orang mengurut dada, loncat sana sini, manjat tanpa perhitungan dan hasilnya ia sering jatuh bangun tapi tak pernah kapok. Saat ini usianya hampir 3 tahun, ngomongnya masih belepotan... tapi masyaAllah dia gak kalah semangat dengan dua kakaknya melantunkan ayat Al-Qur'an saat nonton video murottal anak di di hape maupun di laptop... hehe gemez dengernya... "Kalla uun cumma kalla uun "...(maksudnya Kalla saya'lamuun tsumma kalla saya'lamuun)... "Mi iyaaa?"... nggak berhenti nanya bahkan sampe ngambek kalau umminya belum mengiyakan... ^^. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baarakallaahu fiik Yaa Banaatiy...♥♥♥&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-3319322255880432146?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/3319322255880432146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/tiga-putriku.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/3319322255880432146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/3319322255880432146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/tiga-putriku.html' title='Tiga Putriku...♥♥♥'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-PUEuDkCoRE0/TendjmoEAEI/AAAAAAAAAKI/ltGmf_BgX6A/s72-c/uhibbuka-fillah-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-3735345434367943404</id><published>2011-06-04T12:45:00.001+09:00</published><updated>2011-06-04T12:50:02.343+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>Tangani Demam Pada Anak Secara Bijak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://ummushofiyya.files.wordpress.com/2011/05/thermometer-62899.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="153" src="http://ummushofiyya.files.wordpress.com/2011/05/thermometer-62899.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Demam merupakan suatu kondisi yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orangtua yang khawatir ketika buah hatinya terserang demam. Tak jarang, orangtua mengambil jalan pintas dengan mengandalkan obat penurun panas tiap kali anaknya mengalami demam. Padahal, tidak setiap kondisi peningkatan suhu serta merta perlu segera ditangani dengan obat. Untuk itu, perlu kiranya kita mengenal lebih dekat tentang demam, supaya kita bisa berlaku bijak dalam menyikapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Demam, Bukanlah Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang masih beranggapan bahwa demam merupakan penyakit. Maka tidak heran jika orangtua merasa sudah melakukan hal yang benar ketika memberikan obat penurun panas tiap kali suhu tubuh anaknya meningkat. Padahal, demam bukanlah penyakit yang bisa langsung sembuh hanya dengan pemberian obat penurun panas. Demam hanyalah gejala yang muncul untuk menginformasikan bahwa ada sesuatu yang “tidak beres” di dalam tubuh. Oleh karena itu, demam tentu tidak bisa diatasi hanya dengan menurunkannya saja, namun harus dicari dan diatasi apa yang sebenarnya menyebabkan munculnya demam tersebut. Demam pada anak umumnya disebabkan oleh batuk, pilek, radang tengorokan, diare (mencret), infeksi telinga tengah, dan penyakit akibat infeksi bakteri, virus atau kuman lainnya. Demam juga dapat disebabkan oleh dehidrasi (kekurangan cairan), kelainan darah, atau anak berada di tempat yang sangat panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demam, Banyak Manfaatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demam seringkali dianggap sebagai penyakit sehingga terkesan merugikan dan menyusahkan. Padahal, sebenarnya  banyak sekali manfaat demam bagi tubuh kita. Demam merupakan respon tubuh terhadap kuman, bakteri, atau virus yang masuk ke dalam tubuh. Ketika kuman, bakteri, atau virus masuk ke tubuh kita, sel-sel darah putih dalam tubuh memproduksi hormon interleukin yang kemudian berjalan ke otak untuk memberi perintah kepada hypothalamus (pusat pengatur suhu di otak) agar menaikkan suhu tubuh. Hal ini terjadi karena dengan suhu tubuh yang tinggi, sistem pertahanan tubuh akan meningkat dan lebih mampu memerangi infeksi. Demam juga bermanfaat karena dapat menurunkan kadar zat besi dalam tubuh, padahal kuman membutuhkan zat besi untuk hidup dan berkembang. Mekanisme ini dapat melemahkan kuman penyebab infeksi. Manfaat demam yang lain adalah dapat meningkatkan produksi interferon dan bahan antivirus lainnya dalam rangka melawan virus yang masuk ke tubuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Berlebihan Mengonsumsi Obat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, demam yang terjadi pada bayi dan anak kebanyakan disebabkan oleh infeksi virus yang bisa sembuh sendiri. Sehingga biasanya obat penurun panas tidak diperlukan, kecuali jika suhu tubuhnya terus meningkat. Beberapa orangtua seringkali terlalu cepat memutuskan untuk memberikan obat pada anaknya. Baru panas sedikit saja, orangtua sudah buru-buru meminumkan obat penurun panas. Padahal, ada aturan dalam meminumkan obat penurun panas. Obat penurun panas hanya diperlukan ketika suhu tubuh memang sudah mencapai 38,5°C atau lebih. Orangtua tidak perlu khawatir ketika anak mengalami demam tapi masih aktif, lincah, dan tetap doyan makan. Adakalanya tubuh mampu mengatasi, sehingga demam bisa turun dengan sendirinya tanpa penggunaan obat sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain batasan suhu tubuh, orangtua juga harus memperhatikan waktu pemberian. Obat penurun panas seperti parasetamol misalnya, hanya boleh diberikan dengan selang waktu 6 jam. Jika sangat terpaksa, boleh memberikannya dengan selang waktu 4 jam. Seringkali, orangtua yang tidak faham, langsung saja meminumkan parasetamol lagi padahal baru 2 jam yang lalu anak sudah minum parasetamol. Akibatnya, dalam sehari anak meminum penurun panas berkali-kali hanya karena orangtua khawatir suhu tubuh buah hatinya tidak kunjung turun. Padahal, selama penyebab demamnya belum teratasi, demam akan muncul lagi begitu efek obat penurun panasnya hilang. Biasanya, parasetamol berefek 30 menit setelah pemberian sampai 2 jam kemudian. Selain parasetamol, obat penurun panas yang biasanya diberikan adalah ibuprofen. Satu hal yang perlu diingat, sebaiknya menghindari penggunaan aspirin untuk menurunkan panas pada anak, karena dikhawatirkan muncul efek samping yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Bisa Kita Lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan ketika anak mengalami demam. Tindakan sederhana ini bisa dilakukan di rumah dan insya Allah bermanfaat dalam menangani demam anak kita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukur suhu tubuh anak menggunakan termometer setiap 4 jam sekali. Pengukuran bisa dilakukan di ketiak, mulut, telinga, atau dubur. Jangan hanya mengandalkan rabaan telapak tangan pada permukaan tubuh anak, karena bisa jadi teraba hangat tapi sebenarnya suhu tubuh anak sudah sangat tinggi.&lt;br /&gt;Hindarkan anak dari pakaian tebal, jaket, atau selimut, karena justru akan mempersulit hilangnya panas dari tubuh anak kita. Ganti pakaian anak dengan pakaian yang tipis, longgar, dan nyaman dipakai.&lt;br /&gt;Berikan anak lebih banyak cairan (air minum, jus buah, kuah sayur), supaya tidak terjadi dehidrasi atau kekurangan cairan. Pada bayi atau anak yang masih menyusu, berikan ASI sesering mungkin.&lt;br /&gt;Usahakan agar anak mau makan. Suapi anak dengan makanan yang dia sukai dan tentunya pilih yang mudah dicerna.&lt;br /&gt;Beri kesempatan anak untuk beristirahat dengan tenang. Istirahat yang cukup sangat diperlukan untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang lemah.&lt;br /&gt;Ciptakan kondisi yang sejuk di sekitar anak, dan hindarkan udara atau hawa panas dari anak kita. Pastikan ruangan anak dalam keadaan bersih dan sirkulasi udaranya lancar. Jika perlu, ganti sprei dan sarung bantal-guling dengan yang bersih,&lt;br /&gt;Jika suhu tubuh anak sangat panas, kompres dengan air hangat pada bagian kening, ketiak leher, dan lipatan paha. Hindarkan mengompres dengan air dingin, hal ini akan menyebabkan tubuh makin menggigil untuk menaikkan suhunya karena mengira suhu di luar tubuhnya lebih dingin. Jika kondisi anak masih memungkinkan (tidak dalam kondisi yang sangat lemah), bisa juga dengan merendam anak pada ember atau bak yang sudah diisi dengan air hangat.&lt;br /&gt;Waspadai terjadinya kejang, apalagi jika sebelumnya anak pernah kejang ketika demam. Segera turunkan demam anak, jangan sampai peningkatan suhu tubuh tersebut memicu terjadinya kejang. Namun orangtua tidak perlu khawatir berlebihan, mengingat kejadian demam yang sampai menyebabkan kejang sangat jarang.&lt;br /&gt;Berikan obat penurun panas jika suhu tubuh anak mencapai 38,5°C atau lebih, dan anak kelihatan rewel atau tidak nyaman. Untuk itu, perlu kiranya orangtua mempunyai persediaan obat penurun panas di kotak obat. Pemberian obat penurun panas harus sesuai dengan dosis yang dianjurkan dokter. Dosis obat pada anak lebih tepat jika dihitung dengan berpatokan pada berat badan (bukan usia). Oleh karena itu, tanyakan dosis obat pada dokter atau apoteker sebelum meminumkannya pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap Tenang dan Jangan Panik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun nampaknya sepele, demam pada anak bisa membuat orangtua panik. Kurangnya pengetahuan tentang demam membuat orangtua langsung saja membawa anak ke dokter, padahal banyak hal yang bisa dilakukan dalam menghadapi demam. Menolong anak sesegera mungkin ketika terjadi demam merupakan cara yang terbaik. Bahkan, seringkali penanganan yang tepat dapat mempercepat pemulihan kondisi anak. Paling tidak, orangtua bisa memantau perkembangan kondisi anak dan membuat anak merasa lebih nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam waktu 3 hari demam belum membaik atau anak kelihatan sangat lemah, segera bawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Ceritakan kondisi anak sedetail mungkin pada dokter yang memeriksa, seperti kapan mulai demam, apakah demamnya naik turun atau demam tinggi yang hanya turun ketika diberi obat penurun panas, apakah disertai muntah atau mimisan, apakah anak diare atau justru sulit buang air besar. Informasi dari orangtua sangat bermanfaat bagi dokter dalam menegakkan diagnosis dan menentukan pilihan terapi. Semoga penjelasan tentang demam ini bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan kita dalam menjaga kesehatan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: dr. Avie Andriyani (dimuat di majalah As Sunnah edisi 12/XIV/1432H/2011M)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumarmo S, Buku Infeksi dan Penyakit Tropis Edisi 1, Tahun 2002, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.&lt;br /&gt;Dr. Tony Smith, dr. Sue Davidson (editor). Demam pada Anak-anak. Buku “Dokter di Rumah Anda” (terjemahan). Tahun 2009. Penerbit Dian Rakyat, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;© 2011. Artikel http://ummushofiyya.wordpress.com&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://ummushofiyya.wordpress.com/2011/05/02/tangani_demam_secara_bijak/"&gt;Dokter Avie &lt;/a&gt;     &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-3735345434367943404?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/3735345434367943404/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/tangani-demam-pada-anak-secara-bijak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/3735345434367943404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/3735345434367943404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/tangani-demam-pada-anak-secara-bijak.html' title='Tangani Demam Pada Anak Secara Bijak'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-5865553289734042274</id><published>2011-06-04T09:55:00.002+09:00</published><updated>2011-06-04T10:07:37.463+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adab'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlak'/><title type='text'>Tentang Persahabatan.... ♥♥♥</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-QjSBxipixrw/TemAd70D4OI/AAAAAAAAAKA/-f8XBHd4yhc/s1600/purpleflw.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="177" src="http://2.bp.blogspot.com/-QjSBxipixrw/TemAd70D4OI/AAAAAAAAAKA/-f8XBHd4yhc/s200/purpleflw.gif" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: purple;"&gt;Tiada mutiara sebening cinta..&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;&lt;b&gt;Tiada sutra sehalus kasih sayang..&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;&lt;b&gt;Tiada embun sesuci ketulusan hati..&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: purple;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: purple;"&gt;Dan tiada hubungan seindah persahabatan..&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;(&lt;a href="https://www.facebook.com/ummuirfan/posts/222954811066544"&gt;seluas laut ummu irfan&lt;/a&gt;)&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• · ♡·♥ ♥·♡ · • ° Innii Uhibbuki Fillaah ° • · ♡·♥ ♥·♡ · • °&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As Shahihah 927)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya.” (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi 13/70)&lt;br /&gt;Dan ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 499)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau melanjutkan : “Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (karena seperti dia).” (Al Ibanah 2/477 nomor 501)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Darda mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya.” (Al Ibanah 2/464 nomor 459-460)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis Salam bersabda: “Jangan menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (Al Ibanah 2/480 nomor 514)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qatadah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al Ibanah 2/477 nomor 500)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syu’bah berkata, aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan) bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai. (Al Ibanah 2/452 nomor 419-420)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al A’masy mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya Salafus Shalih tidak menanyakan (keadaan) seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya, dan teman-temannya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 498)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman.” (Al Ibanah 2/479 nomor 509-510)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As Shahihah 927)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya.” (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi 13/70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 499)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau melanjutkan : “Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (karena seperti dia).” (Al Ibanah 2/477 nomor 501)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Darda mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya.” (Al Ibanah 2/464 nomor 459-460)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis Salam bersabda: “Jangan menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (Al Ibanah 2/480 nomor 514)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qatadah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al Ibanah 2/477 nomor 500)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syu’bah berkata, aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan) bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai. (Al Ibanah 2/452 nomor 419-420)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al A’masy mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya Salafus Shalih tidak menanyakan (keadaan) seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya, dan teman-temannya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 498)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman.” (Al Ibanah 2/479 nomor 509-510)... (&lt;a href="http://akhwat-kreatif.blogspot.com/"&gt;Ayu Syifa'&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost" style="color: #674ea7;"&gt;&lt;b&gt; اَلْحُبُّ فِي اللهِ شَجَرَةٌ شَامِخَةٌ رَاسِخَةٌ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="color: #674ea7;"&gt;&lt;b&gt; تَنْبُتُ فِي القُلُوْبِ الطَّاهِرَةِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="color: #674ea7;"&gt;&lt;b&gt; تُسْقَى بِالعِلْمِ وَتَحْلُو بِالصِّدْقِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="color: #674ea7;"&gt;&lt;b&gt; وَتَكْبُرُ بِحُسْنِ الظَّنِّ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="color: #674ea7;"&gt;&lt;b&gt; ثَمَرَتُهَا مَنَابِرٌ مِنْ نُوْرٍ يَوْمَ القِيَامَةِ&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="color: #674ea7;"&gt;&lt;b&gt; هَلْ نَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا ثُمَّ نَقُوْمُ بِحَقِّهَا؟&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Persaudaraan dan percintaan yang didasari ikhlas karena&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Allah ibarat pohon yang menjulang tinggi ke langit dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; akarnya menghunjam ke bumi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pohon tersebut tumbuh di hati hati yang suci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pohon tersebut disirami dengan ilmu, terasa manis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; dengan kejujuran dan menjadi besar dengan baik sangka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Buahnya mimbar dari cahaya di hari Kiamat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Apakah kita siap bernaung di bawah pohon tersebut?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Apakah kita siap melaksanakan hak-hak persahabatan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Surat-surat Cinta, hal 45, Fariq Gasim Anuz, Cet. 2, 2010, Penerbit: Darus Sunnah, Jakarta).... (&lt;a href="http://fariqgasimanuz.wordpress.com/2010/08/02/persaudaraan-dan-percintaan-karena-allah/"&gt;Ust. Fariq&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-5865553289734042274?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/5865553289734042274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/tentang-persahabatan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/5865553289734042274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/5865553289734042274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/tentang-persahabatan.html' title='Tentang Persahabatan.... ♥♥♥'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-QjSBxipixrw/TemAd70D4OI/AAAAAAAAAKA/-f8XBHd4yhc/s72-c/purpleflw.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-8334850685907618776</id><published>2011-06-03T18:29:00.000+09:00</published><updated>2011-06-03T18:29:13.682+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Inilah Potret Mereka Yang Beribadah Di Kuburan [Kuburiyyun]</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-uVd0V6tXqbU/TXRT7rFYQTI/AAAAAAAAAXw/ziDJ1sCliQY/s1600/28344_396657577857_203164362857_4284613_2038277_n.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581178122861560114" src="http://1.bp.blogspot.com/-uVd0V6tXqbU/TXRT7rFYQTI/AAAAAAAAAXw/ziDJ1sCliQY/s400/28344_396657577857_203164362857_4284613_2038277_n.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 312px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kaum Yahudi membaca Kitab Talmud di sisi kuburan&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-YP6XQ8239tE/TasEKMjhIOI/AAAAAAAAA8E/iz0svknX6Vw/s1600/35144_127383197304665_100000989550862_135727_3388996_n.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596571535153373410" src="http://3.bp.blogspot.com/-YP6XQ8239tE/TasEKMjhIOI/AAAAAAAAA8E/iz0svknX6Vw/s400/35144_127383197304665_100000989550862_135727_3388996_n.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 213px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kaum Sufi bertawassul  di sisi kuburan&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-PozF7neQPZQ/TXRQqxeUO9I/AAAAAAAAAXI/Y4hgMaelvUU/s1600/n661880665_999042_9674.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581174533984107474" src="http://2.bp.blogspot.com/-PozF7neQPZQ/TXRQqxeUO9I/AAAAAAAAAXI/Y4hgMaelvUU/s400/n661880665_999042_9674.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 300px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5S8NsGHwmLA/TaQwogc9MJI/AAAAAAAAA4c/RdZOrIIdyFA/s1600/sujud-kpd-kubur.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594650109565284498" src="http://2.bp.blogspot.com/-5S8NsGHwmLA/TaQwogc9MJI/AAAAAAAAA4c/RdZOrIIdyFA/s400/sujud-kpd-kubur.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 271px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;small&gt;Wanita Syi'ah sedang sujud di kuburan&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-GEQgLLJ7XWQ/TXSh_Dc6DeI/AAAAAAAAAZI/P4L70vfJnIE/s1600/ahmadinejad_khomeini.jpeg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581263942849269218" src="http://1.bp.blogspot.com/-GEQgLLJ7XWQ/TXSh_Dc6DeI/AAAAAAAAAZI/P4L70vfJnIE/s400/ahmadinejad_khomeini.jpeg" style="cursor: pointer; display: block; height: 317px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-qHVHXb6w6_k/TXRQXrvN9DI/AAAAAAAAAXA/Lb8d60cgO3w/s1600/30158_1136874917771_1704323121_267950_387197_n.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581174206026871858" src="http://2.bp.blogspot.com/-qHVHXb6w6_k/TXRQXrvN9DI/AAAAAAAAAXA/Lb8d60cgO3w/s400/30158_1136874917771_1704323121_267950_387197_n.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 267px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kaum  Syi'ah beribadah di sisi kuburan, juga perhatikan tanah kecil yang  berasal dari tanah Karbala yang dijadikan alas untuk sujud&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Pcx-wfxPhNY/TXRPo3G7o5I/AAAAAAAAAW4/SplF5WISY6A/s1600/keramaian-malam-paskah.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581173401625273234" src="http://1.bp.blogspot.com/-Pcx-wfxPhNY/TXRPo3G7o5I/AAAAAAAAAW4/SplF5WISY6A/s400/keramaian-malam-paskah.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 268px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tradisi  Paskah di Kalimantan Tengah. Selain selalu menyelenggarakan karnaval  atau pawai di jalan, mereka punya kebiasaan ziarah ke makam. Ziarah ke  makam yang biasa dilakukan banyak orang pada siang hari itu. Tetapi  tradisi disini berbeda. Pada malam Paskah (Sabtu Suci) orang-orang  berbondong-bondong mengunjungi makam keluarga mereka untuk menyalakan  lilin dan menaburkan bunga diatas makam. Disitu keluarga berkumpul  sepanjang malam hingga subuh. Pada waktu subuh sekitar pukul 5 pagi  mereka mengadakan ibadah Paskah didekat makam yang dipasang tenda.  Biasanya gereja yang membuat tenda itu untuk ibadah. Tidak heran jika  hari Minggu Paskah di jam regular gereja-gereja terutama GKE (Gereja  Kalimantan Evangelis) hanya didatangi sedikit jemaat, karena mereka  rata-rata sudah ibadah subuh tadi.&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ihCd1JvzC3U/TXRW_BpBSUI/AAAAAAAAAX4/9CWNiHiHVoM/s1600/195_besar.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581181478991120706" src="http://4.bp.blogspot.com/-ihCd1JvzC3U/TXRW_BpBSUI/AAAAAAAAAX4/9CWNiHiHVoM/s400/195_besar.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 270px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 360px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-m5X3ZQYp9d4/TXRPFhjrcWI/AAAAAAAAAWw/vMb9az5NpSc/s1600/Ceng%2BBeng%2Ba1.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581172794544845154" src="http://4.bp.blogspot.com/-m5X3ZQYp9d4/TXRPFhjrcWI/AAAAAAAAAWw/vMb9az5NpSc/s400/Ceng%2BBeng%2Ba1.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 265px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Acara  Cing Bing yang biasanya jatuh pada 5 April namun ada juga yang  melakukan 10 hari sebelum dan 10 hari sesudah hari H. Layaknya perayaan  Imlek masih tetap dilaksanakan untuk berkumpul keluarga menghormati  arwah leluhur sebagai tanda bakti kepada orang tua atau mengingat  anggota keluarga yang telah meninggal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada kesempatan Cing Bing, biasanya keluarga besar berkumpul bahkan yang berada di luar kota menyempatkan pulang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana  makam menjadi sangat ramai karena kedatangan peziarah yang jumlahnya  berlipat-lipat. Kemudian mereka membersihkan makam dan selanjutnya  melakukan upacara penghormatan kepada arwah leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peziarah  biasanya akan membawa beberapa macam kue dan buah untuk persembahan.  Selain itu melakukan bakar uang kertas (uang untuk sembahyang).&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-4RPr57p6dWg/TXRTBvJdeYI/AAAAAAAAAXo/lUUHHSQq_w8/s1600/quran_kubur.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581177127520008578" src="http://2.bp.blogspot.com/-4RPr57p6dWg/TXRTBvJdeYI/AAAAAAAAAXo/lUUHHSQq_w8/s400/quran_kubur.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 213px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebagian ummat Islam ternyata ada juga yang membaca al Qur'an [ biasanya surah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yaasin&lt;/span&gt; ] di sisi kuburan&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-R7Du1srqY-g/TXRStsZvqqI/AAAAAAAAAXg/5og1yX5U0fY/s1600/ZiarahGusDur020110-1.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581176783185619618" src="http://4.bp.blogspot.com/-R7Du1srqY-g/TXRStsZvqqI/AAAAAAAAAXg/5og1yX5U0fY/s400/ZiarahGusDur020110-1.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 256px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote style="color: red;"&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nauzubillah !&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;Apakah agama Islam &lt;/span&gt;tidak ada bedanya &lt;span style="color: #000099;"&gt;dengan agama yang lain&lt;/span&gt; ?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;big&gt;Dalam Shahih Muslim (no. 780) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;big&gt;“Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat Al Baqarah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertiannya adalah :&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;big&gt;Rumah yang tidak dibacakan ayat-ayat Al Qur'an adalah seperti Kuburan. Arti secara kebalikannya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;[&lt;span style="color: #006600;"&gt;Mafhum Mukhalafah&lt;/span&gt;]&lt;/span&gt; bahwa &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;Kuburan bukanlah tempat untuk membaca ayat-ayat Al Qur'an&lt;/span&gt;.﻿&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;div style="font-weight: bold; text-align: center;"&gt;&lt;big&gt;عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;big&gt;Nabi   shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jadikanlah (sebagian dari)   shalat kalian ada di rumah kalian, dan jangan kalian jadikan ia sebagai   kuburan."﻿ [HR. Bukhari]&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;Dari sahabat Jundab bin Abdullah Rasulullah sebelum meninggal pernah berwasiat:&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;big style="font-weight: bold;"&gt;أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا القُبُوْرَ مَسَاجِدَ فَإِنِّي أَنْهاَكُمْ عَنْ ذَلِكَ (رواه مسلم&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;big&gt;“Ingat-ingatlah,  maka janganlah kalian semua menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat  ibadat). Karena sesungguhnya aku melarang kalian semua dari perbuatan  itu” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda:&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;big style="font-weight: bold;"&gt;لاَ تَجْعَلُواْ بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا. وَلاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِى عِيْدًا (رواه أبوداود&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;big&gt;“Janganlah  engkau jadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan (sepi dari ibadah) dan  jangan engkau jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan (HR. Abu Dawud).&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;﻿&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;big style="font-weight: bold;"&gt;لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا &lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;big&gt;Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.” (HR. At-Tirmizi no. 2695)&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;big style="font-weight: bold;"&gt;مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;big&gt;“Barangsiapa  yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud  no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah:  1/676)﻿&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anwar Baru Belajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber:&lt;a href="http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/03/kaum-yahudi-membaca-kitab-talmud-di.html"&gt; hijrahdarisyirikdanbidah&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-8334850685907618776?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/8334850685907618776/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/inilah-potret-mereka-yang-beribadah-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/8334850685907618776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/8334850685907618776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/inilah-potret-mereka-yang-beribadah-di.html' title='Inilah Potret Mereka Yang Beribadah Di Kuburan [Kuburiyyun]'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-uVd0V6tXqbU/TXRT7rFYQTI/AAAAAAAAAXw/ziDJ1sCliQY/s72-c/28344_396657577857_203164362857_4284613_2038277_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-347705953377608777</id><published>2011-06-03T12:17:00.003+09:00</published><updated>2011-06-03T13:00:01.823+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Petuah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Kutulis Surat Ini Untukmu...</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.glitter-graphics.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="161" src="http://dl5.glitter-graphics.net/pub/193/193365lv6dpdqm4h.gif" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style="color: magenta;"&gt;Untuk anakku yang ku sayangi di bumi Alloh ta’ala&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.glitter-works.org/" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;Segala puji ku panjatkan ke hadirat Alloh ta’ala, yang telah memudahkan ibu untuk beribadah kepada-Nya.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: magenta;"&gt;&lt;b&gt;Sholawat serta salam, ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, keluarga, dan para sahabatnya.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;surat ini datang dari ibumu, yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang, ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali menulis, setiap itu pula goresan tulisan ini terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula, hati ini terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak. Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau akan remas kertas ini, lalu engkau robek-robek, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati ibu, dan telah engkau robek pula perasaannya.&lt;span class="fullpost"&gt;  Wahai anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua ibu sangat mengerti arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini, sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur, berdiri, makan, dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengandungmu wahai anakku, pada kondisi lemah di atas lemah. Bersamaan dengan itu, aku begitu gembira tatkala merasakan dan melihat terjalan kakimu, atau balikan badanmu di perutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa puas, setiap aku menimbang diriku, karena bila semakin hari semakin berat perutku, berarti dengan begitu engkau sehat wal afiat di dalam rahimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba pada malam itu, yang aku tidak bisa tidur sekejap pun, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan, dan merasakan takut yang tidak bisa dilukiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit itu berlanjut, sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula, aku melihat kematian di hadapanku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia, dan engkau lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika engkau lahir, menetes air mata bahagiaku. Dengan itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah, dengan bertambah kuatnya sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku raih dirimu, sebelum ku raih minuman. Aku peluk cium dirimu, sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah berlalu setahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku, memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku, kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur, demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku selalu melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat, adalah setiap permintaanmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, selama itu pula, aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai… menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti… menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah… dan mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selau memperhatikan dirimu, hari demi hari, hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu, wahai anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala itu, aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan, demi mencari pasangan hidupmu, semakin dekat hari perkawinanmu anakku, semakin dekat pula hari kepergianmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala itu, hatiku serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka. Tangis telah bercampur pula dengan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan… karena engkau telah mendapatkan jodoh… karena engkau telah mendapatkan pendamping hidup… Sedangkan sedih karena engkau adalah pelipur hatiku, yang akan berpisah sebentar lagi dari diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pun berlalu, seakan-akan aku menyeretnya dengan berat, kiranya setelah perkawinan itu, aku tidak lagi mengenal dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran, aku benar-benar tidak mengenalmu lagi, karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa lama hari-hari yang ku lewati, hanya untuk melihat rupamu. Detik demi detik ku hitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi penantianku seakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau yang akan menelponku. Setiap suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa engkaulah yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi semua itu tidak ada, penantianku sia-sia, dan harapanku hancur berkeping. Yang ada hanya keputus-asaan… Yang tersisa hanya kesedihan dari semua keletihan yang selama ini ku rasakan, sambil menangisi diri dan nasib yang memang ditakdirkan oleh-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibumu tidaklah meminta banyak, ia tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ibu pinta kepadamu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ibu memohon kepadamu nak, janganlah engkau pasang jerat permusuhan dengan ibumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan engkau buang wajahmu, ketika ibumu hendak memandang wajahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ibu tagih kepadamu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana, sekalipun hanya sedetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi. Atau sekiranya terpaksa engkau datang sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah bungkuk pula punggungku… bergemetar tanganku… karena badanku telah dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit… Berdirinya seharusnya telah dipapah… duduk pun seharusnya dibopong…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, yang tidak pernah sirna -wahai anakku- adalah cintaku kepadamu… masih seperti dulu… masih seperti lautan yang tidak pernah kering… masih seperti angin yang tidak pernah berhenti…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan, sedangkan ibumu, mana balas budimu, mana balasan baikmu?! bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa?! bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba?! Dan bukankah Alloh ta’ala, telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هل جزاء الإحسان إلا الإحسان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah balasan kebaikan, melainkan kebaikan yang serupa?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai begitukah keras hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak?! Karena engkau adalah buah dari kedua tanganku… Engkau adalah hasil dari keletihanku… Engkaulah laba dari semua usahaku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah suatu hari aku salah dalam bergaul denganmu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang terhina dari sekian banyak pembantu-pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatkah engkau sekarang menganugerahkan sedikit kasih sayang demi mengobati derita orang tua yang malang ini?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الله يحب المحسنين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku terasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan, bahwa engkau adalah laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hatimu tidak tersentuh, terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan, dan berpakaian kedukaan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Tahukah engkau itu?! Karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… Karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… Karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibumu inilah sebenarnya pintu surga, maka titilah jembatan itu menujunya… Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, kemaafan, dan balas budi yang baik… Semoga aku bertemu denganmu di sana, dengan kasih sayang Alloh ta’ala sebagaimana di dalam hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi. Sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan oleh Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenalmu sejak dahulu… semenjak engkau telah beranjak dewasa… aku tahu engkau sangat tamak dengan pahala… engkau selalu cerita tentang keuatamaan berjamaah… engkau selalu bercerita terhadapku tentang keutamaan shof pertama dalam sholat berjamaah… engkau selalu mengatakan tentang keutamaan infak, dan bersedekah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi satu hadits yang telah engkau lupakan… satu keutamaan besar yang telah engkau lalaikan… yaitu bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Mas’ud, ia mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت: يا رسول الله أي العمل أفضل؟ قال: الصلاة على ميقاتها. قلت: ثم أيُّ؟ قال: ثم بر الوالدين. قلت: ثم أيُّ؟ قال: الجهاد في سبيل الله. فسكت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو استزدته لزادني. (متفق عليه)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-: Wahai Rosululloh, amal apa yang paling mulia? Beliau menjawab: sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh. Lalu aku pun diam (tidak bertanya) kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lagi, dan sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah hadits Abdulloh bin Mas’ud…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah aku, ibumu… pahalamu… tanpa engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak berinfak dan bersedekah… aku inilah pahalamu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah engkau mendengar, seorang suami yang meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, berangkat jauh ke negeri seberang, ke negeri entah berantah untuk mencari tambang emas, guna menghidupi keluarganya?! Dia salami satu persatu, dia ciumi isterinya, dia sayangi anaknya, dia mengatakan: Ayah kalian, wahai anak-anakku, akan berangkat ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, ayah akan mencari emas… Rumah kita yang reot ini, jagalah… Ibu kalian yang tua renta ini, jagalah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkatlah suami tersebut, suami yang berharap pergi jauh, untuk mendapatkan emas, guna membesarkan anak-anaknya, untuk membangun istana mengganti rumah reotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi apa yang terjadi, setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, yang ia bawa hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal dalam usahanya. Pulanglah ia kembali ke kampungnya. Dan sampailah ia ke tempat dusun yang selama ini ia tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi yang terjadi di tempat itu, setibanya di lokasi rumahnya, matanya terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubuk reot yang ditempati oleh anak-anak dan keluarganya. Akan tetapi dia melihat, sebuah perusahaan besar, tambang emas yang besar. Jadi ia mencari emas jauh di negeri orang, kiranya orang mencari emas dekat di tempat ia tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah perumpaanmu dengan kebaikan, wahai anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau berletih mencari pahala… engkau telah beramal banyak… tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar… di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu masuk surga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibumu adalah orang yang dapat menghalangimu untuk masuk surga, atau mempercepat amalmu masuk surga… Bukankah ridloku adalah keridloan Alloh?! Dan bukankan murkaku adalah kemurkaan Alloh?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku takut, engkaulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- di dalam haditsnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه قيل من يا رسول الله قال من أدرك والديه عند الكبر أحدهما أو كليهما ثم لم يدخل الجنة (رواه مسلم)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan celakalah seseorang! Ada yang bertanya: Siapakah dia wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Dialah orang yang mendapati orang tuanya saat tua, salah satu darinya atau keduanya, akan tetapi tidak membuat dia masuk surga. (HR. Muslim 2551)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakalah seorang anak, jika ia mendapatkan kedua orang tuanya, hidup bersamanya, berteman dengannya, melihat wajahnya, akan tetapi tidak memasukkan dia ke surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan adukan duka ini kepada Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan, yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak akan melakukannya wahai anakku… tidak… bagaimana aku akan melakukannya, sedangkan engkau adalah jantung hatiku… bagaimana ibu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku… bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunlah nak… bangunlah… bangkitlah nak… bangkitlah… uban-uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa, sehingga engkau akan menjadi tua pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الجزاء من جنس العمل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu pula orang akan berbuat kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الجزاء من جنس العمل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau telah tanamkan. Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingin engkau menulis surat ini… aku tidak ingin engkau menulis surat yang sama, dengan air matamu kepada anak-anakmu, sebagaimana aku telah menulisnya kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bertakwalah kepada Alloh… takutlah engkau kepada Alloh… berbaktilah kepada ibumu… peganglah kakinya, sesungguhnya surga berada di kakinya… basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya… kencangkan tulang ringkihnya… dan kokohkan badannya yang telah lapuk…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah engkau membaca surat ini, terserah padamu. Apakah engkau sadar dan engkau akan kembali, atau engkau akan merobeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa shollallohu ala nabiyyina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibumu yang merana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh- dan akan disambung dengan jawaban si anak kepada sang ibu) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://addariny.wordpress.com/2010/02/05/wahai-anakku/#comment-1224"&gt;Ust. Ad-Dariny&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-347705953377608777?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/347705953377608777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/kutulis-surat-ini-untukmu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/347705953377608777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/347705953377608777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/kutulis-surat-ini-untukmu.html' title='Kutulis Surat Ini Untukmu...'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-4964740141665465658</id><published>2011-06-03T11:15:00.001+09:00</published><updated>2011-06-18T21:49:57.613+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jejak Peradaban Islam'/><title type='text'>Masjid Al-Aqsha</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-tULqEdxU7NU/Teg6zMADtqI/AAAAAAAAAJI/ZQn5LOFn6co/s1600/kompleks%2Bmasjid%2Bal-qsha.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="242" src="http://2.bp.blogspot.com/-tULqEdxU7NU/Teg6zMADtqI/AAAAAAAAAJI/ZQn5LOFn6co/s320/kompleks%2Bmasjid%2Bal-qsha.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Gambar Kompleks Al-Haram Asy-Syarif&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #444444; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Masjid Al Aqsha (secara harfiah: "masjid terjauh") adalah salah satu tempat suci dalam agama Islam. Masjid ini terletak di kota Al Quds (Yerusalem), negeri Palestina.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Negeri para Nabi 'alaihimussalaam, yaitu Nabi Ibrohin, Musa, Daud, Sulaiman, dan Isa. Masjid ini merupakan kiblat pertama kaum muslimin, sebelum turunnya perintah untuk berkiblat menghadap Ka'bah  di Msijidil Haram pada tahun 2 H. Disini juga Dajjal akan dibinasakan melalui tangan Nabi Isa 'alaihissalaam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid ini berada dalam kompleks Asy-Syarif (tanah suci yang mulia). Dalam satu kompleks ini, terdapat juga Kubah Ash Shakhrah, yaang di dalamnya terdapat batu Ash Shakhrah. Dalam peristiwa Isra' Mi'raj, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menaiki Al Buraq dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Setelah itu, beliau diangkat ke Sidratul Muntaha. Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa batu yang menjadi pijakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika diangkat ke Sidratul Muntaha itulah batu Ash Shakhrah. Namun, keyakinan ini tidak memiliki landasan yang shahih, bahkan haditsnya palsu.&lt;span class="fullpost"&gt; Banyak Muslimin yang salah mengira bangunan berkubah emas ini sebagai Masjidil Aqsha. Padahal Masjidil Aqsha adalah kubahnya yang berwarna perak gelap. Namun Kubah-kubah itu tentunya bukan bangunan dan ajaran para Nabi 'alaihimussalaam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-v1Bgm-lWRH8/TehB_cdXheI/AAAAAAAAAJY/aHA4lqFshjI/s1600/350px-Dome_of_the_Rock1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-v1Bgm-lWRH8/TehB_cdXheI/AAAAAAAAAJY/aHA4lqFshjI/s320/350px-Dome_of_the_Rock1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Gambar Kubah Ash-Shakhra&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keutamaan Masjidil Aqsha&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Dzar radhiallaahu 'anhu, beliau berkata, &lt;i&gt;"Kami saling bertukar pikiran tentang mana yang lebih utama, msjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam atau Baitul Maqdis, sedangkan di sisi kami ada Rasulullah shallaahu 'alaihi wasallam. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Satu shalat di masjidku lenih utama dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat shalat yang baik. Dan hampir-hampir tiba masanya, seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya (dalam riwayat lain: seperti busurnya) dari tempat itu terlihat Baitul Maqdis lebih baik baginya dari dunia seisinya" &lt;/i&gt;&lt;b&gt;[HR Al Hakim dishahihkan Asy Syaikh Al-Albani]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-5F8LdZGJNw8/TehCqQGhY1I/AAAAAAAAAJg/hHmF4-c1NUs/s1600/alaqsa1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="226" src="http://1.bp.blogspot.com/-5F8LdZGJNw8/TehCqQGhY1I/AAAAAAAAAJg/hHmF4-c1NUs/s320/alaqsa1.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Gambar Masjid Al Aqsha&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan, shalat di Masjid Nabawi seperti empat shalat di Masjid Aqsha. Karena shalat di Masjid Nabawi berpahala 1000 kali dibanding masjid lainnya, maka pahala shalat di Masidil Aqsha setara dengan250 kali (seperempat dari masjid Nabawi) dibanding shalat di masjid lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, beliau berkata, Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;"Tidak boleh bersusah-payah bepergian (dengan keyakinan tempat tertentu memiliki keistimewaan untuk ibadah padanya -red), kecuali ke tiga masjid, (yaitu), Masijidil Haram, Masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,  dan Masjidil Aqsha."&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt; [HR Al Bukhari  dan Muslim]&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekarang keberadaan  Masjidil Aqsha dirong-rong oleh orang-orang Yahudi sejak mereka menduduki bagian Timur Yerusalem pada 5 Juni 1967. Mereka meratakan bangunan-bangunan kaum muslimin dan melarang kaum muslimin untuk membangun pemukiman. Mereka juga mengganggu orang Arab Palestina agar meninggalkan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah Azza Wa Jalla, segera memberikan kemenangan kepada&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;kaum muslimin di Palestina, dan segera membinasakan kaum Yahudi terlaknat yang telah mendzalimi kaum muslimin disana.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;(Ristyandani)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Diketik ulang dari majalah Tashfiyah edisi 04 Tahun 1432H-2011M &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3133017090070078826-4964740141665465658?l=bintuzainuddin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/feeds/4964740141665465658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/masjid-al-aqsha.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/4964740141665465658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3133017090070078826/posts/default/4964740141665465658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintuzainuddin.blogspot.com/2011/06/masjid-al-aqsha.html' title='Masjid Al-Aqsha'/><author><name>Wa Ode Nurdiana Z.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07010693802402012815</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_iEjrPvv5VyQ/SxMxpREPWpI/AAAAAAAAAAY/wnuv8MjNBXA/S220/nurdiana_001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-tULqEdxU7NU/Teg6zMADtqI/AAAAAAAAAJI/ZQn5LOFn6co/s72-c/kompleks%2Bmasjid%2Bal-qsha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3133017090070078826.post-8503451023266002158</id><published>2011-06-02T15:45:00.000+09:00</published><updated>2011-06-02T15:45:53.660+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Muslim'/><title type='text'>Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu Padahal Ia Amat Baik Bagimu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-HBCCdfgL1gM/TecwyAw-_EI/AAAAAAAAAJA/vZrOUvQy82A/s1600/Sunset.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-HBCCdfgL1gM/TecwyAw-_EI/AAAAAAAAAJA/vZrOUvQy82A/s200/Sunset.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Sulaiman bin Muhammad bin Abdullah Al-’Utsaimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, sebelum ada vaksinasi, cacar adalah salah satu penyakit yang tersebar di mana-mana, dan atas kehendak Allah Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus segala sesuatu, sering kali (penyakit cacar itu) mengakibatkan kematian di kalangan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, di antara mereka ada yang terjangkit bencana ini; seorang lelaki berumur 6 tahun dari sebuah dusun di utara kota Buraidah di wilayah Al-Qashim. Peristiwa ini terjadi di abad 14 H. Akibatnya, ia mengalami kebutaan total dan berwajah bopeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak ini tinggal di tengah saudara-saudaranya yang bekerja sebagai petani di sawah. Dia sering berlari-lari di belakang mereka, hendak mengejar mereka saat berjalan bersama. Akan tetapi, tentu saja hal ini sering kali menyebabkannya tersandung dan terjerembab di mana-mana, lalu terluka. Namun, ia segera bangkit mengejar arah datangnya suara mereka, lalu ia menabrak pohon di mana-mana, sementara saudara-saudaranya hanya menertawainya ketika ia jatuh, bahkan (mereka) mengejeknya, “Buta …! Buta …!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak peduli dan tidak menanyakan apabila dia tidak ada dan (mereka) bersikap acuh kalau dia ada di tengah mereka. Bahkan, di kala orang tuanya tidak ada dirumah, sering kali ia menjadi bulan-bulanan saudara-saudaranya, yaitu ketika dia disuruh berjalan lalu terantuk dan terjatuh, maka ia menjadi bahan tertawaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, dia termasuk anak yang lincah dan gerakannya ringan. Kemauannya keras dan mempunyai ketabahan, dan Allah telah mengaruniakan kepadanya kecerdasan dan kemauan yang keras. Dia selalu berupaya melakukan apa saja yang dia mau. Dia ingin mengerjakan lebih banyak daripada yang dilakukan orang normal.&lt;span class="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Ayahnya adalah orang yang miskin. Dia memandang anaknya yang buta ini hanya menjadi beban saja, karena dia tidak mendapatkan manfaat dan keuntungan darinya sebagaimana saudara-saudaranya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, salah seorang temannya datang ke rumah. Sudah beberapa tahun mereka tidak jumpa. Dia lalu mengadukan kepada temannya tersebut perihal anaknya yang buta bahwa anak itu tidak berguna, bahkan mereka sekeluarga selalu sibuk mengurus dan melayaninya, sehingga menghambat sebagian pekerjaan mereka. Tamu tersebut menyarankan agar anak itu dikirim ke Riyadh agar mendapat jaminan makanan dari jamuan yang selalu diadakan oleh Ibnu Sa’ud (Setelah keamanan dalam negeri di seluruh Jazirah Arab terkendali di tangan Raja Abdul ‘Aziz rahimahullah, dia mengadakan jamuan khusus untuk memberi makan kaum fakir miskin dan orang orang terlantar. Pada masa itu, jamuan tersebut sangat terkenal), sehingga (ia) akan selalu bertemu dengan orang orang yang mengasihinya setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide tersebut diterima dengan baik oleh ayahnya. Ketika ada seorang tukang unta tampak sedang membuat kayu ke atas punggung untanya yang biasanya menjual barang dagangan di Riyadh, ayahnya menghampiri tukang unta dan berkata, “Aku hendak menitipkan anakku ini padamu. Bawalah dia pergi ke Riyadh dan saya beri kamu dua riyal, dengan syarat: kamu taruh dia di masjid, dan kamu tunjukkan di mana letak jamuan makan dan sumur masjid agar dia bisa minum dan berwudhu, dan serahkan dia kepada orang yang mau berbuat kebajikan kepadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini penuturan kisah sang anak setelah (ia) dewasa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dipanggil ayahku -rahimahullah-. Pada waktu iu, umurku baru mendekati 13 tahun. Beliau berkata, “Anakku, di Riyadh itu ada halaqah-halaqah ilmu, ada jamuan makan yang akan memberimu makan malam setiap hari, dan lain sebagainya. Kamu akan betah disana, insya Allah. Kamu akan ayah titipkan pada orang ini. Dia akan memberitahu kamu apa saja yang kamu inginkan ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, aku menangis keras-keras dan mengatakan, “Benarkah orang sepertiku tidak memerlukan lagi keluarga? Bagaimana mungkin aku berpisah dengan ibuku, saudara-saudara, dan orang orang yang aku sayangi? Bagaimana aku akan mengurus diriku di negeri yang sama sekali asing bagiku, sedangkan di tengah keluargaku saja aku mengalami kesulitan? Aku tidak mau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dibentak oleh ayahku. Beliau berkata kasar kepadaku. Selanjutanya, beliau memberiku pakaian-pakaianku seraya berkata, “Tawakal kepada Allah dan pergilah …. Kalau tidak, kamu akan aku begini dan begini ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara tangisku makin keras, sementara saudara-saudaraku hanya diam saja di sekelilingku. Selanjutnya, aku dibimbing oleh si tukang unta sambil menjanjikan kepadaku hal-hal yang baik baik dan meyakinkan aku bahwa aku akan hidup enak di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun berjalan sambil tetap menangis. Tukang unta itu menyuruh aku berpegangan pada ujung kayu di bagian kela
